“jadi begitu . . . ayah kau terlalu mudah dibodohi . . . “ gerutuku kesal.
“katakan saja kau mau apa? Kalau ingin balas dendam lakukan saja padaku, lakukan saja sekarang aku tak akan berteriak”
Aku menutup mataku bersiap ditampar, di tendang atau dipukuli. Beberapa saat aku menunggu tak ada tanggapan apapun darinya, kubuka mataku perlahan mendapati Albert bertolak pinggang menatapku, dia tertawa keras.
“balas dendamku nanti saja, sekarang aku ingin kau mengantarku menikmati masakan-masakan China”
Albert menjentik keningku penuh senyuman, dia mengajakku berjalan lagi. Aku memegangi keningku yang terasa sedikit sakit, aku menanyakan apa ini balas dendamnya tapi dia tak menjawab malah terus tersenyum. Senyuman tak pernah pudar dari wajahnya sepanjang perjalanan. Kami mengunjungi rumah makan terkenal naga awan, dia menyerahkan tugas memesan padaku, katanya dia tak tahu masakan mana yang enak. Aku memesan beberapa masakan terkenal seperti bebek Peking, daging dopo, tahu Mapuo.
Sambil menunggu makanan disajikan aku menuangkan tea ke dalam 2 cangkir, ku berikan secangkir pada Albert. Kami meminumnya dalam waktu bersamaan, Albert meneguknya sekali telan, air mukanya jadi pahit, alisnya berkerut.
“gosh, pahit sekali! Kenapa tak di beri gula?!” Albert kesal.
“gula? . . . maaf, apa kau tak sehat?” ujarku aneh.
“apa di sini memang di minum begitu saja?”
“begitulah . . . “
“Oh my god! Dinegaraku tea harus ditambah gula atau madu” Albert terbelalak.
“itu aneh! Kalau pakai gula bukankah wanginya akan pudar?”
“lebih baik daripada tea ini”
“kalau begitu jangan di minum sekaligus, pelan-pelan” ujarku menggurui.
Dia meminum lagi sesuai petunjukku, ekspresi wajahnya tak berubah normal seperti biasa, pelan-pelan dia menyesap seteguk dan diulangi lagi.
“hmm . . . rasanya harum dan . . . well, agak manis?” katanya mengingat-ingat.
“itulah ciri khas tea China!” aku tersenyum
Albert menatapku lekat-lekat ketika aku tersenyum dia juga ikut-ikutan tersenyum-senyum sendiri. Senyumannya menakjubkan, matanya melengkung membentuk seutas senyum, dia memiliki lesung pipi yang indah senyumannya cerah seperti Mingli. Ugh . . . lagi-lagi aku teringat dia, aku seharusnya sedang bersedih sekarang, tapi kenyataannya tidak, hatiku tak terasa sakit sama sekali. Suara Albert membuyarkan lamunanku.
“this tea is lovely. as lovely as you. I think I’m more and even more love you now”
“ya? Apa yang kau bicarakan?” tanyaku bingung.
“tak ada, Cuma memuji tea ini saja”
Makanan-makanan pesanan kami sudah siap pelayan itu menyajikannya berjejer rapi satu per satu di atas meja, dia juga mengisi ulang tea dalam pot, lalu pergi tanpa suara. Aku mengajari Albert cara memakan bebek Peking, ku ambil selembar kulit pok pia, kuletakkan sepotong bebek peking, beberapa potongan dau bawang, dan sesendok kecil bawang putih yang di haluskan, kemudian melipatnya dan ku santap lahap.
“ayo dicoba”
Albert melakukan sesuai petunjukku, dia mengangguk-angguk kecil sambil mengunyah penuh kenikmatan. Samar-samar aku mendengar suara penjual tahu busuk, kuletakkan sumpitku setelah menyuruh Albert tetap berada disini aku pun keluar.
Aku memanggil si penjual tahu busuk, dia berhenti tepat di depan rumah makan, dia meletakkan barang dagangannya yang berat, aku menghampirinya.
“pesan dua”
“baik, 2 koin liang” penjual itu membungkus dua ptong tahu dengan daun teratai.
Aku memberi 2 koin liang padanya, lalu mengambil pesananku kembali ke dalam rumah makan dimana Albert masih menungguku. Aku meletakkan bungkusan itu didepannya, ketika kubuka, bau “harum” tahu busuk melayang di udara. Albert menutup hidungnya jijik.
“oh Goddess! Apa ini? Bau sekali!”
Albert menuntun dirinya menjauhi bungkusan yang ada didepannya. Aku tertawa kecil, kuambil sumpitku dan mengambil sepotong tahu busuk dari daun teratai.
“ini namanya tahu busuk, jangan salah pengertian. Tahu ini bukan berarti sudah busuk. Ini dibuat dari bumbu-bumbu dan wewangian khusus, meskipun baud an kesannya tak begitu menggiurkan, rasanya aku jamin nikmat”
Aku mengambil potongan tersisa ke dalam piring kecilnya “ayo di coba”
Albert tetap tak mau mendekat, aku menariknya kembali ke tempat duduk, lalu menbujuknya mencoba sepotong kecil, ragu-ragu dia memasukkan kedalam mulutnya, mengunyah perlahan-lahan. Wajahnya memperlihatkan rasa jijik, lama-lama ekspresi itu hilang digantikan kebahagiaan menemukan harta.
“delicious! Rasanya enak!” dia mengambil seluruh sisanya dan memasukkan ke dalam mulut.
Setelah itu kami makan sambil bercerita tentang budaya masing-masing. Sekarang aku mengerti kenapa dia mencium telapak tanganku ketika pertama kali kami bertemu, artinya sebagai salam kenal di negaranya. Setelah selesai dia mengantarku pulang. Sambil berjalan aku mengenalkan banyak hiburan rakyat padanya, seperti opera peking, aktrasi adu fisik. Dia membeli banyak sekali hadiah kecil dari berbagai tempat.
Kami tiba disekitar kediamanku ketika mentari mulai menguning, aku menyerahkan semua barang belanjaannya ke tangan kanannya, tapi dia menyerahkan kembali seluruh barangnya padaku.
“apa-apaan ini?” tanyaku tak mengerti.
“aku belum membalas dendam padamu, mari kita lakukan sekarang”
Aku menghela nafas jengkel lalu menutup mataku menunggu hukuman darinya. Tak ada pergerakkan apapun darinya. Sejurus kemudian aku ngomel-ngomel padanya.
“hei, sampai kapan aku harus menunggu? Apa kau belum menentukan jenis hukuman balas dendamu?”
Lawan bicaraku tak menyatakan apapun, tapi aku merasakan pipiku seperti dikecup pelan, kubuka mataku cepat dan menatap tak percaya lelaki di depanku.
“dia mengecupku?! DIA?!!” jiwaku berteriak meminta penjelasan.
Aku menghapus bekas kecupan di pipiku dengan sangat keras, aku masih tak percaya apa yang dilakukannya pada pipiku.
“kau . . .kau! pipiku . . . “ aku menunjuknya terkaget-kaget.
Belum selesai aku dibuat kaget, sekarang aku dibuat terbelalak. Dia memelukku!! Aku gelagapan mencari celah melepaskan diri.
“lepaskan aku orang asing!” kataku tegas.
“I really love you” ujarnya berbisik pelan.
Aku terus memberontak minta dilepas, tepat pada waktunya seorang lelaki melenyapkan kosentrasinya dengan sekali dorongan aku pun lolos darinya.
******
mianhae yo chingu ^_^|| telat publish lagi. akhir akhir ini sedang berusaha menulis klimaks cerita ini maklum saya nulisnya di buku jd agak lambat kalau mau dipublish. . . gomen ne!
terima kasih banyak telah membaca saya sangat senang cerita ini telah dibaca sebayak 2 rb kali ^^ dan vote yang banyak dulu saya kira tak ada pembaca sekarang sungguh bersyukur!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Only Last
Romanceaku Chen Furong, di usiaku yang ke 17 tahun ini, segalanya berubah. aku menyamar menjadi laki-laki dan berkenalan dengan Aisin Gioro Mingguo, putera mahkota dinasti Qing. kami menjalin hubungan persahabatan dan dia, tentu saja tak tahu aku perempuan...
