Mingli POV
"Aku memaafkanmu atas segalanya" aku masih memeluknya erat.
"Ming . . . Mingli?" Tanyanya tertegun.
"Benar, ini aku Aixin Jueluo Mingli, pangeran ke enam . . . Milikmu"
Nona manis di depanku langsung memasang topeng palsunya, dia menatapku tajam seraya melepaskan pelukanku dan menghadapku. Dia tak dapat membohongiku lagi meskipun wajahnya demikian galaknya bola mata hitamnya tak dapat menbodohiku, mata itu terluka dan sakit.
"Apa yang kau lakukan?! Berhenti menyentuhku atau aku . . ."
Ku menyela ucapanya "aku sudah tahu semuanya, segala-galanya. Kau diancam dan terpaksa menikah dengannya"
Furong terdiam tak bisa menjawab, mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi terhentikan, aku menggenggam kedua tangannya lalu menatapnya sambil tersenyum.
"Berhenti memasang wajah palsu itu. Apapun yang terjadi aku tetap akan menepati janjiku padamu"
"Mingli jangan . . ."
Aku mengbungkam mulutnya, kucium dirinya penuh gairah, Fufong juga membalas ciumanku. Furong menangis lagi, pelukan kami sangat erat tak bisa dilepaskan akhirnya aku dapat tersenyum dalam pelukan wanita pujaanku.
"Furong apapun yang terjadi aku tak mau melepaskanmu lagi"
Aku melepas pelukannya, ku hapus lembut air mata dari wajahnya yang mulus lalu ku kecup sayang telapak tangannya.
"Kau tunggu di rumah, aku pastikan menyuruh orang membawa hadiah pertunangan ke rumahmu" kataku menyakinkannya.
"Mingli tapi aku sudah menerima mahar pernikahan Albert . . . Bagaimana kalau dia sampai melukaimu?" Tanya Furong khawatir.
"Kau akan tetap menerima lamaran dariku dan dia. Aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini"
"Dengan apa?"
Aku tak menjawabnya, kulontarkan seutas senyum padanya lalu pamit meninggalkan Furong sendirian di halaman. Aku harus segera menyediakan barang lamaran dan robongannya, juga setelah itu aku harus menemui kakakku kemudian mendiskusikan masalah ini padanya.
------
"Kain sutra 5, jepit rambut . . . Gelang tangan . . . Cincin . . . Ya. Lengkap" ujar Ahming komat-kamit menghitung lamaran pernikahan.
Ahming balik menghadapku dia terlihat gembira hari ini, di letakkanya secarik kertas warna merah bertulisan keemasan padaku sambil tersenyum dia melaporkan hasilnya padaku.
"Pangeran, semuanya lengkap, tak kurang maupun lebih sesuai yang tertera di atas buku lamaran"
"Bagus, apa empat orang gugu sudah di panggil?" Tanyaku seraya menikmati teh olong
"Sudah, para gugu sedang menunggu di kabin kiri"
"Panggil kemari"
Ahming melaksanakan perintahku, dia berjalan pergi dan sejurus kemudian kembali lagi membawa 4 orang wanita setengah baya yang bertugas di kediamanku, para wanita itu secara serentak memberi hormat padaku.
"Hamba memberi hormat kepada Li qing wang"
"Para gugu tak perlu bersikap sesopan ini, berdirilah"
Para gugu pun berdiri, mereka dengan sigap melaksanakan tugas mereka yaitu membungkus seluruh perhiasan dengan kertas merah di bungkus lagi dengan kain satin merah dan semuanya di letakan ke dalam kotak perhiasan yang juga di bungkus sutra merah.
"Senuanya sudah selesai pangeran, apa sekarang kami harus mengantarnya?"
"Ya. Ahming akan mengantar kalian, nama keluarga gadis itu Chen seorang jendral keturunan Han, dia putri bungsu jendral Chen namanya Chen Furong"
"Han?" Gugu paling tua kelihatan kebingunan, mereka saling memandang satu sama lain, lalu gugu paling muda memberanikan diri bertanya padaku
"Pangeran, anda ingin menikahi seorang fujin bukan?"
"Benar" ucapku singkat
"Tetapi gadis ini keturunan Han"
"Ya. Laksanakan saja, mau dia gadis Han atau Manchuria kan ku tanggung semuanya"
"Baiklah . . . Kalau Li qing wang sudah berkata begini"
Para gugu bersama Ahming pun pergi membawa barang-barang antaran tersebut, aku menghabiskan teh dalam cangkir dan bersiap ke dalam istana menemui kakakku
------
Normal POV
Kediaman keluarga Chen kembali dibuat ramai oleh kedatangan orang-orang suruhan Mingli, para pelayan kediaman tersebut sibuk mengangkut masuk antaran dari kediaman Li qing wang fu.
Ke empat orang gugu duduk manis menunggu kedatangan sang tuan rumah di ruang utama, ayah dan ibu Furong buru-buru datang menyambut keempatnya tak lupa juga mereka memberi salam. Para gugu berdiri menyapa tuan Chen seiring barang terakhir dibawa masuk ke dalam ruangan.
"Sungguh suatu keberuntungan para gugu berkunjung ke sini" kata nyonya Chen tersenyum ramah
"Tak usah begitu nyonya, kami hanyalah pelayan rendahan tak pantas menerima sanjungan dari anda"
Jendral Chen menatap sekilas kotak-kotak merah, berlusin-lusin kain warna warni yang memenuhi ruangan ini, dia sangat mengerti maksud dari semua ini wajahnya berubah menjadi serius.
"Maaf sudah merepotkan para gugu, apa benar Li qing wang ingin melamar anak kami Furong?"
"Benar jendral Chen" aku gugu paling tua
Tuan dan nyonya Chen menatap satu sama lain, mereka kelihatan terkejut dan tak tahu harus menerima atau tidak, kalau menerima berarti membiarkan Furong bersuami dua tentu saja itu melanggar moral maupun adat, kalau menolak takut Li qing wang murka atau juga melanggar titah Kaisar. Nyonya Chen menarik tangan tuannya tertekan
To be continue . . .
Catatan
Gugu : panggilan untuk pelayan senior istana
KAMU SEDANG MEMBACA
Only Last
Romanceaku Chen Furong, di usiaku yang ke 17 tahun ini, segalanya berubah. aku menyamar menjadi laki-laki dan berkenalan dengan Aisin Gioro Mingguo, putera mahkota dinasti Qing. kami menjalin hubungan persahabatan dan dia, tentu saja tak tahu aku perempuan...
