Dua

10.1K 657 3
                                        

"Na, besok bisa ke kantor, kan? Kangen kamu nih.."
Aku meringis menerima telepon dari Mbak Ode, editorku, siang itu. Aku menduga, dibalik kangennya, Mbak Ode pasti menagih naskah baruku.

"Mau nagih naskah aja dibungkus kangen. Ketebak."
Sahutku pura-pura galak. Membuat tawa Mbak Ode disebelah ikut pecah.

"Nggak ih, Na. Beneran bukan soal naskah, kok. Tapi ya kalo bisa sekalian kamu bawa mentahannya, aku nggak nolak lho.."

"Hmmm halus banget masuknya.."

Sekali lagi tawa kami berdua pecah berbarengan.

"Tapi seriusan, Na. Bukan soal naskahmu kok. I know, you still need a break from that so called tagih-tagih naskah. Ini soal novelmu yang kemarin malahan.."

Keningku berkerut.

"Novelku kemarin kenapa, Mbak?"

"Congratulation, dia masuk best seller mulai bulan kemarin. A good start for this month, huh?"

Tanpa sadar senyumku melebar. Aku nggak mau munafik, penulis mana yang nggak mau bukunya best seller? Dan sekarang buku-ku masuk kedalam jajaran buku yang terjual sebanyak lima puluh ribu eksemplar.
Nothing can beat that, i guess.

"Kamu nggak kedengeran bahagia. Something's wrong?"

Dan seperti yang sudah-sudah, Mbak Ode selalu lebih bisa menebakku daripada diriku sendiri.

"Aku saking bahagianya sampe nggak bisa ngomong apa-apa, Mbak.. Besok pagi aku ke kantor, oke? Ngopi?"

Buru-buru aku memperbaiki mood-ku, berharap agar Mbak Ode tidak lagi mencatat kesalahan bahkan yang mungkin terlihat hanya dari suaraku.

"I know you Kanaya Soerja. Pacarmu sibuk banget? Atau ada masalah sama orang apart yang suka berisik berantem tiap malem itu?"

Aku tegelak. Ingat pada tetangga unitku yang hampir setiap hari lewat di lorong sambil beradu mulut, entah ada saja alasannya.

"Udah besok aja sekalian. Kan nggak lucu kalo aku cerita semua sekarang, besoknya kita cuma diem-dieman sambil nyeruput kopi.."

"Dih.. Ya udah kalau masih mau rahasia-rahasiaan, yang penting besok kutunggu di kantor. No cancellation."

Aku tertawa sekali lagi sambil mengakhiri panggilan dengan Mbak Ode.

Kusandarkan tubuhku di bantal yang kutumpuk tinggi di sofa ruang tamuku. Berusaha berpikir kenapa dengan berita se-menyenangkan tadi, aku justru terlihat tidak bahagia.

Seharusnya aku bahagia. Bisa kurasakan sendiri bagaimana perasaanku kalau saja saat ini aku tidak mendadak terserang writer's block seperti ini.

Berita best seller-nya novelku ternyata justru menjadi sebuah tuntutan baru.
Seolah peringatan bahwa aku pernah menulis sebagus itu, dan pertanda bahwa buku keduaku, harus lebih baik lagi daripada yang pertama.
Atau setidaknya, sama.

Tetapi sekarang, jangankan sama, menuliskan satu halaman saja aku sama sekali tidak sanggup.

Rasanya seperti seluruh kalimat itu sedang berlarian di dalam kepalaku, mencuat kemana-mana, sedangkan aku tidak bisa melakukan apa-apa bahkan hanya untuk menangkapnya satu saja.

Pesan singkat dari Arka yang datang sejak dua jam lalu, sengaja masih kuabaikan.
Tidak, sama sekali tidak ada yang salah dari laki-laki itu, hanya saja aku sedang tidak dalam mood yang baik untuk sekadar membalas pertanyaannya soal apakah nanti malam kami bisa bertemu atau tidak.

------
"Kok WhatsApp-ku nggak dibalas?"

Aku akhirnya mengangkat telepon dari Arka setelah laki-laki itu berusaha menghubungiku sampai tiga kali.

Jumat malam memang hampir selalu menjadi jadwal bertemuku dengan Arka. Sejak pacaran dengan dia, baik aku maupun Arka memang sengaja membatasi pertemuan, bukannya apa-apa, hanya saja aku tahu pasti sangat melelahkan bagi Arka untuk bolak-balik rumah-kantor-dan tempatku.

Lagipula, aku juga bukan perempuan tujuh belas tahun yang sedikit-sedikit butuh diantar kemana-mana oleh pacarku.
Jadi karena alasan efisiensi, kami memutuskan hal itu.

"Aku ketiduran tadi, ini baru bangun. Jadi kesini?"
Terdengar Arka berdeham di ujung telepon.

"Habis pulang kantor aku jemput kamu ya. Aku mau ditemenin nyari bakmi.."

Kali ini aku tertawa.

Hubungan kami kadang memang sesederhana menemani Arka makan bakmi, atau menemaniku berburu ayam geprek.

"Aku mau pajak dicuekinnya.."

Gantian aku mendengar suara tawa Arka diujung telepon.

"Iya nanti dicium. Aku duluan ya. Waalaikumsalam."

"Eh..Assalamualaikum."
Aku ikut menutup telepon setelah Arka, namun kali ini dengan tersenyum lebar.

Sepertinya aku akan meralat kalimatku soal aku yang tidak seperti perempuan umur tujuh belas tahun tadi, karena tanpa sadar, mendengar kalimat candaan dari Arka tadi langsung membuat jantungku kembali berdebar dan pipiku mendadak hangat.

Bukan Arka namanya kalau nggak tahu bahwa aku bisa selemah itu hanya karena kalimat-kalimat receh darinya.

Burnt Bridge (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang