8. Kantin Bareng

1.6K 49 0
                                    

Andini masuk ke kelas dengan wajah yang tertekuk, dan bibir yang mengerucut beberapa senti.

"Kenapa lo din, muka lo kusut bener sih?" tanya Arina kepada Andini yang sudah duduk disebelah nya.

"Gue ketemu lagi sama si manusia es" jawab Andini dengan cepat.

Kedua sahabat nya menatap Andini dengan bingung, kenapa ia bisa berurusan dengan the most wanted nya sekolah mereka.

"Ada masalah apa lagi lo sama dia?" tanya Amanda.

"Perasaan gue gak pernah punya masalah sama tuh orang"

"Gue rasa masalah yang waktu lo nabrak dia dikelas nya" sambung Arina.

"Hah,,,masalah yang itu...cuma masalah kayak gitu kenapa masih diperpanjang sih, gue juga kan udah minta maaf sama tuh orang" jawab Andini dengan perasaan yang bingung.

"Lo belum kenal Aldi sih din, sebelum nya gaada yang berani buat masalah ke dia, karna mereka semua takut sama Aldi."

"Jangan kan kita, guru-guru dan orang tua nya aja gak berani buat masalah atau sekedar mencegah nya." sambung Amanda.

"Masa iya,,,nyeremin amat sih" jawab Andini

"Apa yang dibilang kak Arkan bener juga" batinnya

"Ya... walaupun penampilan nya Aldi urakan gitu, dia tuh orangnya menghormati wanita banget loh, udah itu tau etika."sambung Arina dengan senyum nya.

"Jangan bilang lo naksir sama Aldi!" tanya Amanda dengan nada menantang.

"Engga engga,,, gue cuma kagum aja sama tuh orang" ucap Arina menjelaskan.

"Jangan jangan Aldi naksir lo din?" tanya Arina antusias.

"Apaan sih,,,mana mungkin lah"
"Gue takut dia ngelakuin sesuatu ke gue" ucap Andini dengan wajah gelisah.

"Positif thinking aja sayang" kata Arina dengan mengelus punggung Andini.

Sudah lama mereka berbincang bincang di kelas. tapi,,,tidak ada guru yang masuk.

"Guys,,, bu Sinta gak bisa masuk ke kelas karna ada urusan penting" lapor Azka wakil ketua kelas XI IPA 1.

seketika sorakan senang dari teman-teman kelas menjadi riuh, karna kabar yang Azka sampaikan.

"Untung aja bu Singa gak masuk, jadi gue gak perlu gupek tanya lo orang jawaban dari pr yang kemarin" sambar Arina.

"Ahh,,, dasar lo. Nama nya juga pr ya pasti harus dikerjain dirumah, bukan disekolah" sambung Andini.

Kurang dari 10 menit lagi bel istirahat berbunyi, tetapi kelas kelas yang tidak ada guru masuk ke kelas nya memutuskan untuk ke kantin sekarang, tanpa menunggu bel berbunyi.

"Hmm,,,din ke kantin bareng gue yuk" ajak Dino kepada Andini

"yaudah yuk" ucap Andini menerima tawaran Dino

"Jadi yang diajak ke kantin bareng cuma Andini ya,,it's oke oke" celetuk Arina.

"Yaudah ayok kalo lo mau ikut ke kantin juga" sambung Andini

"Kita nanti nyusul kalian, mendingan kalian duluan aja" jawab Amanda yang sekilas melotot kearah Arina.

"Yaudah kalo gitu,, gue ke kantin bareng Dino" ucap Andini dan berjalan dengan Dino meninggalkan Arina dan Amanda.

Arina dan Amanda menatap kepergian kedua teman nya dengan senyum manis nya.

***

"Kantin nyuk" ucap Aldi kepada kedua sahabat nya,

Aldi kemudian pergi meninggalkan Rian dan Rey.

"Gillaa! tuh orang makin dingin aja"

"Udah kayak sikap nya si doi aja" sambung Rey.

"emang lo punya doi?" tanya Rian dengan datar

"Siapa sih yang gak mau sama abang Rey yang superrr ganteng ini" jawab nya dengan sok yakin.

"Palingan juga yang mau sama lo si Siti, tetangga sebelah" jawab Rian dengan kasar dan tawa yang meledak

Dbukkk
"Kurang ajar lo" jawab Rey dengan memukul kepala Rian dengan buku yang ada diatas meja.

"Emang bener ucapan gue" ucap Rian dengan meringis memegang kepala yang dipukul dengan Rey.

"Dah ah,,,mending gue susul Aldi, daripada ladenin lo" ucap Rian sambil berlari keluar kelas.

"Eh,, nyuk tungguin gue dih" ucap Rey yang berlari menyusul Rian.

Mereka berdua menghampiri Aldi yang duduk sendiri dimeja kantin yang biasa nya mereka duduki.

Tak lama Rian dan Rey duduk di samping Aldi, tiba-tiba saja kembaran si pria es ini datang, dan ikut bergabung dengan mereka.

"Anakan Landak kenapa ikut-ikut kita" celetuk Rey dan mendapat tatapan tajam dari Aldi.

"Hehe,,,gue cuma bercanda doang" ucap Rey dengan tawa yang terlihat diwajahnya.

"Haha,,, Mampuss lo!" timpal Aldo dengan wajah bahagia.

***

AldiniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang