Kubuka mataku perlahan—dan merasakan rasa sakit desekitar kakiku. Sinar lampu ini terasa sangat menyilaukan dimataku. Kukerjapkan mataku beberapa kali—memastikan aku bisa melihat dengan normal.
Oh tidak. Padahal baru sehari di Gwangju—dan bahkan ini belum genap satu hari—tapi kecerobohanku sudah mulai beraksi.
Aku memandang kesekeliling ruangan, kosong, dimana Sehun? Kucoba untuk menggerakan kakiku. Awww, sakit. Ternyata kaki kananku di gip. Apa yang terjadi padaku? Dan selang infus tolol ini menghalangi ruang gerakku.
Saat aku beranjak duduk seorang suster masuk ke dalam kamar.
"Oh, kau sudah bangun? Bagaimana persaanmu? Apa masih ada yang terasa sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja." Jawabku, mengabaikan sedikit nyeri di kakiku. "Apa yang terjadi, suster? Kenapa aku bisa sampai disini?"
"Kau tidak ingat?" Kugelengkan kepalaku "Well, tadi kau tertabrak mobil, sayang. Untung yang menabrakmu itu lekas membawamu kemari, jadi tidak ada yang terlalu serius."
Sekelebat gambaran kejadian itu muncul di kepalaku.
"Dia ada disini bersama kakakmu. Aku lihat mereka sedang mengobrol di lorong."
"Penabrakku?" tanyaku terkejut.
"Ya." Suster—kulirik nametagnya—Chaeyoung mengamati wajahku sebentar. "Kau mau aku panggilkan mereka?"
Baru saja aku ingin kabur dari ranjang ini untuk menemuinya. "Ya. Terima kasih."
"Jangan sungkan, sayang." Suster Chaeyoung keluar setelah memberikan suntikan padaku—untung dia menyuntikkannya ke selang infusku. Jangan salah, hanya karena aku sering masuk ke IGD belum tentu aku kebal dengan jarum suntik.
Kutunggu penabrakku datang sambil mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelum aku tidak sadarkan diri. Aku pikir saat itu aku melihat Taehyung dan berusaha untuk mengejarnya. Dan aku juga sempat menatap wajahnya dan dia menatapku balik. Tapi aku salah—setelah kuingat-ingat lagi—tatapannya bukan tatapan terkejut karena melihatku, tapi sorot ketakutan yang terpancar dari matanya. Apa dia tidak mengenalku?
Sebelum aku berpikir lebih jauh lagi, pintu kamat terbuka. Kulihat Sehun masuk, tapi Sehun sendiri. Dimana dia?
"Hei, kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" Sehun bergegas menghampiriku dan duduk di sisi ranjang. Tapi ada sesuatu yang aneh.
"Aku baik-baik saja, Sehun. Dokter yang berlebihan karena memasang gip ini. . ." Kulihat raut wajah Sehun dan menghentikan perkataanku.
"Kau bilang dokter berlebihan?! Tulang kaki mu patah, Nayeon. Beruntung patahnya seketika, jadi dokter bisa menanganinya. Dan apa yang kau harapkan? Kau berharap kau hanya pingsan saja setelah apa yang kau lakukan?!" Tanya Sehun masih dengan nada sedikit tinggi.
"Eumm. . ." Aku menciut dipandang tajam oleh Sehun. "memang apa yang kulakukan?" Aku benar-benar merasa tolol karena tidak tau sama sekali apa yang kulakukan. Sehun menatapku heran.
"Oh, tidak banyak, kau hanya lari ke depan mobil yang sedang melaju kencang." Nada suaranya sarkastik. "Beruntung kau hanya patah kaki dan memar-memar di beberapa tempat! Dan apa yang kau harapkan, Nayeon, apa?!"
Kubiarkan Sehun menumpahkan semua unek-uneknya. Setelah nafasnya mulai normal kembali, aku mulai berkata.
"Aku hanya. . .aku tidak sadar apa yang kulakukan, Sehun. Yang aku tau, tiba-tiba saja aku sudah berada didepan. . .tunggu, dimana dia? Dimana orang yang menabrakku?" Aku melihat kearah pintu, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang akan masuk. "Suster bilang kau sedang bersamanya."
Sehun terlihat sedikit bingung. "Dia. . .eum. . .dia ada urusan jadi harus pergi sebelum bisa menemuimu. Tapi dia menitipkan ucapan permintaan maaf padamu Nayeon padahalkan dia tidak salah." Kalimat terakhir terdengar sepertu gumaman. "Oh ya, Samchon dan Imo sedang kemari, mereka sampai dibandara beberapa menit yang lalu dan langsung menuju kesini."
Nada suara Sehun berbeda, apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Tapi apa yang dia sembunyikan? "Sehun, apa dia Taehyung?"
Sehun sedikit tersentak dengan pertanyaanku, tapi dia cepat-cepat mengubah ekspresinya. "Kau ini, Nayeon! Sudah kukatakan kalau Taehyung sudah meninggal. Dan bukan, dia bukan Taehyung."
Aku tidak percaya padanya. Aku yakin kalau yang kulihat itu Taehyung bukan orang lain. Kubuka mulutku untuk melakukan protes tapi sebelum sepatah katapun terucap dari mulutku, Sehun sudah terlebih dahulu bicara.
"Namanya Baekhyun, Nayeon. Dia berasal dari sini, tinggal disini, punya pekerjaan disini. Bahkan dia belum pernah datang ke Seoul, bagaimana bisa itu Taehyung, Nayeon?"
Butuh waktu cukup lama untuk memahami perkataannya. Dan setelah semuanya masuk dalam otakku bagaikan potongan puzzle yang telah menemukan kepingannya yang terakhir, aku merasakan ada sesuatu yang hangat membasahi pipiku. Benarkah itu bukan, Taehyung? Tapi aku tidak mungkin salah mengenalinya, dia yang paling aku kenal, dan aku yang paling mengerti dia. Jadi aku tidak mungkin salah mengenalinya, kan? Ini tidak masuk akal.
Aku tahu di dunia ini memang ada beberapa orang yang mirip, tapi tidak ada yang benar-benar mirip. Bahkan saudara kembar identikpun punya perbedaan, meski tidak terlihat secara signifikan. Tapi aku yakin dia seratus persen Taehyung. Aku yakin itu.
Tapi perkataan Sehun menghancurkan keyakinanku. Dia bilang namanya Baekhyun, bukan Taehyung. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana mungkin?
"Nayeon?"
Aku mendengar suara seseorang memanggilku dari arah pintu. Ternyata Samchon dan Imo sudah datang. Irene Imo langsung memelukku erat.
"Oh, sayang, bagaimana keadaanmu? Bagaimana bisa seperti ini?" Imo memelukku dan melihatku dengan tatapan prihatin, memperhatikan kakiku lalu beralih pada Sehun. "Dan kau, Sehun, kenapa kau tidak menjaga adikmu dengan baik?!"
"Mianhae, Imo." Sehun menunduk sambil mengusap-usap kepalanya.
"Aniya Imo, ini bukan salah Sehun. Aku sendiri yang ceroboh."
"Nayeon." Seokjin Samchon memelukku, berhati-hati dengan selang infusku.
"Aku baik-baik saja, Samchon. Jangan menghawatirkanku berlebihan seperti itu." Gerutuku.
"Bagaimana bisa hari pertama kau disini langsung menginap dirumah sakit? Kau bahkan belum sampai dirumah." Seokjin beralih menatap Sehun. "Apa kata dokter?"
"Well, tulang kakinya patah. Tapi karena patahnya secara tiba-tiba, proses penyembuhannya juga akan lebih cepat. Dokter bilang lusa Nayeon sudah boleh pulang, tapi tetap harus memakai gipnya selama satu minggu." Sehun melirikku. "Ini yang susah. Dia pasti akan melepaskan gipnya secara diam-diam. Kalian kan tau bagaimana Nayeon."
"Aku tidak akan melakukannya!" aku sedikit menggerutu.
Benar-benar menyebalkan kalau digoda seperti ini terus. Dan Sehun memang benar, melihat selang infus yang melekat ditanganku saja aku sudah gatal ingin melepasnya. Tapi kalau aku bertindak seperti ini, bagaimana aku bisa menemukan Taehyung? Maksudku Baekhyun. Oke, terserah siapapun namanya, tapi aku akan mencari tau sendiri. Bukan berarti aku tidak percaya pada Sehun, tapi aku hanya ingin tau. Sangat ingin tau.
TBC...
***
Picture : Byun Baekhyun
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever & Always | VNAY
FanfictionSUMMARY: "Ini adalah Cinta Sejati, dan Cinta Sejati Takkan Berakhir. Selalu dan Selamanya!" Disclaimer : Ini bukan FF asli author ya. FF ini aslinya milik penulis di fanfiction.net yang nama usernya Irabella Robsten. Author disini cuman ganti castn...
