Setelah dari kantin, Aldy dan Ana memutuskan untuk kembali ke kelas. Disepanjang koridor hanya ada beberapa siswa yang masih berada diluar kelas.
Sepanjang jalan Ana sibuk dengan benda pipih di tangannya dan Aldy yang menyadari itu merasa penasaran hingga ia memberanikan untuk bertanya. "Lagi ngapain sih, Na?"
"Oh ini ada pesan suara tapi gak tau dari siapa."
"Buka aja, Na, kali aja penting kan." saran Aldy.
"Gak mungkin juga kan aku mau dekat sama dia. Bikin malu!"
"I love you Dirga."
"I love you too say---"
Belum sempat mendengarkan dengan selesai, Ana segera mematikan ponselnya. Ia tahu bahkan sangat mengenali siapa pemilik suara itu. Seketika tubuh Ana bergetar dengan raut muka yang tak bisa di tebak.
Aldy menyadari tingkah Ana yang berubah, tanpa meminta ia mengambil alih ponsel di tangan kanan Ana. Dan memutar pesan suara.
Tangan kiri nya mengepal serta rahangnya mengeras. Tanpa berpikir lama ia sudah bisa menebak siapa orang dibalik jejeran angka itu. "Jalang!" ujarnya dalam hati.
Aldy berjalan lebih dulu meninggalkan Ana serta membawa ponsel miliknya. Sedang gadis itu yang masih dipenuhi dengan isi pesan suara dipikiran nya berjalan kecil tak berniat mengikuti langkah besar Aldy.
Memasuki ruangan kelas 11 IPA 2 dengan suasana ricuh membuat Ana sedikit terkejut. Bahkan keterkejutan nya bertambah saat Aldy menampar Lisa begitu keras. Begitupun dengan beberapa murid yang awalnya tampak tak peduli kini kompak menghadap ke arah pojok kelas saat suara tamparan mengenai gendang telinga mereka.
"Jalang!" ucap Aldy dengan nada tajam.
Gadis dengan rambut di cepol itu pun berdiri dan tanpa aba membalas tamparan yang ia dapatkan barusan.
"Maksud lo apa hah?!" tanya Lisa.
"Maksud lo apa juga ngirim pesan suara itu ke Ana?!" tanya Aldy balik.
"Oh jadi karena itu lo datang ngamuk-ngamuk terus nampar gue? cuma karena itu? kenapa, kok lo yang kepanasan?"
"Oh iya gue lupa. Lo udah berubah profesi ya kan. Yang awalnya jadi tukang bully si cupu eh sekarang malah jadi pangerannya."
"Apa maksud lo ngirim gituan?!" ulang Aldy.
Lisa tersenyum, "maksud gue baik kok. Gue cuman mau Ana benci sama Dirga terus lo bisa deh jadi pangerannya si cinderella lo itu." ujarnya sembari menunjuk gadis di arah belakang punggung lawan bicaranya.
Aldy menoleh ke arah yang ditunjuk Lisa, pun dengan murid lainnya. Ia mendapatkan Ana yang berdiri diam dekat meja guru dengan muka merah dan mata yang mungkin sebentar lagi akan meneteskan air di dalam nya.
Lisa melanjutkan ucapannya, "gimana? baik kan gue. Harusnya lo itu terimakasih sama ide cemerlang gue ini." dengan menampilkan senyum smirk nya.
"Gue mau terimakasih kalau lo jauhin Dirga. Gak usah berhubungan lagi dengan Dirga. Kasihan gue sama dia punya pacar sakit begini."
"Lo suruh Dirga aja sendiri ngejauhin gue, pasti enggak mau tuh Dirga nya. Iyalah orang dia cinta banget sama gue." balas Lisa dengan tingkat percayanya yang tinggi.
"Kalau lo berhasil bujuk Dirga buat ngejauhin gue, oke gue bakalan putus sama dia. Tapi, kalau lo gak berhasil lo yang harus jauhin dia. Gak usah anggap Dirga sahabat lo lagi."
Suasana semakin mencekam saat keduanya saling balas ancaman.
"Asal lo tau, Dirga sebenarnya kasihan sama lo, suka sama Ana tapi gak berani nge-ungkapin. Pengecut!" ujar Lisa dengan membalikan jempolnya ke bawah tepat di hadapan Aldy. Sedang laki-laki itu terdiam ketika mendengarkan ucapan Lisa barusan.
Artinya selama ini Dirga sudah tahu tentang perasaannya pada Ana. Dari mana dan sejak kapan?
Aldy melirik Dirga, "gue gak pernah suka sama Ana." ucapnya lantang berharap laki-laki yang sedari tadi hanya diam dan sibuk dengan ponsel mendengar ucapannya.
"Bullshit!" ujar Lisa seraya pergi menuju tempat duduk nya.
Setelah Aldy mengatakan itu, ia menghampiri Ana. "Gue minta maaf." ucapnya pelan yang hanya mampu di dengar oleh gadis itu. Lalu, pergi berjalan keluar kelas.
Kini seisi kelas menatap Ana dengan berbagai tatapan sedang gadis itu menatap ke arah Dirga yang sedang menatapnya juga. Tak membiarkan untuk berlama-lama, Ana lebih dulu memutus tatapan mereka. Lalu pergi keluar kelas mencari kemana perginya Aldy.
Melihat punggung Aldy dari kejauhan, Ana pun mengikutinya tanpa sepengetahuan Aldy.
Mereka tiba di atap sekolah. Dua tahun Ana bersekolah di SMA Rajawali, ia belum pernah menginjakan kaki nya di tempat ini. Gadis itu memutar matanya ke segala arah, tak lupa angin segar yang menembus kulitnya menambah rasa kenyamanan berada di atas sini. Seolah tempat ini dapat menormalkan kembali pikirannya.
Sibuk memandangi kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana, membuat ia lupa tujuan awal ia kesini. Hingga suara berat menyadarkannya, "ngapain?"
Orang yang diikutinya tadi kini sudah duduk senderan di kursi buluk ujung sana. Ia mendekat, "nggak." ucapnya singkat.
"Lo ngikutin gue?" tanya Aldy.
Ana menggelengkan kepala. "Nggak."
"Kok bisa disini?"
"Ya bisa aja."
"Mau ngapain?" tanya Aldy terus-terusan berusaha memojokkannya.
Ana menghela nafas pelan. "Iya gue ngikutin lo." ujarnya dengan jujur.
"Kenapa?"
"Gue mau ngucapin makasih sama lo karena udah ngebela gue tadi."
"Makasih banyak ya, Al.." ucap Ana dengan tulus.
"Gue gak ngebela lo. Gue cuma kasihan sama lo." jawab Aldy.
"Gak papa apapun itu gue makasih banyak sama lo."
Dirga hanya menganggukkan kepala sebagai responnya. "Lo sering kesini?" tanya Ana.
"Iya."
"Boleh gue besok-besok kesini lagi?"
"Ini punya sekolah bukan punya gue. Siapapun boleh kesini." Setelah mengatakan itu, Aldy menidurkan badannya di kursi.
Ana tersenyum senang mendengar jawaban Aldy. Ia melirik laki-laki itu sudah memejamkan mata sedang dirinya kembali menikmati angin sejuk tanpa berniat untuk duduk.
🍒🍒
KAMU SEDANG MEMBACA
Dirga (Completed)
Teen Fiction'karena gengsi, mengalahkan semuanya.' -----------------------------•••----------------------------- • Dirga Saputra, salah-satu murid di SMA Rajawali yang terkenal suka membully dengan kedua temannya: Aldy dan Rafa. Meski begitu, hanya Dirga lah ya...
