Klo eike sih jujur aja bakalan salfok liat makhluk macam beginian di taman, eike bukannya jogging malah beli cemilan tahu bulat sambil liatin si babang maen 😍 😄😅
Ben POV
Mataku mengikuti gerak-gerik seorang anak perempuan yang rambutnya di kuncir kuda, tubuhnya bergerak luwes di antara anak-anak lain yang sedang ber-skateboard.
Gerakannya langsung memaku indera penglihatanku sejak aku memutuskan untuk beristirahat di sebuah taman dekat dengan apartmentku setelah jogging di sore hari ini.
Anak perempuan itu sangat eye catching, mencolok dengan cara yang keren, aku berani bertaruh, dia pasti jago surfing juga.
Aku berdecak kagum ketika melihat kakinya yang menginjak papan seluncur sampai melayang dan bergulung di udara lalu tangannya menangkap papan tersebut dengan mulus.
Melihat aksinya barusan seperti gerakan slow motion.
Aku terkesima.
Awesome!
Umurnya pasti belum ada 12 tahun, tapi sudah jago seperti itu. Cool!
Bakat alami, orang tuanya pasti mewariskan bakatnya.
Anak perempuan itu berjalan menghampiri seorang perempuan yang memakai topi menutupi sebagian wajahnya.
Aku tidak dapat melihat secara jelas keseluruhan wajahnya dari tempatku berada.
Mereka berjalan keluar dari taman dengan bergandengan lalu berangkulan setelah beberapa saat lamanya kulihat mereka seperti mencari sesuatu, tepatnya sih perempuan yang bertopi itu yang terlihat sangat kalut.
Aku tersenyum tipis, mungkin mereka adik kakak, kakaknya mengantarkan adiknya bermain skateboard.
Perempuan bertopi itu tidak terlihat seperti seorang ibu, terlalu muda untuk mempunyai seorang anak yang beranjak dewasa.
Aku kembali termenung.
Teringat sesuatu.
Dengan cepat kepalaku menggeleng pelan.
Sangat tidak mungkin, pikirku.
•••
Anak perempuan itu bermain skateboard lagi di jam yang sama keesokan harinya.
Jam di mana aku selesai jogging dan kembali memutuskan untuk beristirahat di taman ini.
Aku meneguk air mineral kemasan botol yang ku bawa dari apartment, mataku mengedar mencari-cari sosok perempuan yang kemarin bersamanya sambil meneguk air, biar aksiku tidak terlalu mencolok mencari-cari sosok yang ku cari.
Tidak ada.
Aku tersenyum, waktu yang tepat untuk mengajak ngobrol anak perempuan itu.
Aku kembali mengamatinya yang bergerak turun dan naik di arena khusus untuk skateboard, bajunya sudah basah oleh keringatnya, tandanya dia sudah lama bermain sebelum aku duduk di sini.
Aku berdiri dan berjalan, mencari tempat duduk yang dekat dengan arena sehingga lebih leluasa melihat gerakannya yang dinamis.
Aku kembali tersenyum.
Darn, she is good!
Tanpa memakai alat pelindung siku dan lutut, dia bergerak dengan penuh percaya diri.
Terlalu pro untuk ukuran anak seumuran dengannya.
Sepertinya dia menyadari kalau ada yang mengamati gerakannya sedari tadi, anak perempuan itu berhenti meluncur, lalu menoleh ke arahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
back for good
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 13/5/18 - 7/7/18
