Chapter 15 - Am I Taehyung?

652 61 14
                                        

Part XI - Baekhyun POV

        Kutatap wajah Nayeon. Sepertinya Ia tidak sadar telah mengatakan pertanyaan itu keras-keras. Atau tidak sadar Ia mengatakannya padaku.

        "Nayeon?"

        Mukanya perlahan memerah. Lalu Ia menunduk. Ice Cream di tangannya sama sekali belum dimakan.

        "Jadi seharian ini—saat kita bersama—kau memikirkan Taehyung?" Aku merasakan sesuatu menusuk hatiku. Menjalar perlahan sampai hatiku berdenyut sakit. Rasa kecewa, cemburu dan sakit hati membutakanku. "Bagaimana bisa kau seperti itu?"

        Nayeon terkesiap lalu memandangku. "Baekhyun? Mianhae. Aku…"

        "Aku tahu kau masih sangat mencintainya Nayeon. Tapi tidak bisakah kau…" Aku kesulitan mencari kata-kata yang tepat menggambarkan perasaanku dan juga tidak menyinggung Nayeon. "…tidak meletakkannya tepat didepan mataku? Aku tahu aku bukan Taehyung tapi aku juga masih punya perasaan." Kugelengkan kepalaku dan kupalingkan wajahku.

        Untuk beberapa saat kami hanya terdiam. "Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Tapi kalau perkataanku telah menyinggungmu, Mianhar. Jeongmal, bukan itu maksudku. Hanya saja…" Nayeon terdiam. Kualihkan pandanganku padanya tepat saat air mata keluar dari mata indahnya.

        "Nayeon…" Kugenggam tangannya.

        "Ini terlalu sama. Kalian sangat mirip." Kubuka mulutku tapi Nayeon sudah menggeleng terlebih dahulu, lalu kututup lagi mulutku. "Aku tahu apa yang akan kau katakan. Dan bukan itu maksudku. Wajah kalian memang sangat mirip, tapi bukan cuma itu. Sikap dan tingkah laku kalian terlalu sama. Dan… dan kau tahu apa yang orang lain tidak tahu tentangku. Mianhaeyo."

        Nayeon menarik tangannya yang ku genggam dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis dan terus meminta maaf. Aku terdiam, mencerna semua penjelasan Nayeon.

        Mirip. Wajah kami memang mirip. Tapi bukan cuma itu? Pikiranku terus berputar disitu. Bukan cuma itu.

        Lamunanku terputus saat Nayeon berdiri dan bicara, tapi tidak pernah Ia melihat kearahku. "Aku rasa aku akan pulang sekarang."

        "Okay." Aku masih terlalu syok untuk berbicara lebih dari satu kata.

        "Dan…" Nayeon ragu-ragu tapi akhirnya Ia berpaling dan memandangku. Matanya merah dan sembab. "…lebih baik kau lupakan apa yang tadi aku katakan. Anggap saja aku benar-benar sudah gila. Dan aku mohon, jangan pernah ungkit-ungkit lagi hal ini. Apalagi sampai ada orang lain yang tahu."

        "Mwo? Kau tidak…"

        "Aku tahu aku tidak pantas meminta ini padamu. Tunggu dulu," Katanya saat aku akan memprotes. "aku hanya tidak ingin menyakiti orang lain. Aku sudah menyakitimu. Tidak perlu ditambah lagi dengan Jisoo."

        Dan alasannya tepat. Aku sendiri juga tidak ingin Jisoo mengetahui tentang malam ini. "Geuraeyo. Tapi bukan berarti aku akan melupakannya begitu saja."

                                                   ~oOo~

        Tapi yang membuat sakit kepalaku bertambah parah adalah Nayeon. Sejak kencan kami—well, sebenarnya bukan kencan sih, tapi aku lebih suka menganggapnya begitu—sikapnya berubah. Dia menghindariku, jika bersama dalam satu ruanganpun dia tidak pernah melihat kearahku. Aku sudah berusaha untuk mengajaknya bicara, tapi Nayeon selalu punya alasan untuk menyibukkan dirinya, bahkan belum sempat aku mengucapkan sepatah katapun dia sudah menghilang.

Forever & Always | VNAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang