maaf menunggu lama ^_^||
Ming Guo memegang tanganku, lalu membandingkannya dengan tangan miliknya. Kemudian ia melanjutkan perkataannya yang terputus.
“kau ini benar-benar banci. Bagaimana bisa seorang pria memiliki pinggang ramping dan tangan kecil halus sepertimu . . .hahaha” Ming Guo tertawa terbahak-bahak.
Aku menahan kesal, sekaligus merasa lega karena identitasku tidak ketahuan.
“memang lelaki lamban” batinku dalam hati.
Untuk menutupi kecurigaan aku memasang wajah marah. Ming Guo segera meminta maaf padaku bahkan merayuku agar tidak marah padanya, aku bilang padanya tiada ampun untuk ketiga kalinya, dia pun menyetujuinya. Kami berpisah jalan setelah sampai di depan pegadaian.
“kita pasti akan bertemu lagi!” ujar Ming Guo sebelum berpisah.
“hanya tuhan yang tahu hal ini” aku menbalasnya tanpa menatapnya.
Aku berjalan mengendap-endap di depan rumahku, setelah kurasa aman, aku berjalan santai ke dalamnya. Aku takut dimarahi, aku tak suka cara niang mencerewetiku bisa berjam-jam lamanya. Dia menceritakan kepatuhannya pada kakek-neneku ketika masih gadis, parahnya aku disuruh berlutut mendengarnya. Dengan sangat berhati-hati aku memasuki taman bunga ayah, ku lihat sekelilingku, tak ada seorangpun sangat sunyi. Aku lalu berjalan melompat-lompat kegirangan. Ternyata dugaanku salah, di depanku kini berdiri 2 sosok yang menakutkan, mereka memancarkan aura marah. Pak tua itu dan ibuku sendiri menatap sinis padaku.
“Fu Rong, ikuti aku” tuturnya ibuku tajam.
Aku menelan ludah mengikutnya ke ruang depan. Bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya, seperti yang aku pikirkan sebelumnya, semua terjadi begitu saja. Aku disuruh berlutut serta merta ibuku mulai menceritakan kisahnya.
“bagaimana bisa anak gadis keluarga terhormat ini melakukan tindakan yang begitu gegabah? Apakah kamu ini benar-benar anakku? Ketika aku seusiamu, aku ini sangat patuh kepada kedua orang tuaku. Tidak sepertimu yang selalu berbuat ulah, aku selalu melakukan hal yang berguna dan mengindari hal yang percuma”
Dan seterusnya. Aku tidak ingit lagi apa yang dibicarakannya setelah itu. Aku hanya terus berpikir agar ini cepat berlalu. Kakiku sudah merasa kesemutan, aku meringis kesakitan, ibu masih saja menasehatiku. Setelah 1 jam dia akhirnya berhenti.
“ . . . . . . jangan pernah berbuat hal memalukan lagi, sekarang pergilah kekamarmu”
Kakiku sudah tak merasakan apapun, aku tak dapat berdiri dengan benar, berkali-kali kucoba aku tetap jatuh.
“to . . .tolong, aku tak dapat berdiri” kataku lirih seraya meringis kesakitan.
Ibu menbantuku berdiri, aku diangkat niang dan Yu Tang ke kamarku. Aku didudukan di kursi kecil pada tengah ruangan dilengkapi meja, diatasnyabterdapat teko the. Yu Tang menuangkan the untukku lalu dia memijit kakiku.
“hari ini benar-benar hari sialku . . “ aku mengeluh ke Yu Tang.
“ya, hari ini juga hari sialku . . “
Aku dan Yu Tang menghela nafas panjang. Yu Tang terus memijit kakiku, hingga aku merasa agak baikan dqn segera menyuruhnya berhenti.
“aku ingin berganti pakaian” ujarku pada Yu Tang.
Yu Tang tidak berkata apapun lagi, dia mengeluarkan chang pao warna biru pucat bermotif bunga teratai sama seperti namaku. Dia menbantuku berganti, rangkap pertama, kedua hingga pakaian luar. Lalu Yu Tang menyisir rambutku, meminyaki dan disisir lagi. Dia kemudian menbentuk rambutku dengam batangan halus terbuat dari perak, dihiasi bunga dari kain sutra. Saat telah selesai acara dandan itu, ayah datang menemuiku, aku menyambutnya, aku mempersilakan ayah duduk di kursi ruanganku, kami duduk berhadap-hadapan, Yu Tang menuangkan teh pada kami.
“ayah, ada gerangan apa mencariku?” aku menyantap teh yang diberikan Yu Tang tadi.
“apakah, kalau ada masalah ayahmu baru mencarimu?” ayah menatapku serius.
“tidak, bukan itu maksudku ayah, aku Cuma bercanda!”aku panic menjelaskan.
Ayah menatapku tajam, tapi dia lalu tertawa terbahak-bahak.
“Oh, Fu Rong . . . ayah Cuma bercanda. Kau malah menganggapnya serius”
Aku menatap cemberut ayahku, aku sangat kesal, aku berbalik memungguninya dan melipat kedua tanganku.
“HA HAHA . . . sudahlah, Fu Rong. Ayah kesini untuk mengajakmu menghadiri pesta pernikahan anak menteri Guh”
“kenapa harus aku? Jie-jie juga ada, kenapa tidak mengajaknya saja”
“apa kamu lupa? Anak laki-laki menteri Guh itu anak yang selalu bermain bersamamu sewaktu kecil”
Aku jadi tertarik, ku balikkan badanku dan kini aku menatap ayah.
“siapa? Apa anak yang selalu menangis seperti air terjun itu?”
Ayah tidak menjawab ia malah tersenyum seperti umpannya telah dimakan, dia meninggalkan aku begitu saja dengan tawanya yang menggema di ruangan.
“dasar orang tua pembuat kesal! Lihat saja, aku tak akan termakan katamu!!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Only Last
Romanceaku Chen Furong, di usiaku yang ke 17 tahun ini, segalanya berubah. aku menyamar menjadi laki-laki dan berkenalan dengan Aisin Gioro Mingguo, putera mahkota dinasti Qing. kami menjalin hubungan persahabatan dan dia, tentu saja tak tahu aku perempuan...
