"Tae-hyuunngg!" Suara Nayeon terdengar dari lantai atas dan aku langsung berlari secepat kilat kekamar kami yang ada di lantai dua. Yap, kamar kami.
Setelah aku melamar Nayeon di Padang Rumput kami, aku langsung bilang pada Nayeon kalau aku tidak ingin menunggu terlalu lama. Nayeonpun memutuskan bulan apa kami akan menikah dan aku yang memutuskan tanggalnya. Akhirnya kami sepakat untuk mengambil 26 Juli sebagai hari pernikahan kami.
Lisa jadi Lisa. Reaksi pertama setelah kami memberitahu keluargaku dan keluarga Nayeon di acara makan malam dia langsung berteriak dan meloncat-loncat seperti anak kecil didepan pohon natal dengan tumpukan hadiah dibawahnya. Tapi setelah dia tahu kapan tepatnya kami akan menikah, ekspresi kecewa, jengkel dan marah langsung tergambar jelas diwajahnya.
"Mwo? Itu terlalu dekat. Paling tidak beri aku waktu sampai tahun depan untuk mempersiapkan segalanya."
"Lisa," Aku memulai tapi Lisa memotong ucapanku.
"Aku kan harus menyiapkan gaunmu. Bunga, undangan, makanan, belum lagi mencari gedungnya, dan…"
"Lisa, stop!" Akhirnya aku bisa, tunggu, itu bukan suaraku. Kulirik Nayeon yang dari tadi duduk disebelahku, diam.
Selama ini Nayeon selalu mengalah pada Lisa, aku rasa ini memang waktunya dia bicara. Kuremas jari-jarinya dengan lembut.
"Nayeon?" Lisa bertanya, tatapannya tidak fokus. Seolah dia tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
Nayeon menarik nafas. "Aku menghargai semua yang ingin kau lakukan, tapi ini pernikahanku, Lisa, dan aku ingin menjadikan pernikahanku sesuai dengan keinginanku." Muka Lisa berkerut tak suka. Kuremas lagi jari-jari Nayeon yang masih aku genggam. "Selama ini aku selalu menurut padamu, tapi tidak selamanya aku harus menurutimu. Aku juga punya keinginan. Dan inilah harapanku, menikah dengan orang aku cintai dan yang mencintaiku dan dengan cara yang kami inginkan. Bisakah kau melakukan itu?"
Nayeon meminta Lisa untuk mengerti. Padahal dia tidak harus meminta ijin Lisa, tapi karena Ia tidak mau menyakitinya, dia melakukan ini. Rasa cinta dan banggaku pada Nayeon semakin bertambah.
Kami semua terdiam, menunggu Lisa menanggapi permintaan Nayeon. Setelah hening cukup lama akhirnya Lisa menjawab.
Tangannya berada dipangkuan dan kepalanya sedikit menunduk. "Jwesunghaeyo, Nayeon. Aku tidak sadar kalau aku begitu egois selama ini. Aku hanya ingin yang terbaik untuk orang-orang yang aku cintai."
Jimin langsung memeluk pundak Lisa. "Ini bukan salahmu, Lisa."
"Jimin benar. Kau tidak bisa menghilangkan perasaanmu itu, hanya saja, bisakah kau sedikit meredamnya?" Lisa menatap Nayeon dan mengangguk. "Bagus, karena kau masih punya tugas untuk mempersiapkan pernikahanku."
Mata Lisa langsung melebar dan wajahnya berubah. "Jinjja?" Nayeon tersenyum padaku lalu mengangguk kearah Lisa. "O-MO-NA! Aku harus segera mempersiapkannya mulai malam ini juga." Jika tidak dirangkul Jimin, mungkin saat ini juga Lisa sudah menghambur keseluruh ruangan. Well. Mungkin terlalu berlebihan tapi memang begitulah Lisa.
"Jangan keterlaluan." Nayeon mengingatkan. Semangat Lisa langsung sedikit memudar tapi kemudian tersenyum berseri-seri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever & Always | VNAY
FanfictionSUMMARY: "Ini adalah Cinta Sejati, dan Cinta Sejati Takkan Berakhir. Selalu dan Selamanya!" Disclaimer : Ini bukan FF asli author ya. FF ini aslinya milik penulis di fanfiction.net yang nama usernya Irabella Robsten. Author disini cuman ganti castn...
