Aku memilih diam sambil duduk disebelah Arka yang serius menyetir.
Ia bahkan membukakan pintu mobilnya untukku, menutup pinggiran mobilnya dengan telapak tangannya, memastikanku tidak terbentur karena ya tentu saja si ceroboh Kanaya ini sudah sangat sering terbentur pinggiran mobil Arka yang cukup rendah itu.
"Kamu ngapain disana?"
Aku tidak tahan akhirnya dengan diam yang kami ciptakan dengan sengaja, dan memutuskan untuk membuka pembicaraan.
"Ada klien yang ngajak bahas kasus, tapi dia nggak mau di kantor, makanya aku ajak kesana. Ternyata aku lihat kamu."
Aku kembali menggigit bibir bawahku saat mendengar penjelasan bernada datar dari Arka.
"Kamu udah lama lihat aku disana?"
Entah kenapa ada perasaan takut untuk menyakiti laki-laki itu kalau ia sampai harus melihat bentuk keakrabanku dengan Angga tadi.
Soal Angga, semoga laki-laki itu cukup pintar untuk memahami situasi yang membuatku harus pergi tanpa pamit tadi.
Dan rasanya untuk itu, aku pasti berhutang satu kesempatan makan untuk penjelasanku.
"Dari kamu masuk, aku udah lihat."
Ya Tuhan, ternyata Arka melihat semuanya.
Lalu bagaimana bisa sekarang aku tidak merasa bersalah, bahkan meskipun posisinya bukan lagi pacarku.
"Aku nggak sengaja ketemu Angga di kantor, dan beberapa kali aku nolak ajakannya makan bareng. Nggak enak aja rasanya kalau terus-terusan menghindar, sementara kami nggak punya masalah apa-apa."
Sengaja aku menegaskan soal "tidak punya masalah apa-apa" kepada Arka, agar laki-laki itu paham, selama ini pikirannya soal hubunganku dan Angga ialah salah besar.
"Nggak papa, Na, kamu nggak perlu menjelaskan apapun soal hubunganmu sama Angga kok.."
Aku tersentak.
Baru beberapa menit lalu ia mengatakan tidak suka melihatku dengan laki-laki lain, lalu sekarang secara mendadak mengatakan lagi bahwa ia tidak berhak mendengarkan penjelasanku.
"Maksud kamu apa, Ka? Kamu nggak suka lihat aku sama Angga, dan sekarang dengan sombongnya kamu bilang kamu nggak butuh penjelasan. Mau kamu apa sih?"
Arka gantian mendesah pelan.
Aku tahu ia pasti sedang menyimpan balasan atas ucapanku barusan.
"Aku memang nggak suka dan nggak bisa lihat kamu sama Angga."
Aku menoleh dan mendapati laki-laki itu mengucapkan hal barusan tanpa ekspresi.
"Tapi kamu juga nggak punya alasan untuk nggak suka."
Entah atas keberanian macam apa yang membuatku langsung menjawab seperti barusan.
"Bukan aku nggak punya alasan. Kamu, yang nggak perlu tahu apa alasanku."
Seketika aku melongo. Laki-laki ini kenapa sih? Seenak udelnya saja dia mempermainkan perasaanku seperti ini.
Tidak perlu tahu alasannya?
Alasan macam apa itu?
Apa sekolah hukum strata 2 mengajarkannya untuk memberi alasan se-tidak masuk akal itu?
"Selama aku nggak tahu alasannya, kuanggap aku nggak tahu apa-apa."
Arka masih memilih diam.
"Dan karena aku nggak tahu apa-apa, kuanggap dekat dengan Angga tidak menjadi sebuah kesalahan ataupun masalah apapun."
Aku melirik sisi kiriku, dan tetap mendapati ketenangan didalam sikap Arka.
Sial.
Kenapa aku jadi terkesan seperti perempuan murahan begini?
**********
"Boleh mampir sebentar? Aku capek."
What?
Setelah sekian menit mengabaikanku layaknya perempuan gila yang mengomel sendiri, sekarang ia tiba-tiba ingin mampir apartemenku untuk istirahat?
KAMU SEDANG MEMBACA
Burnt Bridge (Completed)
Romance"Aku pernah membaca di sebuah novel favoritku semasa SMA dulu, bahwa menjalin hubungan, apapun itu, dengan siapapun itu, layaknya membakar sebuah jembatan." Buuum! And there is no turning back. Begitu pula aku kepadanya. Sayangnya hanya aku yang me...
