Chapter 15

4.7K 379 3
                                        

Mingli segera menggendong Furong menuju kudanya, dia menahan luka Furong agar tak mengeluarkan darah lebih banyak lagi. Xiufeng ikutan khawatir, sementara Mingguo yang tak tahu apapun kelihatan kebingunan menyaksikan adiknya menbawa pergi seorang gadis terluka. Mingguo melepaskan pelukannnya, dia bertanya kepada Xiufeng.

“siapa gadis itu?” Mingguo menunjuk arah kepergian Mingli.

“dia . . . adikku” Xiufeng kelihatan masih syok.

Kelompok pemenang itu akhirnya meninggal gubuk itu, para tentara menbawa pergi kawanan bandit iersebut, Mingguo dan Xiufeng menunggani kuda bersama mengejar Mingli.

“Furong . . . kalau sampai terjadi sesuatu padamu . . . aku . . . aku . . .” Xiufeng menangis sesegukan.

“tenanglah, adikmu akan baik-baik saja” Mingguo berusaha menenangkan Xiufeng.

-----

Furong POV

Mataku terbuka perlahan-lahan, aku dapat mendengarkan suara orang-orang memanggil namaku. Saat mataku terbuka seuruhnya aku dapat melihat jelas keluargaku menatapku harap-harap cemas.

“Panggil tabib!” ayah memerintah seorang pelayan laki-laki.

Pelayan itu melesat pergi secepatnya, semenit kemudian, seorang tabib tua buru-buru masuk, dia duduk disampinku menutupi pergelangan tanganku dengan sapu tangan sutera, dia memeriksa nadiku.

“tuan jendral, puteri anda baik-baik saja”

Seluruh keluarga merasa lega, mereka tersenyum bahagia. Niang memberi sekantong uang pada tabib itu, dia juga mengucapkan terima kasih. Setelah tabib itu pergi, niang dan jie-jie menghampiriku.

“syukurlah kau baik-baik saja. Terima kasih atas kebaikan tuhan” niang bernafas lega.

“ini . . . dimana?”

“ini di penginapan Lu Feng Lou. Pangeran Li menbawamu kesini. Dia juga menghubungi kami” Jie-jie menjelaskan.

“iya benar, aku haru menberitahu pangeran Li” ayah berjalan keluar.

Tak lama kemudian, ayah masuk bersama pangeran ke-6 dan seorang lagi. Seseorang yang paling tak ingin kuberitahu identitasku, Mingguo. Meskipun sama-sama memancarkan rasa kekhawatiran, aku dapat merasakan tatapan menusuk dari mata Mingguo, dia pasti kecewa aku berbohong padanya.

“apa kau baik-baik saja sekarang?” Mingli duduk di samping ranjangku.

Dia menempelkan telapak tangannya di dahiku, aku merasa tak enak hati kuhindari tangannya, lalu menyapa Mingguo seperti tak terjadi apapun.

“selamat pagi Mingguo, lama tak bertemu”

Aku berusaha tersenyum tapi hasilnya janggal dan kaku. Semua orang yang ada di dalam ruangan ini menyadari suasana ini mereka terdiam tak berbicara lagi. Mingguo mengabaikanku, dia berbicara dengan jie-jie seperti tak mendengarkan penbicaraanku tadi.

“hamba pikir, Yang Mulia pasti ingin menbicarakan sesuatu dengan Furong, ayah, ibu mari kita buatkan jamuan untuk para tamu kita” Xiufeng berusaha bersikap pengertian.

“benar, istriku ayo kita pergi” ayah menarik ibu pergi.

Kini dalam ruangan ini tersisa aku, Mingguo, dan Mingli, kami sama-sama kaku, dan tak enak hati. Aku mengeratkan pegangan selimutku, menberanikan diri menyampaikan perkataan maafku.

“Mingguo . . . Ma . . . Maafkan . . .aku tak bermaksud mengbohongimu . . . aku . . . aku Cuma takut . . . kalau kau mengetahui aku seorang wanita kau pasti tak akan berteman denganku” aku berusaha sekuat tenaga menahan iska tangisku.

“apa benar? Sekarang aku merasa benar-benar ditipu! Kau tahu perasaaanku sekarang? Aku merasa dihianati! Kalau dari dulu kau mengatakan dirimu seorang wanita, aku masih bisa memaafkanmu. Tapi, kau masih mengbohongiku, kau mengatakan kau dari keluarga miskin, kenapa kau membohongiku? Aku seorang idiot! Mulai sekarang aku tak akan percaya padamu lagi!!” Mingguo marah besar matanya penuh api kemarahan, dia melemparkan gelas ke lantai.

Letupan kemarahannya menbuat aku merinding, tanganku berkeringat dingin, aku semakin mengeratkan pegangan pada selimutku, luapan air mata membasahi kedua pipiku, aku berusaha keras menghapusnya supaya tak meninggalkan jejak apapun, tapi pada akhirnya air mata itu air mata it uterus mengalir seperti air terjun.

“kakak! Kenapa kau harus berkata kejam seperti ini? Dia masih sakit! Itu benar kalau Furong memang membohongimu tapi dia juga sudah mengakui kesalahannya, apa belum cukup?” Mingli ikut-ikutan naik pitam.

“Furong? Hah . . .” Mingguo menarik nafas. “kau bahkan mengetahui nama aslinya. Berarti Cuma aku satu-satunya yang tak tahu apapun? Li . . . .aku kecewa padamu! Kau adikku juga turut serta membohongiku, kau  . . . “ Mingguo menunjukku. “aku muak padamu!” Mingguo menghempaskan pintu kamar dengan keras seiring kepergiannya.

“kakak!” Mingli mengejar kakaknya.

Aku ditinggalkan begitu saja oleh kedua pangeran, dalam waktu singkat semua jalinan persahabatan terputus begitu saja hanya Karena satu kesalahan. Aku memang egois, awalnya aku hanya ingin menjahili putera mahkota tapi ketulusan hatinya membuat aku murni ingin bersahabat dengannya. Aku mengurung diri dalam selimut, kugigit tinju tanganku dan menangis.

Only LastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang