بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرّ َحِيم
Happy Reading!
•••
Bak air es tumpah di atas kepalaku. Mataku mendelik melihat perawat ramai menghampiri ranjang Rania. Aku dan Alisha berlari sekuat tenaga menghampiri Rania. Tidak, tolong jangan katakan ini nyata. Aku bermimpi kan? Oh malangnya Raniaku.
“Apa yang kalian lakukan!” bentak Alisha.
Untuk pertama kalinya aku mendengar suara Alisha setegang dan sekeras itu bahkan hampir memekakkan kedua telingaku. Aku mendorong perawat yang tampaknya masih magang. Dia terlihat gemetar melihat kejadian ini dan aku pun begitu. Kakiku hampir tak bergerak melihat layar monitor yang hanya menampilkan garis lurus beriringan dengan bunyi nyaring yang mendebarkan.
“Alisha lakukan comm
presion!” perintahku setelah mengecek layar monitor dan salah satu perawat memakaikan alat bantu napas pada Rania. Tanganku bergetar namun kukepalkan dan mencoba tegar.
Alisha melakukan compresion sambil naik ke ranjang pasien. Peluh keringat mulai membanjiri Alisha sedangkan aku keringat dingin melihat wajah pucat Rania. Mataku mulai berkaca-kaca, entah mengapa aku jadi cenggeng sekarang.
“Panggil Dokter Jailani!” tintahku pada perawat magang itu. Dia gelagepan dan langsung berbalik. Sedangkan perawat lain sudah lebih gesit dan mendatangiku dengan raut pasrah, “Dokter Jailani sedang di ruang operasi, Dok!”
Sial! Aku terlalu takut untuk menangani Rania. Takut aku membuatnya seperti Pak Wahab.
“Berhenti Alisha. Saya akan periksa detak jantungnya.”
Alisha berhenti. Aku melihat monitor yang masih terus menunjukkan garis lurus. Tidak ada perubahan! Alisha bahkan tak berkedip menatap monitor sembari melihatku.
“V-fib!” seruku menyatakan bahwa ada gangguan pada jantung yang tak berdenyut seperti seharusnya. Sementara Alisha melanjutkan commpresion. Aku dapat melihat air mata Alisha gugur. Sontak perawat langsung menyerahkan defibrillator padaku. Sebuah alat kejut jantung yang dapat mengembalikan irama jantung pasien.
Aku langsung mengoleskan jel pada permukaanya, “150 joule.” suruhku dan perawat itu memutar sebuah tombol yang berfungsi mengisi ulang daya defibrillator. Tanpa aba-aba lagi Alisha menghentikan commpresion dan membiarkan aku mengambil ahli.
“Shot!”
Aku menempelkan alat itu dada Rania dan tubuh Rania terangkat karena terkena rangsangan listrik dari defibrillator. Aku mengangkat alat itu sejenak dan melihat layar monitor.
Nihil.
“Alisha, compresion!”
Irama jantung Rania belum kembali. Alisha berdecak kesal sambil melakukan compresion lagi. Perawat yang memegang kendali untuk saluran pernapasan Rania langsung memasang lagi alat itu untuk membantu Rania. Saat defibrillator menyentuh pasien maka semua paramedis harus menjauh dan tak berkontak fisik dengan pasien.
“Saya akan mengambil ahli.” sahut seorang perawat laki-laki yang entah darimana mengantikan Alisha yang mulai kelelahan dan berkurangan tenaganya. Alisha turun sambil mengambil napas sejenak. Semua kejadian ini terjadi dengan begitu cepat dan cekatan. Mungkin jika kuceritakan akan terlihat lambat tapi percayalah semua adegan ini begitu cepat.
“200 joule!” titahku kembali. Perawat itu menaikkan daya.
“Shot!”
Tit....
KAMU SEDANG MEMBACA
Zoya
Spiritual[SELESAI] Zoya Raizel Bakri. Zoya, begitu aku dipanggil. Wow, siapa yang tak kenal diriku? Aku adalah bagian dari tangan Tuhan tapi mereka lebih mengenalku sebagai tangan kematian. Aku adalah bagian dari tangan Tuhan tapi aku membenci Tuhan. Jika...
