29. Things We Left Behind

38.2K 3.1K 1.7K
                                        

a/an: Hey! It's me, your Capt. Happy reading 🤠

⋆。 ゚☁︎。 ⋆。 ゚☾ ゚。 ⋆

Selain berinteraksi dengan penduduk tetap di zona nyamannya, Nicholas Dean Pranaja sempat memiliki satu cara efektif lain untuk meredam kekalutan yang tengah memenuhi ruang di kepalanya. Terutama sejak Naja tinggal sendirian di kost.

Yaitu menamai bintang-bintang di langit malam Bandung dengan hal-hal yang paling sering ia rindukan dari Jakarta.

Kucing putih lucu peliharaan Neva, masakan-masakan rumah bunda, Marco-nama gitar tua berwarna coklat pemberian sang ayah, warkop burjo yang sering ia datangi bersama Sangkara, juga ... judul film French yang sering Naja tonton di akhir pekan bersama Amora.

Namun sayang, menamai bintang-bintang tak lagi membuat Naja merasa tenang. Sejak satu tahun lalu, tepatnya pasca penembakan oleh salah satu aparat pada kakak perempuannya yang tengah melakukan aksi demo, cowok bermata hazel itu lebih suka menghirup nikotin dari rokok.

Hft...

Dan sekarang Naja menghela nafas kecewa mendapati rokok pada bungkus Marlboro Merah itu hanya tersisa satu batang, sementara rokok pertamanya baru saja ia buang setelah terbakar habis. Pergerakan Naja yang kembali menyelipkan rokok di bibir dan membakar ujungnya dengan pemantik terpaksa terhenti, begitu teriakan melengking Amora terdengar dari dalam kamar mandi.

"Najaaa!"

Si pemilik nama langsung memasukkan kembali pemantik api dan menyimpan rokoknya yang belum sempat terbakar ke belakang telinga.

"Naja, cepetan ke siniiii... "

"Kenapa?" tanya Naja yang telah berdiri di luar pintu kamar mandi.

"Bantuin aku berdiri, aku mau sikat gigi. Kaki aku masih lemes," jawab Amora memancing decakan malas dari Naja. Namun walaupun demikian, cowok itu tetap masuk setelah memastikan Amora memakai handuk kimono-nya dengan benar.

Terlihat Amora tengah terduduk lemas di pinggiran bathtub. Fakta jika wajah pucat dan rambut panjang gadis itu terlihat begitu basah sontak memancing Naja mengeraskan rahang.

"Lo mandi keramas?" lontar Naja dengan dahi berkerut samar.

Amora mengangguk polos. Dan begitu Naja berjalan mendekat, gadis itu langsung menyandarkan kepalanya ke perut Naja.

"Gue siapin lo air hangat buat lo seka doang! Siapa yang izinin lo buat berendam di bathtub, huh?" tuntut Naja sekali lagi.

"Badan aku gerah, aku kan belum mandi dari pagi. Udah dong, jangan marah-marah. Nanti kepala aku tambah pusing," bisik Amora mulai memejamkan kedua mata.

Fyi: Abby Rachel Amora resmi melakoni peran gadis lemahnya, sambil diam-diam tersenyum saat menghirup dalam aroma parfum wood sage and sea salt yang menguar dari kemeja Naja.

Our drama queen knows how to play well.

"Gue enggak bakal marah, kalau lo enggak keras kepala. Sekarang bangun! Katanya lo mau sikat gigi?" Naja menyentuh kedua pundak Amora, agar gadis itu melepaskan pelukan mereka dan lekas berdiri.

"Gendong!" rengekan manja Amora terdengar seperti perintah di telinga Naja.

"Kalau ternyata ini cuma akal-akalan lo buat━" Ancaman Naja terhenti begitu Amora menutup bibirnya dengan telapak tangan. "Naja, mulut kamu bau rokok. Ayo sikat gigi dulu sebelum makanan kita dateng!"

Ah ... jika saja Amora tak mengingatkan, Naja pasti lupa telah memesankan cream sup untuk Amora santap setelah mandi.

Sementara itu Naja tak menggendong Amora sesuai yang gadis itu mau, tetapi Naja merengkuh pundak Amora ketika gadis itu berjalan ke arah wastafel. Naja juga tak bergeser se-inchi pun dari sisi tubuh Amora agar ballerina itu bisa menyandarkan kepala yang 'katanya' pusing selama menyikat gigi.

Drunk Text (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang