Chapter 23 - Whatever Happen, We Will Face It Together

423 43 0
                                        

Part XV - Taehyung POV

        Nayeon. Nayeon. Nayeon.

        Sejak ingatanku kembali, aku tidak bisa berhenti memikirkan namanya—well, bukan cuma namanya saja sebenarnya. Aku beruntung karena orang yang aku cintai masih mencintai dan menungguku untuk kembali padanya. Meskipun keadaannya dia hanya sendiri —tidak ada seseorangpun disampingnya— tapi dia tetap bertahan. Nayeon benar-benar seorang wanita yang sangat kuat.

        Nayeon mengkhawatirkan reaksi keluargaku. Bukan reaksi mereka terhadap apa yang akan mereka pikirkan atau katakan tentang dia, tapi dia khawatir tentang apa yang akan mereka pikirkan tentangku. Gadis bodoh. Selalu saja memikirkan orang lain terlebih dahulu. Jangan salah, aku suka sifatnya itu, tapi kadang dia terlalu mengkhawatirkan orang lain daripada dirinya sendiri.

        Dan sekarang kami disini.

        "Eomma." Aku membalas erat pelukan Ibuku. Dua tahun kami tidak bertemu—okay, tidak juga, kami bertemu di acara pertunangan dan pernikahan Rose, tapi saat itu kami tidak saling kenal—dan sekarang, setelah dua tahun tidak pernah bertemu, akhirnya aku merasakan pelukan seorang Ibu lagi.

        "Taehyung." Jennie menangis tersedu-sedu dipelukanku. "Oh, Taehyung."

        Kukedipkan mataku, berusaha menghilangkan air mata yang mengaburkan pandanganku. Aku bisa melihat Lisa dan Ayahku masih dalam keadaan terkejut. Lalu Lisa mulai berjalan kearahku. Mulanya Dia berjalan dengan perlahan, tapi akhirnya Dia berlari ke arahku dan sama seperti Jennie, langsung memelukku. Kulepaskan salah satu tanganku dari punggung Jennie untuk memeluk Lisa.

        "Kau benar-benar masih hidup." Lisa terus menerus mengucapkan kalimat itu.

        "Ya, Lisa, aku masih hidup." Dan tangis merekapun semakin menjadi-jadi. Setelah beberapa menit, aku melepaskan pelukan mereka dan berjalan kearah Yixing, diapun berjalan kearahku. Kami bertemu ditengah. "Appa." Aku tersenyum, air mata masih mengalir dari mataku, begitupun dengan Ayahku.

        "Taehyung." Kami berpelukan. Seumur hidupku, belum pernah aku melihat Ayahku menangis. Tapi apa yang lebih membahagiakan selain melihat anaknya yang hilang kembali, bukankah begitu?

        "Appa." Suaraku tercekat.

                                                   ~oOo~

        Satu setengah jam kemudian, setelah bercerita panjang lebar —dari awal aku membuka mata di rumah sakit, bagaimana mereka berusaha meyakinkanku, foto-foto, perusahaan, Jisoo, pertama kali aku melihat Nayeon, dan hari dimana aku ingat segalanya— tidak ada suara yang keluar. Hening. Benar-benar hening. Sampai untuk bernafaspun takut akan merusak keheningan ini.

        Nayeon duduk disebelahku. Tangan kirinya dipangkuanku, ku genggam erat dengan kedua tanganku. Appa dan Eomma ada di sofa didepan kami, tangan kiri Appa merangkul pundak Eomma. Lisa duduk disebelah kiri kami, kakinya ditekuk, kedua tangannya melingkari kaki. Diapun diam. Tidak seperti Lisa yang selama ini kukenal— periang dan selalu bersemangat.

        Untuk sejenak aku berpikir apakah pendengaranku yang salah karena ini terlalu hening. Tapi belum sampai aku berpikir semakin jauh, Appa akhirnya bicara.

        "Jadi mereka punya bukti kalau kau adalah Baekhyun?"

        "Ne, Appa. Aku tidak akan percaya kalau tidak ada foto-foto itu."

        "Apa kau membawa fotonya?" Sekarang giliran Lisa yang bicara.

        Kualihkan pandanganku kearahnya. "Aniya. Aku tidak berpikir sampai kesana." Lalu aku berpaling pada Nayeon, Nayeonpun memandangku. Aku tersenyum. "Aku hanya berpikir kalau aku harus memberitahu Nayeon. Lalu Nayeon menyarankan kalau kami harus segera memberitahu kalian. Tidak ada yang tau tentang ini selain kami saat kami datang kemari."

Forever & Always | VNAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang