"Pulang sama siapa, Na?" tanya seorang laki-laki dengan tas hitam yang disampirkan nya sebelah.
"Sendiri Raf."
"Bareng gue aja." tawarnya.
"Gak ngerepotin, Raf?"
"Ngerepotin gimana, Na? Kita aja saru komplek." balasnya seraya terkekeh kecil.
"Ya udah boleh ya gue ikut lo lagi."
"Kenapa gak boleh. Kan gue yang nawarin."
Sesampainya mereka di parkiran SMA Rajawali, Rafa memakai helm serta langsung menyalakan motornya. "Maaf nih Na gue cuma bawa helm satu."
"Gak papa, Raf."
"Ya udah ayok naik."
"Udah Raf." ujar Ana setelah merasa sudah duduk dengan nyaman. Motor Rafa pun melajukan gas nya.
Selama di perjalanan mereka sama-sama diam canggung, padahal ini sudah kedua kalinya mereka boncengan seperti sekarang ini.
"Oh ya Na, Lisa sama Dirga beneran pacaran ya?" tanya Rafa yang sedari tadi ingin menanyakan hal ini.
"Kayaknya gitu, Raf." jawab Ana dengan malas.
"Lo gak cemburu gitu, Na?"
"Buat apa juga gue cemburu? Ga ada berhak."
"Jangan-jangan lo yang cemburu sama mereka?" tanya Ana balik.
"Kayak kata lo, buat apa juga kan cemburu, mereka udah sama-sama bahagia."
"Kalo suka ya perjuangin, Raf. Kalo lo udah memperjuangin dia, tapi dia tetap milih orang lain, ya udah nasib hehe." jawab Ana dengan tertawa kecil.
"Lo mau nasehatin gue atau ngatain gue?"
"Dua-duanya juga boleh tuh."
"Kalau gue suka sama lo, boleh nggak?" ujar Rafa dengan serius yang membuat Ana berhenti tertawa.
"Tegang amat neng, gue bercanda kali. Baperan lo haha."
"Siapa juga yang baperan! Sok tau lo." jawab Ana dengan muka kesal.
Rafa hanya tertawa mendengar jawaban dari Ana. Ia tak bermaksud membuat Ana kesal seperti itu. Ia hanya mencoba membuat Ana lepas dari pikirannya saat ini. Walaupun ia sama seperti Ana, gadis yang di cinta nya sudah menjadi kekasih sahabatnya sendiri.
Selang beberapa waktu tiba lah mereka di depan rumah Ana. Lalu gadis itu turun dari motor Rafa dan tak lupa juga mengucapkan terimakasihnya pada empunya motor, "makasih ya, Raf."
"Ya udah gue langsung pulang ya." Ana menganggukkan kepala, kemudian Rafa melajukan kembali motornya.
Ana berjalan memasuki rumah nya. Di ruang tengah ia mendapati kedua orang tua nya dengan raut muka yang serius.
"Assalamualaikum Bun, Yah." salam Ana menciumi tangan Ayah dan Bundanya.
"Wa'alaikumsalam sayang."
"Ana duduk dulu." pinta Fadli dengan nada serius yang membuat Ana sudah deg-degan. Apakah ia membuat kesalahan yang tak di sadari nya pada Leni dan Fadli?
Ana duduk di depan Fadli dan Leni. "Ada apa Yah?" tanyanya dengan jari-jari tangannya yang tak berhenti bergerak. Salah-satu kebiasaan Ana jika sedang gugup menghadapi hal semacam ini.
"Ayah di pindahkan kerja di Jogja. Kami berdua sudah memutuskan untuk kita pindah sama-sama. Biar kita juga sering ketemu, gak kayak sekarang ini lagi." ujar Fadli.
"Kamu pun harus pindah sekolah. Sebenarnya sayang mengingat kamu sebentar lagi kelas dua belas. Tapi kami juga gak mau meninggalkan kamu sendirian di Jakarta." sambungnya dengan berat mengatakan hal ini. Karena, Fadli tahu SMA Rajawali adalah sekolah yang sangat di idam-idamkan Ana sejak masih berseragam putih biru.
"Harus ya Yah?" tanya Ana dengan nada pelan.
"Ayah sangat-sangat minta maaf sama kamu, Na. Tapi, ini sudah tugas Ayah di kantor juga tugas Ayah sebagai kepala rumah tangga."
"Kita pindah mungkin dua bulan lagi, sayang. Jadi kamu masih punya waktu untuk ketemu teman-temanmu." ujar Leni menenangkan Ana.
"Kalo itu sudah jadi keputusan Ayah sama Bunda. Ana sebagai anak ikut aja." ujar Ana lembut. Sedang kedua orang tua nya tersenyum mendengar jawaban Ana.
Ana berdiri, "ya udah Ana ke kamar dulu Bun, Yah." Fadli dan Leni mengangguk seraya tersenyum mengiyakan.
🍒
"Dirga..." panggil Dina saat melihat anak laki-laki nya berjalan melewatinya begitu saja. Tidak seperti biasa.
"Kenapa Ma?"
"Sini duduk dulu." Dirga menyetujui, ia duduk di sebelah Dina.
"Apa kabar Ana?" tanya Dina langsung.
"Baik." Singkat, padat dan jelas. Hanya satu kata itulah jawaban yang di berikan Dirga.
"Mama kangen sama dia. Kamu ajak dia kesini ya." pinta Dina.
Dirga hanya bergumam, "hmm." Lalu berdiri meninggalkan Dina di ruang tengah sendirian.
Dirga juga kangen dengan Ana, tapi ia bingung bagaimana cara mengajak gadis itu ke rumahnya. Ia tahu Ana pasti sudah sakit hati gara-gara ucapannya. Ia juga terlalu gengsi untuk mengajak gadis itu mengingat kejadian dia membully Ana kemarin.
Menit berikutnya terlintas ide di otaknya. "Gue ajak Lisa aja. Sekalian ngenalin Lisa ke Mama. Biar Mama gak nanya Ana mulu." ujarnya seraya memakai kaos hitam polos.
Ia mengambil ponselnya di atas meja belajar lalu menelfon Lisa.
"Halo Lis."
"..."
"Nyokap mau ketemu sama kamu." bohong Dirga pada Lisa.
"..."
"Ya udah aku jemput sekarang."
Setelah memutuskan sambungannya, ia keluar menuju ruang tengah tempat Dina sedang menonton tv.
"Ma, aku keluar dulu ya. Assalamualaikum." pamitnya seraya mencium tangan Dina.
"Jangan lupa ajak Ana kesini ya" Dirga hanya menaikan alis sebelahnya. Ia tak mau berjanji pada Dina. Karena ia berniat mengajak Lisa bukan Ana...
🍒🍒
Thank u yang udah baca sampe part 21. Kata Rafa, kalian keren! 💙
KAMU SEDANG MEMBACA
Dirga (Completed)
Ficção Adolescente'karena gengsi, mengalahkan semuanya.' -----------------------------•••----------------------------- • Dirga Saputra, salah-satu murid di SMA Rajawali yang terkenal suka membully dengan kedua temannya: Aldy dan Rafa. Meski begitu, hanya Dirga lah ya...
