"Nggak pengen pisah banget dari aku, Na?"
Angga yang kali itu langsung mengambil duduk di dekatku, kembali menggodaku.
Aku menanggapinya sambil mencibir. Lagian, mana aku tahu kalau Angga itu masih adik sepupunya Mbak Vira?
"Kamu kaya'nya yang masih nggak mau jauh dari aku, kan selalu aku yang datang duluan, baru kamu. Kelihatan dong siapa ngintilin siapa?"
Angga terbahak.
Membuat Mas Ferdi dan Mbak Vira sekali lagi berdeham, bahkan meskipun mereka berdua terlihat sedang mengobrol dengan anak-anak Gamma lainnya.
"Masih aja nggak mau kalah. Pacarmu pasti kasusnya selalu menang, orang debating partner-nya aja kamu."
Kali ini gantian aku yang tertawa.
"Iya lah, skill debatku juga makin terasah gara-gara pacaran sama dia. Bentar, kamu datang kesini bukan karena kamu udah tahu aku datang kan?"
Angga tertawa sekali lagi.
"Kurang-kurangin deh praduga-nya. Nggak segitunya juga kali.."
"Iya tahu, mana mungkin juga kamu tahu aku pernah kerja di Gamma."
"Lho, kalau soal itu aku emang udah tahu.."
"Lho?"
Kali ini alih-alih menjawab, Angga justru memainkan kedua alisnya untuk menggodaku. Kebiasaannya kumat.
"Aku pernah lihat fotomu di akun Instagram-nya Mas Ferdi. Ternyata kalian satu kantor.."
Aku manggut-manggut mendengarkan penjelasan Angga.
"Pantesan pas di warung es dawet kemarin kamu bilang kalo aku aneh-aneh ngantor."
Ia mengangguk menanggapiku.
"Tapi soal kamu datang kesini, aku nggak tahu apa-apa ya, jadi ya memang nggak sengaja kita ketemu lagi."
Aku tertawa.
"O iya, aku lupa bilang, aku beli novelmu lho. Cuma aku nggak bisa ikut pre-ordernya. Kapan-kapan aku bawa, minta tandatangan boleh, kan?"
Aku berpura-pura berpikir sebentar, membuat Angga tiba-tiba mendecakkan mulutnya.
"Jual mahal bener deh.."
Aku terbahak, "Iya.. iya, lain kali bawa aja. Atau kalo perlu bawa terus aja di tas, jadi tinggal minta deh kalo misalnya kita nggak sengaja ketemu lagi."
"Bisa aja sih kaya' gitu, sekalian cap bibir boleh?"
Refleks aku menoyor lengannya, "Itu ngomong apa buang sampah sih? Sembarangan banget."
Angga mengusap-usap lengannya yang barusan kutoyor, sambil tetap tertawa menggodaku.
"Jangan kebiasaan toyor-toyor cowok begini, Na?"
Tiba-tiba ucapan Angga berubah menjadi serius, membuatku mendadak was-was.
"Kenapa sih, Ga?"
"You know lah, a little touch does matter."
Angga menjawab dengan ekspresi yang sulit kutangkap maksudnya.
"Aku nggak paham maksudmu."
Aku mengalihkan pandanganku, sambil kembali menyibukkan diri dengan pancake-ku.
Angga cuma tertawa kecil, "I know you do."
------------
"Itu mantan jaman kapan sih, Na? Masih akrab banget gitu? Arka tahu nggak?"
Seperti yang sudah bisa kutebak bahkan sejak Angga dan aku saling menyapa tadi, Reyhan pasti tidak bisa menahan diri dari rasa penasarannya untuk bertanya tentang keakraban kami tadi.
"Itu mantanku jaman kuliah dulu, Re. Sempet bertahun-tahun sih, makanya masih akrab gitu."
Reyhan cuma menanggapiku sambil diam, kebetulan juga tinggal kami berdua di mobil karena dia yang mengantarkanku pulang.
"Arka tahu kok kalau dia disini juga, kebetulan kapan hari aku ketemu dia di Malioboro."
Kali ini Reyhan mulai manggut-manggut.
"Lagian kenapa kalian nggak langsung nikah aja sih? Udah setahun lebih ini.."
Aku tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Reyhan barusan.
"Nggak segampang itu, Re. Tahu sendiri lah, aku sama Arka masih sama-sama tahap penyesuaian kesibukan. Gimana bisa bayangin nikah kalau masih sama-sama sibuk begini?"
"Matter of time juga sih ya, Na. Been there, done that. Aku sama istriku juga sempet maju mundur gara-gara sama-sama sibuk sebelum nikah."
"Nah itu bener kan? Lagian aku sama Arka juga masih sama-sama mau begini dulu.."
"Yakin sama-sama mau begini dulu?"
Aku menoleh, menatap Reyhan tak paham.
"Yakin-yakin aja sih. Kenapa emangnya?"
Kali ini Reyhan justru memilih untuk tidak menjawab, dan membuang tatapannya dariku.
"Nggak papa kok."
Daripada menuruti ke-sok misteriusan Reyhan, aku memilih kembali menatap jalanan didepan, sambil sesekali mengirimkan pesan WhatsApp pada Arka.
------------
"Seru banget acaranya sampe nggak bisa kutelpon ya?"
Aku mendengus pelan menanggapi Arka. Tumben hari ini dia menelepon saat jam bahkan sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih.
Padahal biasanya ia anti meneleponku sampai larut malam begitu.
"Ya biasa aja, orang cuma makan malam. Ngobrolnya sih yang lumayan seru. Aku kan lama nggak ketemu sama Mbak Vira, apalagi ada Mas Ferdi sama Reyhan juga kan.."
Arka masih diam.
"Tumben kamu nelponnya jam segini? Nggak ada kerjaan yang harus diselesaiin?"
Ia justru menghembuskan nafas berat diujung telepon. Membuatku mulai was-was dengan akibat pertanyaan yang baru saja kuajukan tadi.
"Cuma ada anak-anak Gamma aja?"
Aku tercekat.
Pikiranku sempat melayang pada sosok Reyhan yang mungkin membicarakan perihal Angga kepada Arka, tapi rasanya tidak mungkin.
Aku paham Reyhan bukan tipe teman yang suka ikut campur urusan orang lain, apalagi Reyhan juga sudah mendengar penjelasanku soal Angga.
"Ada Angga.."
"Oh.. Kok bisa ada dia juga?"
Kali ini suara Arka terdengar melunak.
"Aku juga baru tahu kalau dia sepupuan sama Mbak Vira, makanya diajak juga."
"Gitu kok nggak cerita?"
Aku mengulum senyumku. Arka kalau sudah membombardir pertanyaan seperti itu, bisa dipastikan tidak akan bisa dibantah.
"Ya menurutku itu nggak penting buat diceritakan, Ka.."
"Cerita sama aku nggak penting?"
Kepalaku mulai pusing akibat mengantuk dan berondongan pertanyaan Arka yang menurutku justru sama sekali tidak penting itu.
"No, bukan soal cerita sama kamunya, soal ketemunya sama Angga yang nggak penting buat diceritain. Kenapa sih kamu, Ka?"
Terdengar helaan nafas panjang dari Arka sekali lagi. Sepertinya obrolan ini tidak berjalan baik-baik saja.
"Kita baru pisah tiga minggu kok rasanya kaya' aku langsung nggak tahu apa-apa soal kamu ya.."
Ya Tuhan, aku paling benci obrolan seperti ini. Lagipula kenapa jadi terdengar seperti aku ini sedang tertangkap basah selingkuh dengan orang lain?
Dan lagi, sejak kapan Arka bisa berubah jadi se-insecure ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Burnt Bridge (Completed)
Romansa"Aku pernah membaca di sebuah novel favoritku semasa SMA dulu, bahwa menjalin hubungan, apapun itu, dengan siapapun itu, layaknya membakar sebuah jembatan." Buuum! And there is no turning back. Begitu pula aku kepadanya. Sayangnya hanya aku yang me...
