Part VIII - Nayeon POV
Aku terjaga sepanjang malam. Ingatanku terus melayang pada apa yang terjadi di pesta tadi. Bagaimana aku bisa membiarkan Baekhyun menciumku? Dan yang lebih buruk lagi, aku juga membalas ciumannya.
Ini tidak adil. Apa ini berarti aku sudah menghianati Taehyung? Tidak, tidak. Aku tidak menghianati Taehyung. Aku tidak akan pernah mencintai orang lain selain Taehyung. Tapi bagaimanapun aku sudah mencium orang lain.
Orang lain? Tidak, aku tidak benar-benar menghianati Taehyung. Aku sadar akan satu hal, bahwa aku tidak mencium Baekhyun tapi aku mencium Taehyung. Karena saat itu yang ada dipikiranku adalah Taehyung. Dan alasan lain yang sangat masuk akal adalah, karena dia sangat mirip dengan Taehyung.
Mianhae, Taehyung. Mian. Saranghae.
Aku tidak tau bagaimana bisa aku jatuh tertidur, dan aku rasa aku baru saja memejamkan mata saat aku merasakan ada seseorang memanggil namaku dan mengguncang-guncang tubuhku.
"Nayeon. Nayeon, bangun!"
"Tidak, Eomma, ini masih pagi." Jawabku masih setengah sadar.
"Nayeon, ini aku, Jisoo. Dan sejak kapan aku jadi ibumu?"Jisoo? "Ayolah, kau kan sudah janji hari ini mau menemaniku mencari undangan untuk pernikahanku." Pernikahan?
Kubuka mataku perlahan dan kulihat Jisoo duduk ditepi ranjang. "Hei, Jisoo." Kulirik jam di meja. "Tapi ini kan masih terlalu pagi." Keluhku seraya meregangkan badanku.
"Pagi? Demi Tuhan, Nayeon. Jam berapa kau tidur? Lihat kantung matamu." Aku tidak peduli.
"Arasseo, Arasseo. Aku akan bersiap-siap dulu."
"Oke. Aku tunggu dibawah."
Setelah badanku bersih dan memakai baju yang cukup pantas—tetap saja kalau Lisa melihat pasti akan menceramahiku habis-habisan—akupun turun kebawah.
Saat sedang berjalan kebawah, aku memikirkan lagi kejadian tadi malam. Benarkah Jisoo tidak tau apa yang terjadi? Apa aku juga telah menghianati Jisoo? Aku tidak tau harus bagaimana.
"Jisoo?"
"Aku disini."
"Selamat pagi, sayang. Sarapan dulu sebelum kalian berangkat." Kata Irene Imo.
"Pagi, Nayeon." Sapa Seokjin Samcheon.
"Pagi." Kataku sambil duduk di kursi. "Dimana Sehun?" Tanyaku setelah tidak melihat Sehun pagi ini.
"Dia sedang jogging dengan Baekhyun." Jawab Jisoo.
Mendengar nama Baekhyun membuatku tersedak. Aku harus bersikap sewajar mungkin, aku tidak mau Jisoo curiga atau apa.
"Kau ini, hati-hati." Tegur Imo.
"Iya, aku juga tidak buru-buru kok." Kata Jisoo sembari menepuk-nepuk punggugku.
"Mian, mian."
Setengah jam kemudian kami sudah berada disebuah toko bernama Love Yourself—sebuah toko percetakan undangan.
Saat Jisoo sedang memilih-milih undangan, pandanganku tertuju pada satu contoh undangan yang terpajang didalam lemari. Undangan itu berwarna biru—warna yang sangat disukai Taehyung. Andai saja. . .
"Nayeon, bagaimana dengan yang ini?" Tanya Jisoo sembari menyodorkan salah satu contoh undangan.
Undangan itu berwarna emas, tulisannyapun berwarna emas. Terlalu mencolok untukku—tapi, well, inikan memang bukan untukku. "Pilihan yang bagus, Jisoo. Kau punya selera yang bagus rupanya. Aku pikir kau dan Rose akan menjadi teman yang baik." Kataku sembari masih memandangi undangan yang ada ditanganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever & Always | VNAY
FanfictionSUMMARY: "Ini adalah Cinta Sejati, dan Cinta Sejati Takkan Berakhir. Selalu dan Selamanya!" Disclaimer : Ini bukan FF asli author ya. FF ini aslinya milik penulis di fanfiction.net yang nama usernya Irabella Robsten. Author disini cuman ganti castn...
