Hidup bukan tentang menunggu kapan badai datang menerjang. Melainkan hidup adalah tentang belajar menari di tengah-tengah hujan.
-Claretta-Arkana membuka pintu rumahnya begitu pelan. Terus berjalan menuju kamarnya tanpa ingin melihat mamanya.
Tangan kirinya membawa jaket kulit berwarna coklat, sedangkan tangan yang lain memijat-mijat dahinya. Merasa seluruh masalah berakhir di kepalanya.
"Kekerasan gak pernah jadi jawaban buat masalah lo bego!" Kata dari seorang teman yang di temuinya tadi terus terngiang di pikiran Arkana.
Memang benar. Arkana menyadari sepenuhnya bahwa tindakannya salah. Tapi entah bagaimana cara menjelaskannya, tubuh Arkana bergerak lebih cepat dari otaknya. Terlalu jengah hanya berdiam sambil memikirkan sebab akibat. Arkana tidak bisa seperti itu.
Yang ada, ia hanya merasa begitu lelah.
Arkana lelah.
Tetapi sebuah bayangan datang tiba-tiba, membuat lelah itu sirna. Siapa lagi jika bukan Claretta. Sejenak Arkana berhenti tepat di depan pintunya. Meraup wajahnya kasar sambil mendesah kesal.
Bayangan Claretta yang menangis tersedu-sedu menyempitkan kekuatannya bernafas. Tangisan yang timbul dari segala kekacauan yang diperbuatnya hari ini.
Arkana merasa gagal menjaga prinsipnya untuk sedikitpun tak menyakiti Claretta. Pada akhirnya Claretta hanya terluka karenanya.
Arkana mengeluarkan nafasnya dengan kasar. Menyalahkan kekacauan ini pada dirinya sendiri.
Arkana membuka pintu kamar dengan wajah tertunduk kesal. Melempar jaketnya asal-asalan. Berjalan menuju tempat tidurnya masih dengan wajah tertunduk. Sampai kedua bola matanya menemukan sepasang sepatu cewek berada di bawah tempat tidurnya.
Mata Arkana membelalak sempurna mendapati sosok gadis sedang tertidur pulas dengan posisi tubuh menyamping.
"Claretta." Lirih Arkana.
Arkana berjalan mendekati tempat tidurnya untuk memastikan kebenaran bahwa itu memang Claretta. Tangannya mengudara menyingkirkan rambut-rambut halus yang menutupi sebagian wajah Claretta.
Dan benar itu memang Claretta.
Saat itu juga lah Arkana merasa begitu lega. Melihat Claretta baik-baik saja dan justru tertidur pulas.
Arkana tersenyum penuh arti memandangi wajah Claretta yang tertidur pulas.Dengan posisi yang sepertinya tidak begitu nyaman untuk Claretta. Sebab Arkana menemukan kaki Claretta terjuntai di lantai dengan posisi tidur yang menyamping.
Arkana berinisiatif untuk membenarkan posisi tidur Claretta. Tangannya mulai meraup lembut mulai dari leher Claretta agar dapat mengangkatnya.
Namun sebuah gerakan kilat tak terduga membuat Arkana gelagapan. Arkana masih mencoba memahami situasi saat kedua bola mata di hadapannya terbuka dengan tangan yang menarik tubuhnya jatuh terbaring tepat di samping Claretta.
Saat Arkana menyadari itu, tangan Claretta sudah melingkari pinggang Arkana. Sedang tangan kanan Arkana menjadi bantal kepala Claretta

KAMU SEDANG MEMBACA
Anonymous Boy
Fiksi PenggemarDengan tanpa alasan, banyak hal terjadi di luar dugaan. Entah itu kematian atau kelahiran baru. Sejatinya semua manusia ditakdirkan untuk terus bertemu dengan orang-orang baru selama alur waktu hidupnya, menggantikan orang-orang yang pergi meninggal...