Chapter 23

4.2K 339 7
                                        

Mingli baru menyadari ternyata Furong selama ini tanpa sadar telah menyimpan dirinya dalam hati, dia menyesal mengatakan kata-kata menyakitkan itu, sekarang segalanya telah terlambat, kata orang penyesalan selalu datang belakangan dia mengerti maksudnya sekarang, penyesalan di akhir tak ada gunanya. Mingli berjalan gontai meninggalkan kediaman keluarga Chen.

"tuhan apakah ini hukuman karena aku berbohong . . . hanya akan bersahabat dan akan berhenti mencintainya? Kalau itu hukuman biarkan aku juga menanggung penderitaan Furong . . . biarkan dia melupakan aku dan kakak, carikan dia lelaki lain yang dapat mebahagiakannya" Mingli berdoa dalam hati.

MIngli meninggalkan kerumunan pelayannya, keluar meninggalkan ruangan itu. Terik matahari menyinari matanya, berkilau di dalam harapan hidupnya yang pudar.

"malangnya nasibku. . . . aku kehilangan semuanya, kasih sayang, persaudaraan, dan cintaku, apakah hari esok juga akan datang padaku?"

Mingli merasa lelah, energy hidupnya kosong. Terik matahari musim panas membuat kepalanya bertambah pusing berdenyut-denyut memberontak.

BRUK!

Mingli terjatuh tak sadarkan diri, pelayan-pelayannya berlarian kea rah Mingli mereka berteriak, ada yang menggoyangkan tubuh MIngli ada yang membawanya ke kamar.

-----

"Furong! Furong . . . buka pintu ini!" suara jie-jie memanggil dari balik pintu.

"kau tak bisa terus seperti ini! Sudah seminggu kau tak makan, minum dan terus berada di kamar ini. Kau tahu ayah dan niang sangat khawatir"

Suara jie-jie menggema diseluruh ruangan kamarku yang kosong, aku berbaring disamping pintu, masih menatap sapu tangan sepasang angsa diam, aku tak merasa lapar dan haus, keadaanku berantakan mungkin hanya dengan ini aku dapat lebih tenang. Aku tak bisa melupakan Mingli, semakin aku berusaha melupakannya bayangan dirinya selalu muncul di segala tempat dalam ruangan ini. Kadang menatapku, kadang tersenyum.

"aku merindukanmu . . . " ucapku pilu.

Suaraku hampir terdengar seperti suara bisikan nyamuk sebab tenggorokanku kering, dari pintu terdengar lagi suara jie-jie.

"Furong . . . pagi ini seorang  mak comblang datang bersama diplomat Albert. Diplomat itu ingin meminangmu" jie-je berhenti sebentar.

Aku tak peduli biarlah dia meminangku aku TAK AKAN menikah dengannya, pada saat upacara berlangsung aku akan bunuh diri mati bersama perasaan cintaku.

"tapi tenang saja, ayah menolaknya berkali-kali diplomat itu memohon, ayah juga mengusirnya" lalu suaranya merendah lesu "kau dan aku, kakak beradik aku juga akan melindungimu . . . apa kau masih ingat luka di tangan kiriku? Waktu kecil kau sangat takut anjing, suatu hari kau dikejar seekor anjing kuning besar dan aku menolongmu. Sejak saat itu kau berjanji akan melindungi dan berkata jujur padaku, apa sekarang kau mau menginkari janjimu . . . ?" jie-jie sesegukan. "Furong, jie-jie mohon buka pintumu, biarkan aku berbagi rahasia denganmu"

Jie-jie menangis sekarang, aku khawatir sejak kecil tubuhnya sangat lemah, aku takut dia akan jatuh sakit. Akhirnya dengan tangan dan tenaga yang sangat lemah aku menarik pintu kamarku, jie-jie berjongkok menangis di bawah pintu dia menatapku, setelah pintu terbuka seutuhnya jie-jie berhambur memelukku berlinang air mata.

Aku menceritakan semua kejadiannya pada jie-jie, awalnya dia kelihatan bersalah setelah aku mengatakan terluka karna mencintai Mingguo, lalu ciuman Mingli dan aku baru menyadari mencintainya, tapi dia memutuskan berhenti mencintaiku.

"jie-jie aku merasa kehilangan, hatiku terasa menyakitkan. Semakin aku berusaha melupakannya, dia terus muncul dimana-mana dalam ruangan ini . . . aku merindukannya . . ." mataku mengalir air mata.

Jie-jie menepuk pundakku menenangkanku.

"kau harus kuat, masalah tak dapat di selesaikan hanya dengan berdiam diri" dia teringat sesuatu, dia menrongoh saku lengan bajunya mengeluarkan secarik surat. "ini dari Mingguo, dia bilang surat ini dapat membuatmu hidup kembali"

Aku mengambil surat tersebut merobek amplopnya lalu mengeluarkan lembaran isi yang ditulis dengan rapi, aku mulai membaca isinya.

"kepada Chen Furong

    Aku akan penderitaanmu dan Mingli. Makanlah dan minum teratur sehat kembali, pada saat yang tepat aku akan membuat keajaiban

                                Tertanda Aisin Gioro Mingguo"

Aku segera menyuruh jie-jie membawakan banyak makanan dan minuman, cepat-cepat aku pergi membersihkan diri, kuteteskan beberapa cairan sari bunga mawar kemudian masuk ke dalam bak mandi. Aku membersihkan rambutku, menggosok-gosok seluruh tubuhku tak membiarkan satu kotoran pun membekas di kulit.

Setelah selesai aku mengenakan pakaian yang kuambil di lemari, atasan warna hijau pucat bersulam bunga peony dengan sisi-sisi lengan tangan dan kerah bermotif tumbuhan menjalar serta rok lipat-lipat berwarna hijau terang. Aku menyisir rambutku menbentuk ikatan setengah lalu memakai bedak tipis. Aku merasa segar bugar, sekarang tinggal menunggu makanan tiba.

Aku duduk di kursi dalam ruangan menunggu dan terus menunggu, pikiranku melayang ke dalam isi surat Mingguo, lalu kembali merindukan Mingli. Kulihat bayangan Mingli duduk di sampingku dan menatapku rindu.

"Mingli . . .kau juga merindukanku?" tanyaku kepada bayangan.

"ya" bayangan Mingli menjawab singkat, dia masih tetap menatapku.

"aku akan melakukan sesuai usulan Mingguo, kau juga harus makan dan sehat"

Bayangan Mingli tersenyum padaku lalu bayangan itu menghilang seperti angin digantikan sosok jie-jie menbawakan nampan berisi makanan dan Yutang membawa semangkuk sup. Aku makan lahap memasukkan banyak makanan kemulutku dan mengunyah beberapa kali kemudian buru-buru menelan habis, kelakuanku seperti hantu kelaparan, belum habis dikunyah aku sudah menelan sup langsung dari mangkuknya. Jie-jie dan Yutang menatap cemas, mereka menasehatiku agar pelan-pelan.

"aku ingin cepat pulih!" kataku dengan mulut penuh.

Beberapa saat kemudian, semua makanan di atas meja sudah kosong Cuma tersisa piring-piring. Yutang membersihkan meja dan mengambil seluruh peralatan makan terpakai ke dapur. Aku memohon kepada jie-jie agar dia menghubungi Mingguo. Jie-jie mengambil pakaian kasim dari sebelah bungkusan, dia menyerahkannya padaku.

"pakai ini, putera mahkota menunggumu di pintu samping. Aku akan membawamu aman menuju pintu samping kediaman ini"

Jie-jie menutup pintu kamarku menyuruhku berganti baju, dia juga menbantuku mengepang rambutku lalu kami bergegas menuju pintu samping kediaman keluargaku. Jie-jie membuka pintu mempersilakan  Mingguo masuk.

"Xiufeng, kau terlalu lama"

"tak ada waktu untuk itu, sekarang bawa Furong dan pastikan dia ceria kembali seperti biasanya" jie-jie mendorong kami menuju kereta kuda yang sudah disiapkan. Sebelum naik, Mingguo mengucapakan salam kepada jie-jie.

------

reader sekaliansayamenambahkan cast bukanberarticeritainiadalah fan fiction melainkanuntukmemudahkanimajinasi kalian, jugaaku. konflik-konflikini akan semakinmemuncaksilakandiikutiterus ya •﹏• . . . . okenyang??

Only LastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang