Giliran make baju rapi, lahdalahhh culun mamat om Bennn 😆😅
Mana anglenya dari atas jadi kliatan kek temannya Frodo 😂🏃🏃🏃
Ben POV
Aku meninggalkan Gita di kamarku sesuai instruksi yang kami sepakati.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Gita sedang duduk termenung di balkon, bibirnya yang bengkak terlihat lebih menggiurkan, kalau saja aku tidak mengingat Riri yang berada di kamar sebelah, ingin rasanya melanjutkan ciuman kami.
Walaupun di kamar mandi aku mengosongkan amunisiku, junior ini on lagi melihatnya tersenyum ke arahku dari balkon sebelum aku melangkah ke arah pintu.
"Yah, mama kemana sih? Kok tiba-tiba ngilang ya" Celoteh Riri begitu kami masuk ke dalam restoran yang masih saja ramai, padahal sudah menjelang pukul 9 pagi.
Aku menyebutkan nomor kamarku ketika seorang pelayan menanyakan nomor kamar.
Kami mengambil duduk di luar menghadap kolam renang yang juga terlihat ramai setelah aku berhenti sebentar untuk mengambil air putih dan jus nanas.
"Mungkin mama kamu lagi jalan-jalan ke pantai Ri" Jawabku dengan suara datar.
"Hmm... Tumben mama ke pantai gak bawa botol tuppynya buat minum" Riri menjawab perkataanku tak acuh, tetapi matanya menatapku penuh selidik.
Sesaat kemudian Riri mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku.
"Gimana yah? Semalam berhasil gak?" Tanyanya dengan semangat.
Aku mengedipkan sebelah mataku.
Riri menepuk-nepuk tangannya riang.
Aku menelan ludahku sendiri, kalau saja Riri tahu kejadian beberapa menit yang lalu.
Tanganku turun membetulkan letak intiku yang mendadak kembali tegang, bayangan di mana intiku berada di genggaman tangan Gita membuat intiku kembali bereaksi.
Kenapa sekarang sangat cepat tegang ya?
"Kamu ambil sarapannya dulu Ri, kaki ayah mendadak kram" Kataku pelan sambil meringis.
"Ayah gak kenapa-napa? Duhh mama mana sih?" Riri terlihat sedikit panik.
"Ayah baik-baik aja, kramnya biasanya sebentar kok, ayah belum bisa berdiri aja, takut kalo jalan, itu ayah sakit" Kataku berusaha menenangkan anak perempuanku ini.
"Itu? Maksud ayah, kakinya ayah?" Tanyanya dengan wajah bingung.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku pelan.
"Iya iya, maksudnya kakinya ayah" Aku kembali meringis.
Mengatup mulutku, jangan sampai salah menyebutkan kata yang vulgar kepada anakku.
"Ayah mau sarapan apa? Biar Riri ambilin" Tawarnya, wajahnya masih terlihat khawatir.
Aku tersenyum.
Tanganku terentang.
"Can you give me a big hug sweetie?" Pintaku dengan mata berkaca-kaca.
Cara Riri memperlakukanku membuat aku benar-benar bersyukur mempunyai seorang anak yang cantik dan perhatian.
Riri berdiri lalu berhambur ke dalam pelukanku.
"Jangan nangis ya yah, malu, ntar orang-orang pada ngeliatin" Bisiknya di telingaku.
Aku terkekeh.
Tangannya yang mungil mengusap-usap punggungku.
Aku menciumi pipinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
back for good
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 13/5/18 - 7/7/18
