بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Happy Reading!
•••
Aku berlari menuju ruangan kenaga 209 bersama Bona dan Alisha di belakangku. Napasku terengah-engah saat tiba di ruangan itu. Jantungku berdegub kencang melihat ruangan ramai. Ternyata pasienku itu sudah ditangani oleh dokter lain. Dan lebih parahnya di ruangan itu ternyata ada Profesor Ali dan satu sosok yang tak ingin kusebut namanya seumur hidupku itu. Yah, Dokter Akbar.
Segera mungkin aku merapikan pakaianku saat semua pandangan tertuju padaku. Profesor Ali menatapku dari atas sampai ke bawah. Dia orang yang paling ditertuakan di RS Central Medika ini. Of course! Dia itu sudah profesor, seniorku di sini dan dia adalah Direktur Utama RS Central Medika. Nasibku memang tidak pernah beruntung sejak aku lahir.
Profesor Ali menatap pria di sampingnya, “Dokter Akbar?”
“Iya Prof?” jawabnya. Dokter Akbar sempat meliriku sejenak sebelum menjawabnya. Dia yang kubenci setelah Tuhan, dunia, dan napi itu. Jabatannya sebagai Kepala Medis membuatku mau tak mau harus menuruti perintahnya. Lihat saja, kalau bukan karena peraturan rumah sakit tak akan sudi aku melihat batang hidungnya.
“Bagaimana bisa rumah sakit ini memperkerjakan dokter seperti ini? Jika semua dokter seperti dia akan dapat pastikan semua perawat mendorong brankar pasien ke ruang jenazah.” cercanya suka hati.
Apa dia pikir aku tidak profesional? Apa menurutnya aku berlari dari lantai satu sampai sampai lantai empat itu hanya untuk bermain main? Hah! Aku mengepalkan tanganku geram. Dia berjalan melewatiku begitu saja. Jika aku membawa pisau bedah sekarang sudah kupastikan itu tertancap pada organ hatinya!
Profesor Ali memang sangat terkenal dengan keahlian bedahnya. Dia juga sangat terkenal bermulut tajam lengkap dengan bumbu sindiran yang menyayat hati. Hah, sindiriannya memang sangat tajam tapi bagiku itu tidak menyayat hati. Karena hatiku sudah mati membeku.
Bona dan Alisha hanya bisa terdiam tanpa suara. Batin mereka pasti berkata aku beruntung pasien itu selamat jika tidak mungkin mereka sulit mendeskripsikan apa yang akan terjadi padaku. Profesor Ali dan Dokter Akbar pasti yang menyelamatkannya. Aku tak tahu spesifiknya bagaimana mereka bisa ada di sini.
“Zoyaa...”
Berhenti memanggil namaku dari mulut kotormu itu! Aku ingin sekali berteriak di depan wajahnya dan memaki dirinya sesuka hatiku. Yah, Dokter Akbar yang memanggilku. Aku masih diam mempertahakan wajah datarku di depannya.
“Ayo kita bicara di ruangan saya.” ajaknya. Lalu berlalu pergi tanpa peduli aku mau atau tidak. Diumurnya yang sudah menua dia masih terlihat gagah dan berkarisma. Ah, berhenti berpikir dia seperti itu! Aku harus ingat apa yang sudah dia lakukan padaku. Bona dan Alisha memajukan dagunya memintaku mengikuti Dokter Akbar.
Dengan malas aku mengikutinya sampai ke ruangan kepala medis. Dia duduk sambil melipat tangannya di atas meja memandangku begitu dalam. Jangan berpikir aku akan memaafkannya dengan apa yang sudah terjadi 12 tahun silam.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” katanya padaku.
Nak? Coba ulangi lagi. Apa dia memanggilku ‘anak’? Aku bahkan merasa mual sekarang. Dia bukan ayah kandungku! Peduli apa dia tentangku?! Aku masih diam memandang lurus ke depan.
“Zoya...” panggilnya. Aku tak mengubrisnya.
Dia menegakkan punggungnya menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zoya
Espiritual[SELESAI] Zoya Raizel Bakri. Zoya, begitu aku dipanggil. Wow, siapa yang tak kenal diriku? Aku adalah bagian dari tangan Tuhan tapi mereka lebih mengenalku sebagai tangan kematian. Aku adalah bagian dari tangan Tuhan tapi aku membenci Tuhan. Jika...
