Part 37

6K 471 13
                                        

Sesampainya di kantor, jujur debar jantungku masih belum begitu pulih ketika Reyhan dengan tiba-tiba muncul dari belakangku.

"Kaya'nya hubungan owner resto dan customer-nya udah meningkat jadi supir dan majikan, nih."

Seketika aku mencubit lengannya, yang justru disambut tawanya yang terbahak-bahak. Kebiasaan memang Si Kepo ini kalau ngomong suka banget sembarangan.

"Lagian tiap pagi lagaknya macam pasutri baru pada umumnya aja, giliran ditanyain masih juga gak ada hubungan apa-apa."

Aku cuma mencebik, sambil terus berlalu meninggalkan Reyhan yang masih mengekorku.

"Yakin, Na, masih belum yakin sama Arka?"

Aku memilih mengedikkan bahuku sebagai jawaban.

Jujur, perasaanku pada Arka memang masih sama besarnya seperti saat aku masih pacaran dengannya dulu. Tetapi untuk mengiyakan tawaran Arka, entah kenapa, rasanya aku masih tidak bisa semudah itu.

"Arka termasuk sabar banget, lho, Na. Coba aku, udah kutinggal kamu dari dulu-dulu."

"Ya itu bedanya kamu sama Arka, makanya aku maunya sama dia, bukan sama kamu."

Aku menutup mulutku seketika setelah mengatakan kalimat barusan.

"Tuh, kan, tuh.. Gitu masih aja jual mahal banget. Udah kasih aja kali, Na."

Apa kubilang, salah bicara sedikit saja akibatnya bisa heboh kalau sudah berhadapan dengan Reyhan. Kali ini ia bahkan masih mengekoriku, sambil menarik-narik tasku.

"Re, lepasin, nggak?"

"Udah bilang aja dulu 'iya' gitu. Nggak ada ngeri-ngerinya kamu, Na, nyia-nyiain calon suami macam si Arka.."

Aku melebarkan senyumku.

"Lama-lama aku justru curiga sama hubungan kalian berdua, deh, Re. Dibayar berapa sama Arka buat nge-buzz dia begini?"

"Semprul!"

Kali ini Reyhan benar-benar melepaskan cengkeraman tangannya dari tasku. Dan untuk sementara, aku bisa sedikit lebih tenang beberapa jam ke depan untuk menghadapi pekerjaanku.

------------

"Na, nanti balik duluan aja nggak papa."

Mas Ferdi yang mendadak muncul di ruanganku, mengatakan satu hal yang langsung membuat keningku berkerut.

"Lho? Urusan Pak Cakra gimana, Mas? Bukannya kemarin dia minta teleconfrence meeting buat ngerombak konsep barunya?"

Aku jelas tidak bisa semudah itu mengiyakan ucapan Mas Ferdi barusan. Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan urusan klien-ku, Pak Cakra, yang sekitar seminggu lalu ngamuk karena ingin merombak konsep acara kantornya itu?

"Orangnya mendadak ke Singapura tadi siang, anaknya rewel minta apartemen baru katanya."

Aku cuma mengangguk-angguk paham. Ya, namanya juga Pak Cakra, salah satu klien paling potensial Gamma, pengusaha properti yang namanya terkenal di seluruh Yogyakarta, bahkan sampai se-antero Jawa Tengah mungkin, jelas tidak ada satupun orang di kantor ini, bahkan termasuk Mas Ferdi, bisa membantah semua titahnya.

Klien adalahnya raja-nya raja. We all know.

"Dijemput apa sendiri nanti, Na?"

Kali ini Mas Ferdi justru bertanya sambil menghampiri mejaku.

"Rencananya, sih, bareng sama Arka, Mas. Kenapa memangnya?"

"Nggak papa, kok. Ya udah, lanjut dulu aja."

Burnt Bridge (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang