Chapter 22

4.3K 376 5
                                        

halo semuanya! maaf lama sekali postingnya, beberapa minggu ini sedang tak sehat jadi tak bisa mengetik sori ya . .
disarankan menbaca chapter ini sambil mendengarkan lagu chen ai pada chapter 1.

“how do you do Mr.Albert?” sapa Mingli dari jauh.

Bahasa asingnya sangat lancar, hampir-hampir terdengar seperti Albert berbicara. Mingli mendekati kami, dia menatap tajam tak berkedip kearah Albert. Dia juga menarikku ke sisinya seperti ksatria, dia menghalangi jarak pandang Albert padaku. Albert tentu saja tak senang, dia balik menatap tajam pada Mingli.

“who are you? How dare you use those lowly eyes to see me!” Albert tersenyum sinis.

“I’m six prince, Aixin Juelo Mingli, Li qing wang”

Mereka saling bersalaman, meskipun tersenyum tapi keduanya masih tetap menatap tajam, aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan yang pasti sesuatu yang memercik api pertengkaran.

“I don’t care who you are. But all I know she’s mine” kata Albert sambil menatap balik punggung Mingli tempat aku bersembunyi.

“she didn’t belongs to anyone. Neither you or me, she would goes as what her heart say”

“I know, I will try to make her fall in love with me, even you had kissed her that doesn’t  mean anythings”

“you have eye to see, so I don’t need to explain. Farewell now”

Mingli berhenti menatap tajam padanya dia menatapku, sementara Albert beranjak pergi dari hadapan kami.

“hei! Tuan Albert, barangmu ketinggalan!” aku berteriak.

“untukmu saja” dia berbicara sambil terus berlalu.

Mingli menbimbingku ke depan kediaman keluargaku, dia terlihat lelah seperti habis berperualang, aku tak berani menatapnya ingatan ciuman lalu masih membayang di hatiku.

“aku ingin mengatakan sesuatu padamu” katanya tenang. “aku menyukaimu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu . . . aku tahu, kau menyukai kakakku aku Cuma ingin menyatakan isi hatiku padamu. Jadi kau tak perlu khawatir aku akan mengacaukan hidupmu, anggap saja aku sebagai orang asing mulai sekarang aku akan berhenti mencintaimu . . . aku juga tak akan menemuimu lagi . . . “

Aku sebenarnya ingin mengatakan isi hatiku padanya tapi terlambat, dia berpaling pergi tanpa bisa aku menahannya. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh dari pandanganku, aku berteriak memanggil namanya namun dia tak pernah kembali menatapku, kalau sebelumnya aku dibuat melayang diudara sekarang hatiku seperti jatuh dari ketinggian pecah berkeping-keping.

Kilasan-kilasan kenangan yang kulalui bersama Mingli melayang-layang seperti asap dibenakku, aku berjalan kembali ke kediaman keluargaku terasa linglung. Kakiku ringan seperti berjalan diudara, berkali- kali aku terjatuh.

“ . . . mulai sekarang aku akan berhenti mencintaimu, aku juga tak akan menemuimu lagi . . .”

Kata-kata itu terus terulang di benakku, aku tak bisa menghilangkannya, hatiku dicabik-cabik, dengan sisa tenagaku aku mendorong pintu kamarku hingga terbuka lalu terperosok jatuh dibawah pintu kamar yang sudah tertutup. Sebuah sapu tangan terjatuh dari saku bajuku,aku mengambilnya. Sapu tangan sutra putih bersulam sepasang angsa, aku menyulamnya semalaman hingga pagi, aku berniat memberikan kepada Mingli sebagai tanda perasaanku padanya.

Kepalaku mendidih, hatiku tersayat,  sekarang mataku berluncuran cairan bening putih, cairan itu terus berluncuran tanpa henti menetes membasahi sapu tangan di tanganku.

“katakan padaku itu tak benar! . . . bisakah kau dengar tangisanku . . . aku juga sehati denganmu! Perasaanku sama . . .”

Aku memukul-mukul dadaku agar berhenti berdenyut sakit semakin keras aku memukul-mukul dadaku, tanpa ampun dia mengulangi perkataan Mingli.

“aku akan selalu disampingmu . . .”

“tak bisakah kau bicara jujur padaku seperti aku jujur padamu?!”

“setidaknya ini yang dapat kulakukan”

“ . . . mulai sekarang aku akan berhenti mencintaimu . . . “

Aku menunduk memeluk kedua kakiku.

“kau pembohong! PEMBOHONG! . . . katamu kau akan selalu berada di sampingku . . . penipu . . . sekarang aku menangis disini tapi kau tak ada di sisiku . . . penipu . . . penipu . . . “ aku berteriak histeris.

Diluar sepertinya Yutang dan jie-jie mengetuk-ngetuk pintu kamarku mereka berseru agar aku membuka pintu nadanya khawatir sekali. Aku kelelahan kepalaku terasa pusing sesak, ku baringkan tubuhku menghadap samping.

“ya, ini hanya mimpi . . . saat aku terbangun apapun akan normal kembali” ujarku penuh harap.

Kututup kedua kelopak mataku berbaring diatas lantai yang dingin.

------

Normal POV

Di kediaman Mingli para pelayan perempuan maupun laki-laki berkumpul diruang tamu sibuk memunguti pecahan-pecahan cangkir dan botol minuman keras yang berceceran dilantai, sementara beberapa lainnya mengerumuni kursi utama berusaha membujuk tuannya.

“Pangeran kami mohon anda berhenti minum-minum, minuman keras cuma akan merusak tubuh anda” ujar seorang pelayan lelaki muda,

Pelayan lainnya juga mengiyakan mereka tak ingin melihat tuannya terpuruk seperti ini. Mingli masih terus menuang arak ke cangkirnya, pipinya sudah memerah, dari tubuhnya mengeluarkan bau arak menyengat, air mata mengalir membasahi wajahnya.

“kalian tak mengerti  . . . arak ini dapat membantuku melupakan segalanya . . .segalanya . . .”

Mingli menuang secangkir penuh sampai merembes keluar, semua pelayan disana bersujud agar Mingli tak mabuk-mabukkan setiap hari. Tiga hari lalu Mingli pulang berlinang air mata dia kembali kekamarnya dan memanggil Ah Ming membawakan arak kepadanya saat itu mereka masih tampak biasa saja, sekarang Ah Ming sangat menyesal. Mingli memerintahkan seluruh pelayannya berdiri, mereka sama sekali tak bergerak sedikitpun.

“aku bilang berdiri! Tolonglah  . . . biarkan aku minum, aku ingin melupakan segalanya . . .”

Mingli menangis tak bersuara. Dia masih ingat 3 hari lalu setelah menyatakan kata-kata yang menyakitkan, dia sebenarnya tak pergi melainkan kembali lagi. Saat itulah dia melihat furong berjalan masuk seperti orang kehilangan roh, berkali-kali dia terjatuh tubuhnya juga gemetaran hebat, dengan langkah berat Furong memasuki kamarnya, Mingli dapat melihat dari celah pintu sebelum tertutup sosok Furong terperosok jatuh tepat di depan pintu, lalu dia mendengar suara sesegukan dan teriakan Furong. Dia tak dapat mendengar jelas karena jauh tapi ada beberapa kalimat yang masuk ke otaknya.

“aku juga sehati denganmu!”

“kau pembohong! PEMBOHONG!. . . sekarang aku menangis disini tapi kau tak ada disisiku . . .”

----

haloha, terima kasih kepada para pembaca setia cerita ini akhirnya mencapat 2.9k (hore!! ~^O^~) jangan lupa vote dan comment biar makin semangat menulis

Only LastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang