Dulu kupikir memutuskan untuk menjadi seorang full-time writer alias benar-benar mengabdikan waktuku hanya untuk menulis, bisa membuatku jauh lebih bebas dari tekanan pekerjaan.
Karena yah, bekerja di salah satu event organizer besar sekelas Gamma.co membuatku benar-benar merasa lebih banyak tertekan dulunya.
Awalnya aku memang menikmati dan menyukai pekerjaanku ini, belum lagi posisiku dulu adalah seorang client service yang bertugas untuk menjadi penghubung antara klien dengan project officer kantorku.
Sebuah posisi yang juga mengharuskanku untuk mendampingi klien-ku dari awal project hingga akhir.
Sampai akhirnya aku bisa menjadi salah satu project officer yang bertugas dan bertanggungjawab untuk meng-handle seluruh event yang diterima Gamma.co.
Sebuah posisi yang pada akhirnya benar-benar kulepaskan, setelah aku memilih fokus untuk menulis.
Aku masih ingat keputusan dua tahunku yang yang lalu, dimana pada akhirnya aku mengajukan pengunduran diri dari Gamma.co, membuat Mas Ferdi, owner tunggal Gamma.co beberapa kali menerorku untuk memintaku kembali.
"Udah nggak papa kamu sambi nulis kek, mendaki gunung kek, apapun itu, but don't quit. Kamu udah di Gamma dari dia masih piyik sampe segede ini, masa nyerah gini aja, Na.."
Aku ingat, saat itu Mas Ferdi sampai secara khusus mengajakku bertemu empat mata di salah satu private resto, demi membicarakan ini.
"Aku yang nggak bisa bagi-nya mas. Nulis, edit, revisi, terbitin buku, itu bener-bener pekerjaan yang nggak bisa bikin perhatianku dibagi-bagi."
"Oke nggak papa, saking aja ini kamu Kanaya orangnya, kapanpun kamu mau balik ke Gamma, i"ll wait. Kapanpun itu."
Aku tertawa sekaligus merasa terharu saat itu.
Terkadang memang merasa diinginkan, bisa se-menyenangkan itu rasanya.
"Ada Reyhan, Mas. Mbak Ditha, Pranu, Gusti. Jangan bikin aku ngerasa seolah aku ini the one and only gitu deh.."
Aku terkikik, berusaha menjadikan rasa haruku sebagai bercandaan sendiri saat itu.
"No, mereka punya bidangnya sendiri-sendiri, Na. Dan kamu, kamu ya kamu. Project yang kamu pegang, itu ya kamu. Gak bisa disamain."
"Ya itu mas, sama kaya' kerjaanku jadi penulis."
Mas Ferdi mendengus.
"Bisaan banget kamu balik-balikin omongan ya. Udah, pokoknya, kapanpun kamu mau balik ke Gamma, aku bakalan terima kamu lagi. Like, pulang aja, rumah nggak harus satu kok.."
Aku tertawa sekaligus tetap meminta doa dari Mas Ferdi untuk pekerjaan baruku, saat itu.
-------------
Ponsel yang kuletakkan di nakas terlihat menyala, menampilkan sebuah notif pesan dari Reyhan.
"Ngumpul yok, Na. Diajakin Mas Ferdi."
Aku langsung meneleponnya.
"Dimana?"
"Ku jemput sama anak-anak ya? Ke Abhaya Giri kita ntar malem."
Aku membelalak. Mas Ferdi pasti sedang ada hajat besar kalau sampai mengajak makan-makan fancy begitu.
"Menang project besar, Re?"
"Mbak Vira hamil, Na. Seneng banget dia tuh. Tadi aja mulai dari sarapan, makan siang, dia semua yang handle. Ini juga rasanya kedepannya bakalan sering-sering nraktir dia.."
"Alhamdulillah.. Tapi beneran gak papa nih, aku gabung?"
Mbak Vira itu istrinya Mas Ferdi. Menikah sudah hampir sepuluh tahun, dan baru hamil sekarang, tentu hal itu menjadi satu "project" terbesar yang akhirnya dimenangkan Mas Ferdi.
"Justru Mas Ferdi yang minta, Na. Sekalian ketemu Mbak Vira, ngucapin selamat gitu. Jam 7 oke?"
Aku menyetujui ajakan Reyhan. Kangen juga dengan anak Gamma kalau sudah lama begini.
----------
Abhaya Giri malam ini terlihat sama menawannya seperti biasanya.
Menyuguhkan suasana fancy sekaligus romantis, membuat tempat ini menjadi salah satu tempat yang paling kusukai di Jogja, sejak kunjungan pertama.
Berangkat satu mobil dengan Reyhan, Mbak Ditha, Pranu dan lainnya membuatku seketika flashback ke saat-saat emasku di Gamma.co dulu.
Sesampainya di salah satu area yang sudah di reservasi Mas Ferdi, aku langsung menghampiri mereka berdua yang terlihat sibuk mengobrol.
"Long time no see, Kanaya.."
Mbak Vira langsung bangkit dari duduknya dan memelukku.
"Mbak jangan langsungan gitu dong, baby-mu.." Aku setengah berteriak, sedangkan Mas Ferdi dengan sigap menangkap kedua bahu Mbak Vira.
"Dia emang begitu, Na. Suka lupa kalo nggak sendirian lagi sekarang. Gimana kabarmu? Udah ada kepinginan balik kesini belum?"
Ucapan Mas Ferdi seketika disambut tawa dari seisi ruangan.
"Pepet terus aja Mas, dia mah sok banget sekarang. Jadi penulis kerjaannya keluyuran melulu."
Kali ini Reyhan menimpali, membuatku refleks mencebikkan bibir.
"Mas Ferdi nggak ada basa-basinya emang, langsung tembak aja tuh Mbak Vir.."
Aku menyenggol lengan Mbak Vira, membuat sang empunya gantian menertawaiku.
"Lho, emang harusnya gitu, Na. Kelamaan basa-basi malah jadinya basi beneran. Gimana, mau balik ke Gamma kapan?"
Merasa salah meminta perlindungan, kali ini aku justru kembali jadi bahan tertawaan pasangan favoritku itu.
"Nggak.. nggak becanda aja kok, Na. Ferdi emang tuh, masih sulit rasanya dia mau cari penggantimu. Tapi santai aja udah, balik kapanpun kamu mau, we welcome you with a pleasure.."
Kali ini aku kembali terharu, mengingat sudah lebih dari dua tahun aku meninggalkan Gamma.co, dan sambutan mereka terhadapku ternyata masih sehangat itu.
"Udah masuk minggu ke berapa Mbak? Gimana rasanya? Aku beneran ikut bahagia pas dikabarin Reyhan tadi.."
Sengaja aku mengalihkan pembicaraan soal Gamma menjadi topik kehamilan Mbak Vira, yang sebenarnya justru menjadi poin acara makan malam kali ini.
"Alhamdulillah udah trimester dua, Na. Aku nggak bisa nemuin kebahagiaan lain selain ini. Dan kamu tahu? Dia kembar, Na.."
Refleks aku kembali memeluk Mbak Vira, membuat perempuan itu justru menyeka airmata bahagianya.
"Maaf telat, Mbak.."
Sampai tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing itu lagi. Seketika aku menoleh kearah belakang, dan benar saja, aku mendapati Angga berdiri disana, kali ini dengan kaus polo hitam dan celana panjang khaki-nya.
"Lho, Ga?"
"Kanaya?"
"Lho? Kenal?"
"Wah.."
Berbagai ekspresi keterkejutan seolah bersahutan antara aku, Angga, Mas Ferdi, Mbak Vira, bahkan Reyhan dan beberapa anak kantor lainnya.
"Dia temenku, Mas."
"Mantan lebih tepatnya.."
Angga mengoreksi ucapanku, membuat dehaman kembali terdengar dari beberapa sudut ruangan, termasuk dari Mbak Vira dan Mas Ferdi sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Burnt Bridge (Completed)
Любовные романы"Aku pernah membaca di sebuah novel favoritku semasa SMA dulu, bahwa menjalin hubungan, apapun itu, dengan siapapun itu, layaknya membakar sebuah jembatan." Buuum! And there is no turning back. Begitu pula aku kepadanya. Sayangnya hanya aku yang me...
