24

1.7K 438 49
                                        



                TERNYATA JIMIN ITU orangnya asik juga; kata Christa dalam hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

                TERNYATA JIMIN ITU orangnya asik juga; kata Christa dalam hati. Mungkin gaya pacaran om-om kece kayak gitu kali, ya. Nggak neko-neko, bener-bener jalan-jalan sambil pegangan tangan. Terus cerita hal-hal yang Christa nggak pernah tau.

Misalnya, Jimin tadi cerita kalau jaman dulu itu (jaman ayah sama ibunya) kalau kencan biasanya nonton di Metropole, atau beli ice cream di Cilincing. Terus, Jimin juga cerita kalau Grand Teater yang ada di Senen itu udah dibangun sejak jaman Belanda, kalau nggak salah 1930.

"Nah, kalau jamannya Om?"

"Saya sama kamu cuma beda sepuluh tahun doang, Dek," katanya, mengayunkan tangan mereka yang saling menggenggam. "Nggak beda jauhlah."

"Kayaknya kalau jaman dulu itu seru ya pacarannya."

Jimin mengangguk, "Mau denger sesuatu nggak?"

"Apa?"

Tiba-tiba saja Jimin memeluk Christa dari belakang, menaruh dagunya di pundak gadis itu, "Apa yang bisa kami rasakan, tapi tak usah kami ucapkan. Apa yang bisa kami pikirkan, tapi tak usah kami katakan."

(Syair Elegi; Rivai Apin)

Dahi Christa berkerut diikuti senyum di bibir, "Itu apa?"

"Gombalan ayah saya dulu buat bunda saya."

Christa terkekeh, tawanya meledak─bukan bermaksud meledek, hanya tertawa karena begitu senang. "Serius?"

Jimin mengangguk, "Dulu jaman kuliah ayah saya suka nyelipin beberapa bait puisi ke tangan bunda saya kalau selesai kelas. Pura-pura papasan gitu." Christa terkekeh, "Terus besoknya bunda saya yang nyelipin puisi ke tangan ayah saya."

"Bunda lo cerita, Om?"

Jimin mengangguk, "Kalau malam minggu suka main ke rumah, bawain ikan pindang."

Ada rasa getir yang Christa rasakan; kayaknya hidup jadi Om Jimin itu enak banget. Punya bunda yang perhatian, punya kakak, nggak kesepian lagi. Sedangkan Christa, jangankan tau kisah hidup orangtuanya, ngobrol aja jarang. Mama sama papanya lebih sering dinas dan jarang pulang.

"Dek?"

"Hm?" Christa mendongak, menjumpai tatapan hangat dari Jimin, "Kenapa?"

"Bright star, would  I were steadfast as thou art. Not in lone splendour hung aloft the night."

(Poem by Keats)

"Halah," komentar Christa. "Ngutip dari mana, tuh?"

"Dari buku," jawab Jimin, kembali menjajarkan diri di samping Christa seraya menggenggam jemari gadis itu. "Tapi kalimat di bukunya persis dengan isi hati saya. Terus saya harus gimana, Dek? Masa hati saya plagiat, sih."

"Jayus!" kekeh Christa. Meski begitu dia senang. Baru kali ini diajak jalan-jalan (jalan kaki) muterin kawasan Sudirman yang lumayan, tapi kalau berdua rasa capeknya tuh berasa hilang. "Ada kutipan pusi yang bagus lagi nggak?"

"Ada," balas Jimin. "Tau puisinya Lord Byron yang she walks in beauty?" Christa menggeleng, "Pasti kamu pura-pura nggak tau biar bisa saya gombalin, kan?"

Ini, nih. Tua-tua percaya dirinya bukan main. Bikin Christa jadi sebel, kan. Tapi, Jimin itu kalau soal menyenangkan hati perempuan juaranya. Mau sesebel apa pun, Christa nggak akan bisa sebel kalau udah kena perangkap Jimin. Soalnya Jimin langsung nyium tangan Christa sambil ngomong,

"She walks in beauty, like the night of  cloudless climes and starry skies."

Hati Christa langsung hangat; bukan karena gombalannya, tapi karena tatapan Jimin yang hangat dan teduh. Yang bahkan sampai mengenai sudut-sudut hatinya. Bibir gadis itu tentu berkedut, tersenyum manis, "I think, I owe you one."

Alis Jimin mengerut, "For what?" Christa cuma senyum, "Puisi yang tadi."

"No."

"So?"

Kalau biasanya yang menyeringai itu Jimin, kali ini justru Christalah yang tersenyum, "Secret," bisiknya, sekilas berkedip sebelum berlari meninggalkan Jimin dalam keheranan.

... feels like flying, what you doin' to me, Uncle?



>>>

Om Jimin ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang