"Kok kuperhatiin, akhir-akhir ini mukamu makin kucel sih, Na? Sakit?"
Mas Ferdi yang siang itu memimpin meeting untuk project yang kami tangani, mendadak menghentikanku sebelum aku keluar ruangan seusai rapat.
"Nggak kok, Mas. Cuma agak kurang tidur aja. Ada beberapa tambahan di penerbitan buku baruku, makanya agak sering begadang."
Aku tidak sepenuhnya berbohong.
Beberapa hari ini aku memang mengerjakan urusan penerbitan bukuku, menyiapkan launching-nya yang mungkin akan kulakukan sekitar sebulan lagi, memikirkan hadiah untuk pre-order, bahkan mencicil tulisan untuk pembatas buku.
Tapi sejujurnya pikiran tentang Arka lah yang beberapa kali lumayan menyita konsentrasiku.
"Jangan dipaksain, Na. Kamu boleh kok ambil cuti kalau emang butuh istirahat banget. Jangan sampe tumbang demi kerjaan. Inget itu."
Aku mengangguk sambil mengacungkan ibu jariku di udara.
"Ya udah, buat project ini sementara masih ikut Reyhan aja ya, Na. Biar kamu bisa sambil ngurusin bukumu juga."
Perintah Mas Ferdi langsung disambut anggukan tegas dari Reyhan, dan kelegaan dariku.
Jujur tidak ada lagi yang lebih kusyukuri selain bisa bekerja di dua tempat, dengan orang-orang super baik seperti Mas Ferdi, Mbak Ode, dan juga Reyhan.
Baru aku akan melanjutkan pembuatan perencanaan agendaku, tiba-tiba ponsel hitam yang kugeletakkan di meja, bergetar.
Angga.
"Waalaikumsalam, Ga. Ada apa?"
Dengan cepat aku memutuskan untuk menyingkir dari ruangan rapat, dan memilih salah satu ujung koridor untuk mengangkat telepon dari Angga siang itu.
"Kapan? Kalau minggu ini aku padat banget. Senin depan gimana? Aku lagi kosong jadwal itu."
Dengan cepat aku memberi jawaban pada ajakan Angga untuk menemaninya makan malam.
Seperti yang sudah kusepakati dengan diriku sendiri sejak awal.
Bahwa antara aku maupun Angga, sepanjang kami masih sama-sama sendiri, maka hal itu tidak bisa disebut sebagai sebuah kesalahan.
Dan memang beberapa kali juga, aku dan Angga kembali janjian untuk makan bersama setelah peristiwa di Filosofi Kopi waktu itu.
Dan Arka, seperti yang bisa kuramalkan.
Selama ia jauh, maka ia juga tidak akan mengingatku sering-sering.
Bodoh memang, kalau hanya karena pelukan singkat dan ciuman kecil di puncak kepalaku saat itu, perasaanku bisa se-tidak karuan ini sekarang.
"Janjian terus."
Aku menoleh dan mendapati Reyhan sudah berdiri tak jauh dari tempatku menelepon.
"Apaan deh. Orang cuma mau nyobain warung bebek baru punya temennya Angga, kok."
Aku mencebik Reyhan yang masih mengekoriku.
"Masih mau nyangkal kalo si mantan itu nempelin kamu terus?"
"Setan kali nempel, Re.."
Aku menjawab Reyhan sambil lalu. Berusaha menghalau pikiranku sendiri atas Angga yang justru makin gencar mendekat kembali kepadaku.
"Dicariin orang tuh di lobi."
Mataku menyipit menatap Reyhan yang kali ini sudah mengambil alih ruangan meeting.
"Siapa?"
Entah kenapa rasanya ada hal yang membuat perasaanku terganggu. Semoga bukan--
"Mantan sesi dua."
KAMU SEDANG MEMBACA
Burnt Bridge (Completed)
Romance"Aku pernah membaca di sebuah novel favoritku semasa SMA dulu, bahwa menjalin hubungan, apapun itu, dengan siapapun itu, layaknya membakar sebuah jembatan." Buuum! And there is no turning back. Begitu pula aku kepadanya. Sayangnya hanya aku yang me...
