Seperti orang bodoh, aku memandangi sendiri jari manisku yang sekarang sudah terpasangi cincin dari Arka tadi.
Ada perasaan aneh yang menurutku amat sangat sulit kujelaskan. Karena, pertama, jelas aku sangat bahagia, sebodoh apapun aku pernah melepaskan Arka tetapi pada akhirnya memang cuma dia, laki-laki yang ingin kudampingi selama sisa hidupnya.
Kedua, aku lega. Lega karena pada akhirnya aku tahu, bukan cuma aku yang jatuh cinta mati-matian di hubungan kami berdua.
Ketiga, aku takut.
Jujur, dengan menerima lamaran Arka begini, secara tidak langsung, aku sudah mengiyakan laki-laki itu untuk masuk lebih dalam kedalam hidupku.
Dan itu berarti, aku harus siap, mau tidak mau, membagi apapun dengan dia.
Termasuk hal-hal yang selama ini mungkin masih enggan kulakukan.
Ponsel yang masih didalam tasku mendadak berdering, dan ternyata telepon dari Ibu.
"Waalaikumsalam, Bu. Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, Nduk. Cuma mau tanya aja, tadi Arka diterima kan?"
Suara Ibu yang bercampur tawa di seberang telepon, tak urung membuatku ikut tersenyum lebar. Arka tidak berbohong ternyata.
"Ibu kenapa nggak cerita sama aku? Gini kan aku jadinya sungkan, sudah bersikap nggak baik sama Arka."
Ibu sekali lagi cuma tertawa.
"Nduk, bahkan sejak kalian putus pun, Arka sudah cerita lebih dulu sama Ibu sama Ayah. Dia telepon lama banget, cerita gimana kerjaannya di Surabaya yang ternyata repot banget itu, sampai akhirnya dia cerita kalau kalian berantem sampai kamu minta putus."
Aku terbelalak. Tidak menyangka kalau aku justru kalah cepat soal cerita pada orangtuaku.
"Setelah itu hampir setiap hari Arka telepon rumah, Nduk. Ya dia nggak bilang apa-apa, cuma nanya kabar Ayah sama Ibu, sesekali nanyain kamu pulang apa nggak. Sampai seminggu lalu, dia minta izin ke Ayah buat melamar kamu lagi."
Perasaanku menghangat. Sangat jauh dari perkiraanku tentang Arka, karena ternyata laki-laki itu jauh lebih paham tentang apa yang seharusnya ia lakukan. Sedangkan aku, kenyang makan ego hanya karena ia jarang menghubungiku selama di Surabaya dulu.
"Arka baru sekali ini kok, Bu, ngelamarnya. Kapan hari itu cuma nembak."
Aku tertawa-tawa kecil sambil menjawab perkataan Ibu.
"Arka bilangnya sudah pernah kok, Nduk. Tapi belum sempat bilang, kamu sudah marah-marah duluan gara-gara tersedak bakmi."
Aku menggigit bibir bawahku menahan tawa mendengar cerita Ibu.
Oh, jadi sebenarnya waktu itu Arka rencananya sekalian mau nembak dan melamar.
Pilihan waktu dan tempat yang nggak banget memang.
Mentang-mentang dia suka bakmi, apa itu berarti kalau melamar juga harus di warung bakmi sekalian?
Heran aku.
Benar kata Reyhan, terkadang Arka ini memang nggak ada pengacara-pengacaranya.
"Tapi Ibu sama Ayah seneng banget, akhirnya Arka berani juga. Salut Ibu sama dia, pinter bikin kamu nurut."
Keningku berkerut.
"Jadi ini maksudnya aku sekalian diumpan ke Arka karena dia bisa bikin aku nurut gitu?"
Ibu tertawa di ujung telepon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Burnt Bridge (Completed)
Romantizm"Aku pernah membaca di sebuah novel favoritku semasa SMA dulu, bahwa menjalin hubungan, apapun itu, dengan siapapun itu, layaknya membakar sebuah jembatan." Buuum! And there is no turning back. Begitu pula aku kepadanya. Sayangnya hanya aku yang me...
