بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Happy Reading!
•••
Cahaya mentari baru saja menghapus setiap embun yang membasahi bumi. Nikmat Allah turun pada apa saja yang Dia kehendaki. Pemilik langit dan bumi melarutkan kasih sayangnya bersama teriknya matahari yang berkobar.
Zoya keluar dari apartmentnya dengan rambut terkurir kuda. Hari sudah beranjak siang namun Zoya masih santai saja. Mobil jazz merah miliknya melaju dengan kecepataan sedang di jalan raya. Anehnya, wajah datar abadi milik Zoya masih saja setia terpahat di wajahnya. Seperti sudah melekat dan mendarah daging.
Lampu merah terasa begitu lama ditambah kemacetan yang sudah merajela di ibu kota. Rumah SakitCentral Medika sepertinya memang begitu strategis terletak di tengah kota. Profesor Ali, Dokter Akbar dan pemegang saham lainnya pasti begitu cerdas memikirkan letak geografis rumah sakit ini.
Zoya menginjak gasnya cepat saat lampu berubah warna hijau. Belum sampai lima menit Zoya mengendarai mobil melewati persimpangan jalan jazz merah miliknya kembali terkunci dalam kemacetan lagi. Ibu kota memang selalu menyebalkan. Zoya melonggo ke depan sambil menekan klaskonnya keras.
Tampak mobil dideretannya terhenti. Hati Zoya terus bertanya-tanya. Ada apa gerangan? Namun tidak biasanya kawasan ini macet sampai separah ini. Zoya membuka kaca mobilnya. “Permisi Mas, ada apa ya?” tanya Zoya pada pejalan yang melintas.
“Gak tau Mbak. Macetnya sampe ke depan sana.”
Lantas Zoya membuka seatbeltnya dan turun dari mobil. Kakinya gatal melangkah ke depan sana melihat apa yang terjadi. Begitu banyak kuda besi yang terperosok dalam kemacetan yang tak berujung ini. Bahkan lampu merah lima meter ke depan sama sekali tak beroperasi dengan baik.
Zoya menghentikan langkahnya saat melihat sebuah truk melintang di jalan raya. Alis Zoya mengerut. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Bola matanya memonitor ke seluruh jalan. Semua orang tampak begitu marah. Truk itu hanya terparkir melintang di jalan raya. Posisinya tak terguling atau bahkan terperosok jatuh. Truk itu baik-baik saja.
Supir truk itu mengarahkan para pengemudi yang marah dari jalur Zoya untuk menepi dan berhenti mengoceh. Tunggu, firasat Zoya berkata ada yang lain. Kaki Zoya begitu lebar melihat di balik truk itu. Kakinya langsung berhenti. Pupil matanya sontak membulat.
Kecelakaan! Sebuah mini bus mengeluarkan asap. Zoya baru paham bahwa supir truk itu sengaja memakirkannya melintas untuk menghindari kecelakaan beruntun. Naluri dokter Zoya tergerak. Kelihatan ini baru terjadi beberapa saat yang lalu. Warga mulai berkumpul memadati TKP. Zoya sibuk mencari korban. Paru-parunya ikut terasa sesak menghirup asap.
“Tolong ... banyak anak-anak di sana.”
Sontak mata Zoya memonitor mini bus. Banyak anak-anak masih berada di dalam sana. Beberapanya sudah dievakuasi warga sekitar menjauh dari TKP. Zoya menembus masuk tanpa rasa takut sedikit pun. Zoya menemukan anak perempuan tergelatak tak sadarkan diri. Mereka semua Zoya berperkirakan berumur 7-9 tahun. Mereka semua memakai seragam yang sana. Anak lelaki tampak mengunakan kopiah dan anak perempuan mengunakan hijab instan berwarna putih. Zoya langsung menggotong keluar anak perempuan itu.
“Sofia! Sofia! Allahuakbar, Sofia!” teriak lelaki paruh baya berbaju layaknya memakai gamis dengan koplok di kepalanya. Entahlah, yang pasti seperti itulah gambaran yang Zoya lihat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zoya
Spiritual[SELESAI] Zoya Raizel Bakri. Zoya, begitu aku dipanggil. Wow, siapa yang tak kenal diriku? Aku adalah bagian dari tangan Tuhan tapi mereka lebih mengenalku sebagai tangan kematian. Aku adalah bagian dari tangan Tuhan tapi aku membenci Tuhan. Jika...
