26. cinta atau nafsu?

14.9K 1.6K 237
                                        

Ben: "Tatap mata sayaaa"
Tante Lane: "Gak usah hipnotis eike om Ben, eike serahin semuanya, eike vasrahhh 😆"

Baganjen, bagenit, bagatal... Garukkk 😂

Nb: om Dave, tante minjem photonya lagi yakkk 😆

Gita POV

Aku melirik ke arah Ben berkali-kali, sejak kedatangan Riri yang memotong perkataannya di kolam renang barusan, Ben tampak muram.

Riri sampai merayu ayahnya untuk bermain skateboard setelah berenang, tetapi Ben seperti merajuk dan akhirnya kami naik ke atas, ke unit apartmentnya.

Aku sendiri penasaran dengan apa yang ingin Ben katakan, sempat deg-degan juga menunggu perkataan yang keluar dari mulutnya.

Ben tampak kehilangan selera untuk melanjutkan perkataannya.

Ck, penasaran to the max.

Selagi Ben yang berdiam diri saja di ruang TV, aku mengambil kesempatan untuk menjelajahi isi apartmentnya.

Benar kata Riri, apartment Ben sangat luas, ruang TV nya besar, gabung dengan ruang makan, terdapat 1 kamar mandi kecil di dekat pintu masuk, dan terdapat satu pintu lagi di sebelahnya yang tertutup rapat, aku rasa itu adalah gudang, lalu dapurnya, wahhh dapur idaman, peralatannya sangat modern.

Aku belum memasuki kamar tidur utamanya yang berada di ujung lorong setelah dapur dan ruang makan, tidak enak memasuki ruang private seseorang, walaupun itu adalah ruangan pribadi milik mantan suami sendiri.

Aku berhenti melangkah di depan sebuah pintu yang menurutku adalah kamar tidur Riri yang berseberangan dengan 1 kamar mandi lagi.

"Ini kamar Riri ma, masuk aja" Suara Riri mengagetkanku.

Riri membuka pintu kamarnya lebar, terlihat wallpaper bernuansa pantai, dan banyak gambar pemain-pemain selancar dunia di sisi dinding yang polos tanpa wallpaper.

Tempat tidurnya ukuran double dengan sprei bergambar surfboard.

Karpet yang menutupi lantainya berwarna cream.

Nyaman.

Pantas saja Riri betah di sini.

Aku duduk di atas karpet dengan menyenderkan punggungku di sisi ranjang, Riri mengambil duduk di sampingku.

"Kamu gak temenin ayah?" Tanyaku, lalu memutar tubuh Riri memunggungiku dan menguncir rambut panjangnya dengan cekatan.

Kepalanya menoleh sedikit ke samping.

"Ayah kayanya lagi bete ma, udah Riri ajakin ngobrol, ayah diam aja, kayanya ayah marah sama Riri deh, kita pulang aja yuk ma" Bibir bawahnya cemberut maju.

Aku terkekeh.

"Kamu takut ayah marah ya sama kamu?"

Riri mengangguk.

"Ya kamu rayulah biar ayah gak marah lagi" Kataku lagi.

"Udah maaa, gak mempan, ayah marah karena tadi di kolam renang ya? Riri kan gak tau kalo mama sama ayah lagi bicara serius" Jawab Riri, tangannya meraih papan skateboardnya dari bawah meja belajar.

Hmm... Aku jadi teringat lagi, tadi memang Ben mau bicara serius...

"Ma, Riri pulang aja ya, mama di sini aja dulu, rayu ayah biar gak diam aja" Riri bangun dari duduknya.

"Eh, gak Ri, kamu pulang bareng sama mama, bahaya anak perempuan pulang sendirian" Cegahku lalu ikutan berdiri.

"Gak usah khawatir gitu ma, Riri kan udah biasa pulang dari taman ke rumah sendirian, lagia..."

Kami beriringan melangkah keluar dari kamar Riri menuju ruang TV, mataku menangkap sosok Ben dan,

"Ada om jari kelingking keriting tuh ma" Riri tidak melanjutkan perkataannya tetapi malah membicarakan Sam yang duduk menyender dengan kaki terangkat di atas meja.

Ben menoleh ke arah kami yang bergabung dengan mereka.

"Hi Git, how are you?" Sapa Sam lalu berdiri dan menarik tubuhku untuk berpelukan.

Ben berdeham.

Aku mengurai pelukan Sam ketika melihat Ben yang menatapku lurus dengan rahang mengeras.

Cemburu? Sama Sam?

Yang benar saja.

Kalau memang orientasi seksual Sam berubah, tidak ada yang harus di takuti kan?

"Aku baik-baik aja, gimana kabarnya?" Balasku.

Sam kembali duduk lalu tersenyum ke arah Riri yang mengambil duduk di dekat Ben.

"Aku juga baik-baik aja, lama gak ketemu ya, kamu makin cantik aja" Kata Sam berbasa-basi.

Aku tersenyum, dan senyumanku perlahan memudar ketika melihat Ben yang menatapku tajam.

Apaan sih Ben ini, dia pasti tahu kan Sam cuma berbasa-basi.

Kulihat Riri menarik telapak tangan Ben dan menautkan telapak tangan mereka, Ben menoleh ke Riri yang lalu tersenyum semanis mungkin ke arah Ben.

"Om Sam, temenin Riri yuk"

Perkataan Riri membuat kami bertiga menoleh bersamaan ke arahnya.

"Kemana?" Tanya kami bertiga, nyaris bersamaan.

Riri terkikik.

"Om kan belum pernah temenin Riri main skateboard, ayah bilang om jago berselancar kaya ayah ya, pasti jago main skateboard juga" Jawab Riri.

Sam tampak ragu, matanya melirik ke luar jendela.

"Jam segini, matahari lagi panas-panasnya Ri, kepala om nanti pusing" Kata Sam lalu menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Ya udah gak usah main skateboard, om temenin Riri makan ice cream aja di Mc D, um, eh beli paket happy meal aja deh, biar Riri dapat mainan hotel Transylvania" Mata Riri berbinar-binar.

Kulirik Ben yang menegakkan punggungnya.

Aku rasa Riri sedang berusaha untuk menyuruhku mencoba merayu Ben agar tidak marah lagi dengan mengajak Sam untuk keluar dari apartment ini.

Aku mengurut pangkal hidungku.

Aku gak pernah mengajarkan Riri seperti ini yaaa, yang kemarin juga bukan aku yang menyuruhnya meminta Ben untuk menginap di rumah kami.

Memang ada kalanya beruntung juga mempunyai seorang anak yang luar biasa bisa di andalkan dan sepeka Riri.

"Om, ayuu" Riri berdiri dan menarik pergelangan tangan Sam yang tampak malas untuk bergerak.

Kulirik Ben lagi, wajahnya terlihat sedikit tersenyum melihat Riri.

Mata kami akhirnya bersitatap, Ben mengedipkan sebelah matanya.

Aku menggelengkan kepalaku dan kembali mengurut pangkal hidungku.

Entah apa yang ada di pikiran Ben saat ini, wajahnya yang tadi muram sekarang terlihat sumringah melihat Riri yang menarik Sam berjalan keluar dari apartment.

Aku meringis ketika melihat Ben beringsut mendekatiku.

"Pilih mana, mau aku lanjutin perkataanku atau lanjutin kegiatan kita yang tertunda?" Tanyanya dengan seringai di wajahnya.

Aku menghela nafas lewat mulut.

"Sepertinya pilihan itu lebih cocok jadi, pilih cinta atau nafsu" Kataku.

Ben terkekeh.

"Bahagiain aku lah Git" Ben semakin menghabiskan jarak di antara kami.

Matanya fokus menatap bibirku.

Ok, kayanya aku gak perlu memilih, karena Ben sudah memutuskan untuk nafsu duluan.

Tbc

Pas jam 12 malammmm 😄😆

back for goodTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang