23. Back To December

32.4K 2.5K 565
                                        

Baik kan aku update lagi? Selamat membaca yaa, semoga suka walau cuma 1.500 kata ❤️

⋆。 ゚☁︎。 ⋆。 ゚☾ ゚。 ⋆

"Naja?"

Sosok laki-laki bertudung hoodie hitam yang semula berbicara melalui ponsel tersebut mengangkat pandang. Tepatnya ke arah gadis asing yang kini berdiri di hadapannya.

"Sorry, mbaknya bilang apa tadi?"

Dia Gerry. Mengangkat sebelah alisnya dengan bingung akan kebisuan Amora ketika cowok itu membuka tudung kepalanya. Menampakkan wajah yang jelas bukan menjadi tujuan Amora.

"Halo ... mbak?" telisik Gerry sambil melambaikan telapak tangan besarnya ke depan wajah Amora.

Bukannya lekas sadar atau bersuara, gadis berambut red cherry di hadapan Gerry itu justru menangis. Aneh? BANGET COK! Gerry sampai merinding dan takut. Namun cowok itu tak tega dan kembali bertanya keadaan Amora secara baik-baik.

"Mbaknya gapapa?"

Di lain sisi, Amora langsung mengerjap begitu menyadari halusinasinya terpecah. "Maaf, gue salah orang."

Pada sekon setelahnya Amora melangkah pergi meninggalkan sosok laki-laki yang kini menatap punggungnya dengan sorot kebingungan.

"Itu cewek kenapa, dah? Gue jadi ngeri, anying." Gerry berbising bingung, sebelum beralih ke panggilan telphonenya dengan Sang Bunda tersayang.

Tiga menit berlalu. Gerry yang selesai melakukan panggilan suara dengan bundanya pun kembali masuk ke gedung teater. Tepatnya menjumpai kawannya yang tengah menunggu di lobi.

"Sorry lama, Ja. Gimana? Udah dapet tiketnya buat hari Senin?"

"Aman. Gue juga udah booking tiket sampai Rabu."

Lawan bicara Garry adalah Naja, yang malam itu berpenampilan cukup rapi dengan kemeja putih formal―berlengan panjang yang digulung hingga atas siku. Dua kancing teratas kemeja cowok dengan rambut kecoklatan berpotongan comma style itu sengaja tak terkancing, sehingga memperlihatkan tattoo burung gereja di tulang selangkanya.

Kedatangan Gerry dan Naja ke IBC bukan lah tanpa tujuan, mereka diminta oleh ketua fakultas teknik, biasa disapa Bang Joel, guna mencari talent yang sekiranya cocok dan dapat mereka gaet untuk memeriahkan Engineering Festival dalam rangka dies natalis pada 2 Maret tahun depan.

"Bro, lo tau kagak? Tadi gue ketemu cewek aneh banget. Masa tiba-tiba dia berdiri di depan gue kayak dedemit."

Gerry bercerita dengan menggebu-gebu ketika mereka berdua berjalan menerjang gerimis, menuju lahan parkiran.

"Terus cewek itu natap gue daleeeem banget. Sumpah! Tatapannya kayak di anime-anime gitu. Gue kira dia fall in love at first sight kan ke gue, eh ... pas liat muka gue malah nangis. Kira-kira kenapa ya?" monolog Gerry itu membuat Naja terkekeh singkat.

"Muka lo nyeremin berarti, Ger."

"Ck, bangke! Tapi geulis euy itu cewek. Mata dia itu unik, agak monolid kayak orang Korea."

Langkah Naja spontan terhenti.

"Monolid?" ulang Naja dengan suara cukup pelan.

"Hooh, terus rambutnya merah macam Ariel mermaid." Penjelasan Gerry selanjutnya membuat ekspresi wajah Naja tak setegang tadi.

Rambut merah, ya? Berarti bukan dia, pikir Naja kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

"Cantik banget pokoknya, Ja. Kayak bidadari," celetuk Gerry tak henti-hentinya memuji gadis tadi. Sialnya, Naja tak menunjukkan gelagat peduli dan hanya berkata, "Oh."

Drunk Text (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang