Part III - Nayeon POV
Kesendirian dan kesepian mungkin bagi semua orang akan terasa membunuhmu secara perlahan, kau menjadi frustasi dan putus asa. Lalu jalan keluar apa yang ada dalam pikiranmu? Pasti sebilah pisau, sebotol racun atau sebuah pistol yang kau curi dari serif setempat-atau dalam kasusku, ayahku. Tapi apa semua itu bisa membantu dan bisa menyelesaikan masalah?
Aku percaya dan yakin bahwa dia masih disini, hanya sedang pergi sementara, dalam jangka waktu yang, bisa dibilang belum ditentukan. Dan aku yakin suatu hari nanti dia akan kembali untukku, seperti janjinya padaku.
"Yeon-ie?"
"Nde?" Jawabku sambil tetap memandangi sungai yang membentang dihadapanku.
"Kau tau, aku mencintaimu." Katanya sambil mencium rambutku.
Aku tersenyum. "Ne, Arrayo. Kau pasti juga tau kalau aku mencintaimu."
"Itu sudah pasti." Taehyung semakin mempererat pelukannya. Dia memelukku dari belakang, menjagaku agar tidak kedinginan. Seoul memang selalu seperti ini.
"Kau kenapa? Apa ada masalah?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin bilang kalau aku mencintaimu. Dan aku ingin kau selalu mempercayainya. Tidak peduli aku disini bersamamu atau tidak. Kau harus tetap ingat bahwa aku selalu dan akan terus mencintaimu selamanya."
Ku putar tubuhku untuk melihat wajahnya. "Dan aku juga seperti itu. Tidak peduli kau ada dibelahan dunia mana, aku tetap mencintaimu. Dan semua itu tidak akan bisa diganggu gugat."
Taehyung tersenyum lalu meraih wajahku dengan kedua tangannya yang hangat. Perlahan dia mendekatkan wajahnya padaku, kupejamkan mataku menunggu bibirnya menyentuh bibirku. Ciuman itu hangat, lembut tapi semakin lama semakin dalam dan panas. Aku bisa merasakan darah mendesir di tubuhku. Kurangkulkan kedua tanganku di lehernya, lalu satu tanganku beralih ke rambut perunggunya, meremasnya. Satu tangan Taehyung meluncur kepunggunggu.
Aku tidak akan pernah merasa bosan untuk menciumnya, ciumannnya selalu membuatku hangat dan merasa tenang. Bahkan hanya berada dekat disisinya saja sudah membuatku merasa aman.
Saat ciuman kami berhenti, Taehyun mengecup keningku dan memelukku dengan erat di dadanya. Ku benamkan wajahku di kehangatan dadanya, merasa enggan untuk beranjak dari pelukannya.
Dering telepon membangunkanku dari lamunan, kembali lagi kemasa kini. Ku ambil ponselku dan melihat siapa yang menelpon.
"Halo, Rose."
"Halo, Nayeon. Ya Tuhan, aku rindu sekali padamu. Kudengar kau sudah sampai di Gwangju."
"Ya, seminggu yang lalu. Kau masih di Itali?"
"Tidak, aku baru pulang kemarin. Dan aku ingin segera bertemu denganmu, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu." Jelas Roseanne Park.
"Benarkah Roseanne Park? Hm... biar ku tebak, pasti soal namja?"
"Ha ha. Kau ini. Bagaimana kau bisa tau?"
"Hei, aku kan sahabat yang baik dan perhatian. Aku tau kapan kau jatuh cinta."
"Jinjja?" Rose terdengar terkejut.
"Wow, jadi aku benar. Kau jatuh cinta, Rose? Ini berita besar."
"Hentikan Nayeon!" Rose terdengar marah, tapi aku tau sebenarnya dia sedang tersipu malu. "Um.. sampai bertemu nanti. Aku akan mampir untuk makan malam, tadi Irene Ahjumma menelponku. Sampai nanti."
"Tentu. Sampai ketemu nanti, Rose." Ku tutup teleponku dan menyimpan didalam tasku. Hari ini aku harus kerumah sakit untuk melakukan cek up. Mudah-mudahan gip ini sudah bisa dilepas.
Tok tok tok. Lalu pintu terbuka.
"Hei, kau sudah siap?" Tanya Sehun.
"Tentu, aku turun sebentar lagi."
"Perlu kubantu untuk turun?"
Kugertakkan gigiku rapat-rapat dan mendesah. "Tidak usah, Sehun aku baik-baik saja."
"Baik kalau begitu." Pintu tertutup kembali dan bisa kudengar suara langkah Sehun yang semakin menjauh. Aku selalu merepotkan mereka.
Aku mendesah dan mengambil tasku lalu berjalan kearah pintu. Aku sudah berlatih untuk naik turun tangga dengan kondisi kaki seperti ini. Bukan masalah besar, mereka memang selalu melebih-lebihkan.
"Nayeon, sarapan sudah siap." Panggil Irene Imo dari dapur. Kuseret kakiku kesana.
"Hei Momo, Jihyo. Apa yang sedang kalian buat?"
"Kami sedang menyusun Puzzle." Jawab Momo.
"Benar." Kali ini Jihyo yang bicara. "Tunggu sampai sudah jadi, kau pasti akan terkejut, Nayeon."
"Oh, aku sudah tidak sabar." Kataku sebelum beralih ke Irene Imo. "Pagi, Imo."
"Pagi Nayeon. Mian hari ini Samcheon tidak bisa mengantar kau ke rumah sakit. Pagi-pagi sekali tadi dia harus pergi."
"Gwaenchana Imo, lagi pula ada Sehun." Kulirik Sehun yang sedang asyik makan.
"Iya, kami akan baik-baik saja." Sehun menimpali.
Saat sarapanku hampir habis, bel berbunyi. Kira-kira siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Batinku.
"Apa Imo sedang menunggu seseorang?" Tanyaku.
"Ani."
"Biar aku yang buka." Kata Sehun lalu berjalan kepintu depan.
Kuhabiskan sarapanku, tapi kenapa Sehun belum kembali juga? Setelah jusku habis, kutaruh piring dan gelas kotor di tempat cuci piring dan membersihkannya.
"Sudah, Nayeon, tinggalkan saja. Biar Imo yang membersihkan."
"Gwaenchana Imo, lagi pula dirumah aku biasa melakukannya."
Lalu terdengar suara langkan kaki mendekat, tapi bukan hanya satu orang melainkan dua.
"Um.. Nayeon, kita kedatangan tamu." Suara Sehun terdengar semakin dekat.
Kubalikkan badanku dan betapa terkejutnya aku saat melihat siapa yang berdiri disamping Sehun. Dia, dia... Tae.. Baekhyun.
"Selamat pagi, Nayeon." Sapanya dengan suara lembutnya.
Kutelan ludahku sebelum menjawab sapaannya. "Er.. selamat pagi."
"Selamat pagi Nyonya..."
"Kim. Dan selamat pagi juga." Balas Imo. Suaranya masih terdengar terkejut. "Apa kau mau sarapan?"
"Tidak terima kasih, aku sudah sarapan tadi"
Aku bingung harus berkata apa. Terus terang aku belum siap menerima semua ini, kenyataan bahwa dia bukan Taehyung. Karna dia terlalu mirip dengan Taehyung. Lalu apa yang dilakukannnya disini pagi-pagi begini?
Seolah bisa membaca pikiranku, Baekhyun bicara. "Aku disini untuk mengantarmu ke rumah sakit. Kemarin aku tidak sempat menjemputmu dari sana karena aku begitu sibuk. Jadi aku ingin mengantarmu kesana. Apa kau keberatan?" Tanyanya.
"Um..."
Imo menyela, "Wah, kebetulan sekali. Suamiku tidak bisa mengantar Nayeon hari ini. Tadinya aku khawatir kalau mereka pergi sendiri. Dan kami tidak keberatan kalau kau mau mengantar Nayeon ke rumah sakit, tapi apa itu tidak merepotkanmu?"
"Sama sekali tidak. Jadi, bagaimana Nayeon?" Tanya Baekhyun padaku.
"Karena sudah terlanjur, mau bagaimana lagi." Kataku sambil mengangkat bahu lalu kuambil tasku yang ada di samping kursi. Menabahkan diri agar tidak berlari untuk memeluknya. Ingat Nayeon, dia bukan Taehyung. Aku bicara dalam hati.
"Mau kubantu?" Tawar Baekhyun.
"Ani, Gomawo."
Ini pasti akan menjadi salah satu hari yang panjang.
TBC...
***
Picture : Roseanne Park
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever & Always | VNAY
FanficSUMMARY: "Ini adalah Cinta Sejati, dan Cinta Sejati Takkan Berakhir. Selalu dan Selamanya!" Disclaimer : Ini bukan FF asli author ya. FF ini aslinya milik penulis di fanfiction.net yang nama usernya Irabella Robsten. Author disini cuman ganti castn...
