𝐓𝐡𝐞 𝟏𝟒𝟎𝟐 series | Genre: Young Adult - Romance
Semua berawal dari kecerobohan 𝐍𝐢𝐜𝐡𝐨𝐥𝐚𝐬 𝐃𝐞𝐚𝐧 𝐏𝐫𝐚𝐧𝐚𝐣𝐚 yang mengirimkan pesan text dalam keadaan mabuk. Kejadian itu membuat Naja harus berurusan dengan ballerina paling cantik...
a/n: Ambil posisi nyaman sebelum membaca. Part ini cukup panjang (7.598 kata). This is my last hello, so ... happy reading kidz! 🖤
⋆。 ゚☁︎。 ⋆。 ゚☾ ゚。
2 bulan berlalu.
Memasuki akhir bulan Februari, Naja harus menerima diri bahwasanya ia mengulang semester pendek sebelum bisa mengikuti KKN dan magang akibat terlalu banyak mendapatkan poin pelanggaran serta membolos kuliah tanpa izin. Seperti yang diketahui; Naja mengalami masa sulit setelah kepergian Neva untuk selama-lamanya.
Namun tak apa, Naja menganggapnya sebagai pelajaran hidup. Pelan-pelan Naja mengikhlaskan segalanya. Kalau kata lagu Bruno Major: It's time to let a good thing die.
🎶
| You can't ask a tree to blossom If it isn't spring Don't leave the house at midnight And expect the birds to sing If you're lookin' for a reason You needn't even try Sometimes it's time to let a good thing die |
🎶
"Pesanan atas nama Naja!"
Click!
Naja mematikan rekaman audio yang berbunyi melalui earphone putihnya. Cowok jangkung itu lantas berdiri untuk mengambil pesanan coffee dan donatnya yang sudah jadi.
"Terima kasih mbak."
"Selamat menikmati, semoga datang kembali~" Suara ramah dari pegawai perempuan tersebut membuat Naja tersenyum, langkah kaki Naja yang terbalut sepatu Nike itu pun melenggang keluar dari kedai.
Tujuan utama Naja sekarang ini adalah IBC (International Ballet Center). Amora dan tim Odette Ballet Jakarta tengah ada centre practice untuk pertunjukan di bulan April dan Juli. Katanya ada event besar. Sebelum berangkat, Naja menyempatkan diri membeli satu buket bunga mawar merah untuk si lucu kesayangannya.
15:39 WIB.
Melalui text, Amora meminta Naja menunggunya di rooftop gedung.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Najaaaaa!!!"
Panggilan ceria yang dibarengi dengan suara langkah kaki mendekat tersebut sontak membuat Naja menoleh dan tersenyum lebar. Secepat terpaan angin―begitu datang Amora menghambur ke pelukan Naja sambil berjinjit agar bisa meraih leher cowok itu.
"Kangen."
Gadis itu meloloskan bisikan kecil, bercampur tawa bahagia begitu Naja dengan sigap membalas pelukan Amora tak kalah erat. "Aku juga kangen kamu." Cowok bermata hazel tersebut mengangkat tubuh Amora sebelum membawa gadis itu berputar-putar kecil dalam rengkuhan hangatnya.