Hari-hari pun berlalu, Tania masih saja duduk di tempat " nyamannya" di pojok kelas. Ia masih belum mau berkenalan denganku dan juga teman sekelasnya, ia asyik dengan dunianya sendiri.
Sudah hampir satu bulan Tania tetap di tempatnya, namun hari ini ia sudah mulai menatap kami berlima secara bergantian. Satu- persatu kami ditatapnya sedemikian rupa. Ia menatapku tak berkedip. Mata birunya menatapku tajam tanpa senyum.
Saat aku tersenyum menatapnya. Ia malu dan menundukkan kembali mata birunya, kemudian ia menelungkupkan kepalanya ke lutut yang ditekuknya.
Aku pun beranjak mendekati Tania seperti biasa, selama ini aku selalu menyapa dan tersenyum ramah padanya. Aku tidak akan pernah menyerah. Mungkin Tania butuh waktu untuk beradaptasi. Tania masih sedikit malu. Akhirnya aku kembali ke murid-muridku setelah aku mengelus rambutnya yang hitam.
Teman-teman Tania di kelas selalu aku ajak untuk menyapanya, walaupun Tania tidak merespon dan asyik di pojok nyamannya. Kami di kelas berusaha tanpa menyerah.
Hingga hari ini..
Pagi ini aku bersama murid-murid tercintaku duduk melingkar di lantai. Aku membacakan sebuah kisah yang memotivasi. Di ceritakan dalam cerita itu ada seorang pemuda yang cacat, tidak mempunyai 2 tangan dan 2 kaki tetapi dapat sukses dalam hidupnya.
Murid-muridku begitu antusias mendengar ceritaku terutama Rangga. Ia bagai termotivasi penuh. Untuk muridku yang tuna rungu, aku menggunakan bahasa isyarat dengan tanganku. Mereka semua tampak bahagia. Aku melihat Tania terkesan dengan ceritaku. Ia beringsut keluar dari pojok nyamannya dan sekarang sudah berada diantara kami walaupun berada di luar lingkaran.
Hei..ia tersenyum menatapku. Segera aku pun tersenyum dan memintanya untuk segera duduk di sebelahku. Alhamdulillah Tania mau duduk di sebelahku.. ini sungguh surprise bagiku.
Kami bertepuk tangan untuknya dan bahagia akhirnya Tania mau bergabung juga setelah sekian lama. Segera aku sambut Tania dan memintanya untuk berkenalan saat ia sudah berada disampingku.
Rupanya ia agak malu dan sedikit gugup.
" Na..na..ma..ku..Ta..ni..a.., " ucapnya tergagap. Ia masih meneteskan air liurnya kemudian mengelapnya dengan lap.
" Hai..Tania..., " kami serempak menyapanya. Beberapa dari kami ada yang merasa jijik melihat Tania yang seperti itu. Aku menasihati supaya bersikap wajar.
Tania tersenyum. Sepertinya ia bahagia. Aku pun tersenyum. Kita semua di kelas itu tersenyum. Aku sungguh bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya Tania mau berkenalan juga walaupun masih malu. Tania sudah mau berkenalan walaupun hanya sebatas nama. Bagiku ini sudah luar biasa. Aku mengucap syukur pada yang Kuasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seindah Bunga Putih
General FictionSeorang gadis bernama Yasmin dan berasal dari kota hujan, Bogor. Yasmin bersyukur terlahir dari keluarga yang harmonis. Yasmin merasa sebagai anak " tunggal" dan perempuan satu-satunya dari keluarga Sastrohadiasuwiryo, karena adik perempuannya s...
