Kanaya Tentang Arka

5.8K 477 6
                                        

Bahkan sepulang dari kantor pun, pikiranku masih saja tidak tenang.
Kali ini bukan hanya soal tulisanku yang tak kunjung selesai, melainkan tambahan pikiran mengenai Arka yang tadi pagi diceritakan secara tak sengaja oleh Rinald.

Beberapa kali aku membuka ponselku, dan mengecek notifikasi yang salah satunya ternyata juga dari Arka.

"Habis maghrib aku tempatmu, boleh?"

Tanpa menjawabnya, aku memutuskan untuk langsung menelepon laki-laki itu.

"Ada apa, Na? Kok nelpon?"
Suara Arka menyambutku setelah deringan kedua.

"Aku barusan dari kantor penerbit tadi, Ka. Kamu jadi mau ke tempatku? Ada apa emangnya?"

Sengaja aku memberondong laki-laki itu dengan pertanyaan, siapa tahu itu cukup bisa meringankan rasa penasaranku.

"Harus ada apa-apa dulu kalau mau nyamperin pacarku sendiri?"

Aku mencibir, meskipun Arka tidak bisa melihat cibiranku.

"Kamu tuh kebiasaan, jawab pertanyaan pake pertanyaan lagi. Pengacara emang begitu ya?"

Kali ini Arka berdeham tak suka.

"Kamu juga kebiasaan, bawa-bawa profesi kalau lagi kehabisan stok sanggahan. Penulis emang begitu, ya?"

Aku tertawa sumbang.
Sejujurnya aku bersyukur karena Arka selalu bisa memenangkan perdebatan tanpa perlu membuatku marah.

"Habis isya' aja gimana, Ka? Habis maghrib kaya'nya aku mau pesen makanan dulu. Mau bakmi?"

"Kamu nggak usah keluar, aku aja yang bawain nanti. Kamu mau makan apa?"

"Hmmm sushi gimana? Aku lagi pengen makan sushi sebenernya. Nanti kamu tinggal ambilin aja, aku pesen sekalian di tempat biasa."

"Aku bakmi ya. Kamu pesenin sekalian aja gimana? Biar aku nggak ngantri.."

"Iya, tapi kamu ada apa sampe bela-belain kesini? Biasanya kamu istirahat kan.."

Jujur aku masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Arka tadi. Rasanya dia memang ingin menyampaikan sesuatu, tetapi belum ingin menceritakannya.

"Ya istirahatnya kan bisa di tempatmu.."

"Ya udah iya, aku tutup dulu ya. Assalamualaikum.."

"Waalaikumsalam."

--------------

Perasaanku lebih membaik daripada sebelumnya. Setidaknya aku tidak sampai penasaran lebih lama lagi, karena aku paham betul, Arka sendiri bukan tipe orang yang suka menyembunyikan sesuatu.

Tetapi bukankah terkadang kita juga tidak bisa memahami orang yang terdekat dengan diri kita sendiri?

Bahkan meskipun sudah hitungan satu tahun lebih, rasanya masih banyak hal soal Arka yang tidak kupahami.

Arka.
Aku mengenalnya sejak SMA, karena memang aku asli Yogyakarta juga.
Tapi ketika kuliah, aku pindah ke Malang, sedangkan Arka tetap di Jogja.

Tidak pernah akrab selama SMA ternyata justru membuat kami dekat setelah acara reuni yang berlangsung kurang lebih dua tahun lalu.

Saat aku baru saja bekerja di Gamma.co, dan Arka baru menyelesaikan pendidikan S2-nya dan mulai bekerja di salah satu firma hukum milik kenalannya semasa kuliah.

Hanya butuh waktu sekitar kurang lebih sembilan bulan sampai pada akhirnya aku memutuskan pacaran dengan laki-laki itu, setelah hampir tiga tahun menjomblo.

Arka yang kukenal semasa SMA memang tidak cukup akrab denganku, cuma sekadar tahu karena sempat beberapa bulan aku dan dia tergabung di ekstrakurikuler fotografi.
Karena setelah itu rasanya Arka langsung mengundurkan diri dari ekskul.

Burnt Bridge (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang