Ampun dah eta poseeee 😅
Maaf yakkk tante Lane tutup ga bagus buat kesehatan, yg pinisirin tante Lane tetep posting di paling bawah kok, cuss di liat, tapi jgn lsg scroll ke bawah ya, siapin tissue dulu takutnya ntar mimisan 😂😆
Gita POV
Mataku tidak sengaja bersitatap dengan mata milik pria pecinta papan selancar yang berdiri di balik pagar berkawat ketika aku datang menjemput Riri di arena taman.
Awalnya kami berpandangan cukup lama, tetapi Ben akhirnya terlihat seperti melengos, walaupun sedikit ragu, karena setelah dia membuang pandangannya ke arah lain, Ben tampak kembali melirik ke arah kami lagi.
Aku memutar tubuhku menghadap Riri, menarik dan merangkul pundaknya mendekat lalu kami berjalan keluar dari pintu taman.
Tidak mengindahkan tatapan matanya yang tidak lepas melihat ke arah kami sampai kami benar-benar menghilang dari pandangannya. Perasaan aku sih bilangnya begitu, kalian pernah kan merasakan lewat ekor mata kita ada orang yang memperhatikan sampai kita membelok atau hilang dari pandangannya?
Ya seperti itulah kira-kira yang terjadi sekarang ini.
Dan.... Kalian tahu apa?
Cara tatapan matanya seperti saat-saat kami baru bertemu, perasaan aku sih bilangnya begitu (lagi).
Aku meringis.
Tidak mungkin pria pecinta papan selancar itu begitu lah Git. 10 tahun berpisah, Ben pasti sekarang mempunyai kekasih atau mungkin istri?
Hmm...
Buat apa sih aku pusingin?
Aku melirik Riri, kami berjalan menuju rumah dalam diam, tapi terlihat jelas raut wajah Riri belakangan ini sangat bahagia.
Biasanya kalau sudah sampai di rumah, Riri tidak henti-hentinya bercerita tentang ayahnya itu.
Aku sih menanggapinya cukup menyimak dengan acuh tak acuh dan sekedar menjawab, ohh..., iya ya Ri, macam tu Ri, etc, etc.
Selama ini aku tidak pernah bertanya apa-apa mengenai ayahnya melalui Riri.
Buat apa?
Bagiku, duniaku, ya duniaku, duniamu, ya duniamu.
Elu, elu, gue, ya gue.
Kita pisah, ya sudah, tamat riwayat kita.
Aku sedikit bersyukur juga sih, karena apa yang aku khawatirkan apabila Ben mengetahui soal dia mempunyai seorang anak tidak menjadi kenyataan.
Aku belum siap apabila tiba-tiba Ben menuntut kejelasan mengapa aku menutupi kehamilanku, menutupi mempunyai anak darinya, ya pertanyaan semacam itulah.
Aku dan Riri melangkah memasuki pintu rumah,
"Ri" Aku memanggil Riri yang hendak berjalan ke arah tangga menuju kamarnya.
Riri menoleh ke arahku dan tersenyum ceria.
Bahagia rasanya melihatnya tersenyum seperti itu. Beban pikiran yang bercongkol soal pekerjaan seakan menguap begitu saja.
"Ya ma?" Riri kembali melangkah menghampiriku, tangannya meletakkan ranselnya di atas meja makan yang dilewatinya.
"Sini nak, mama mau nanya" Ajakku lalu duduk di sofa ruang tamu.
Riri mengikutiku dan langsung melipat kedua kakinya setelah tubuhnya terhempas di atas sofa, tangannya membetulkan kunciran rambut panjangnya.
"Ri"
Aku sedikit ragu juga ingin bertanya hal ini, bagaimana caranya agar tidak terdengar seperti orang yang kepo maksimal ya?
"Kenapa ma?" Tanya Riri lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
back for good
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 13/5/18 - 7/7/18
