Part 21

4.8K 405 1
                                        

Aku dan Reyhan memutuskan untuk mampir untuk makan gudeg di daerah Wijilan untuk makan siang sebentar setelah meeting dengan klien kami sejak pagi tadi.

"Aku masih kagok banget ngadepin klien, Re. Rasanya selama beberapa bulan kedepan aku bakalan ngekor kalian aja, deh. Mana klien sekarang mintanya makin macem-macem ya.."

Reyhan tertawa sambil masih sibuk dengan gudeg-nya.

"Halah, kamu ikut dua kali project aja aku yakin, habis itu bakalan disuruh pegang project sendiri sama Mas Ferdi."

Aku mencibir.

"Ya nggak gitu juga, Re. Dikata gampang apa, udah beberapa tahun vakum trus mendadak disuruh pegang sendiri gitu? Oiya, Dena apa kabar? Sampe belum sempet nanya.."

Aku mendadak teringat Dena, istri Reyhan yang dulunya juga teman sepermagangan kami.

"Alhamdulillah, lagi isi dia, Na. Jalan trimester pertama sih, makanya lagi repot-repotnya ini aku ngurusin dia ngidam."

"Alhamdulillah. Gitu nggak cerita. Kapan-kapan ajakin ketemuan dong, Re.. Kangen nih.."

Reyhan kembali mencibirku.

"Segala aja dikangenin. Tadi project dikangenin, sekarang istriku juga dikangenin, itu pacar sendiri apa kabar, kok perasaan nggak pernah dikangenin.."

Aku segera menyeruput es teh-ku. Rasanya ada yang menyangkut di tenggorokanku mendengar Reyhan mendadak balik menanyakan kabar Arka seperti itu.
Aku berdeham pelan.

"Apaan sih, Re.."

Aku sendiri masih belum tahu bagaimana cara menanggapi pertanyaan tentang Arka seperti ini.

"Loh aku nanya beneran, Na. Arka gimana kabarnya? Lama banget perasaan nggak ketemu dia Jogja. Masih di Surabaya? Sampe kapan?"

Reyhan bertanya dengan sangat biasa, dan hal itu justru membuatku menjadi lebih kesulitan untuk menjawabnya.
Sebenarnya aku bisa saja langsung mengatakan bahwa kami berdua sudah putus hubungan, tetapi ini Reyhan, yang jelas-jelas kenal baik dengan Arka. Dan jelas tidak mungkin juga aku cuma mengatakan bahwa kami berdua putus, tanpa menjelaskan alasannya.

"Na, something wrong happens?"

Dan entah kenapa, aku seolah ingin mengutuk diriku sendiri karena begitu mudahnya dibaca dan ditebak oleh orang lain.

Dan sebagai jawabannya, aku cuma mengangguk sambil tersenyum kecil.

"Don't tell me that it just doesn't work."

Aku menggeleng.

"It does, Re. Long distance relationship is just not for us. Nggak bisa aku sistem hubungan jauh-jauhan begitu ternyata, Arka juga.."

Kalimatku menggantung.
Satu hal yang baru kusadari, bahwa dalam setiap penjelasanku atas alasan putusku dan Arka, aku selalu mengatakan bahwa kami berdua sama-sama tidak bisa LDR, padahal dalam kenyataannya, aku yang lebih dulu mengatakan pada Arka bahwa aku yang tidak bisa, sementara Arka tidak mengiyakan apapun sama sekali.

"Aku baru tahu kalo Arka tipe orang yang nggak bisa LDR.."

Ucapan Reyhan jelas ditujukan kepada dirinya sendiri, tetapi dalam keadaan seperti ini, aku justru merasa tertampar.
Reyhan pasti lebih tahu bagaimana Arka selama ini kalau berhubungan dengan perempuan lain sebelumku. Dan alasan yang kukatakan, sudah pasti tidak termasuk dalam alasan yang tepat menurut pendapat pribadinya.

"Kamu yakin, Na, Arka juga setuju sama keputusan kalian?"

Sekali lagi Reyhan seolah sedang mencocokkan apa yang diingatnya selama ini dari sosok Arka, dengan apa yang terjadi dengan kami berdua sekarang.

Burnt Bridge (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang