Part 29

40 2 1
                                    

"Ara! Tunggu."

Ara pun berhenti sejenak. Ia sangat mengenali suara tersebut. Ariz. Ya, yang memanggilnya kini adalah Ariz. Cowok yang beberapa bulan ini menjauh darinya entah karena apa.

Ariz kini telah berada didepan Ara, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung harus darimana memulainya.

"Ngapain Riz?" Tanya Ara.

"Mmmm, pu-pulang bareng yuk?"

Ara melongo seketika,"pu-pulang...bareng?"

Ariz mengangguk yakin.

"Terus gimana dengan Shella?" Tanya Ara hati-hati, ia tidak ingin Ariz tahu kalau sebenarnya Ara cemburu.

"Nanti gue jelasin. Jadi, mau gak pulang bareng?" Tawar Ariz sekali lagi.

Ara mengangguk samar. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Ara saat ini. Bahagia. Setelah sekian lama jarang pulang bersama Ariz dan kini ia bisa merasakan pulang bersama Ariz, cowok yang selalu memenuhi otaknya.

Masing-masing dari mereka tidak ada yang mau buka suara. Canggung. Padahal sekitar mereka sangat ramai. Mereka berjalan menuju parkiran. Tak sengaja mereka bertemu dengan Shella. Ara menunduk, ia takut Shella akan berbuat yang macam-macam terhadapnya mengingat ia sedang bersama Ariz.

"Hai, Riz. Hai, Ara," sapa Shella dengan riangnya.

"Hai juga, Shel," jawab Ara dan Ariz bersamaan.

"Gue duluan ya, good luck ya, Riz. Gue tunggu pokoknya," Shella menepuk pundak Ariz, setelah itu ia berlalh dari hadapan keduanya.

"Kalian—"

"Makanya, ayo ikut gue. Gue bakal jelasin semuanya."

---------

Taman. Ya, mereka kini telah sampai di taman. Taman favorit mereka berdua. Di taman ini pula, Ara dan Ariz mengenal satu sama lain. Ara menghirup udara sore hari. Taman ini jauh dari jalan raya, maka dari itu, taman ini sangat indah dan tenang.

"Duduk dibawah pohon itu yuk?" Ajak Ariz. Ara mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju bawah pohon yang menghadap ke danau.

"Mau cerita apa?" Ara memberanikan diri menanyakan hal itu kepada Ariz.

"Sebenernya, gue sama Shella udah putus."

"Putus?"

"Iya. Gue sama dia sebenernya gak ada apa-apa."

Ara bingung, banyak sekali hal yang ia tidak tahu antara Ariz dan Shella, "gak ada apa-apa? Maksud lo gimana? Kalo gak ada apa-apa kenapa kalian jadian?"

Ariz menyandarkan punggungnya ke pohon,"gue gak suka sama dia dan juga sebaliknya, dia gak suka sama gue. Dia nembak gue di kantin karena dia dulu main game sama temen-temennya. Salah satu isi dari game itu ya temennya minta dia buat nembak cowok yang ada di kantin. Kebetulan cowok yang ada di kantin itu cuma gue, karena dulu itu gue ke kantin pas jam pelajaran. Ya udah, dia nyamperin gue dan ngomong kalau dia suka gue," jelas Ariz.

Ara terkejut. Jadi, selama ini hubungan Ariz dan Shella hanya sebuah permainan.

"Kenapa lo nerima dia?"

"Soal itu, gue gak bisa jelasin sekarang. Intinya, gue nerima dia itu karena gue pengen ngelupain seseorang yang gue suka, karena temen gue juga suka sama dia."

Ara tahu siapa yang dimaksud oleh Ariz. Yang dimaksud adalah dirinya. Ara bingung haruskah ia bahagia atau sedih. Bahagia kalau secara tidak langsung Ariz mengatakan suka kepadanya, sedih jika tahu kalau Ariz pernah meninggalkannya dan menjadi pacar oranglain walaupun hanya permainan semata.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 06, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

If You Know [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang