Part 24

4.8K 458 9
                                        

"Jadi, ada obrolan maha penting apa nih kira-kira sampai harus sejauh ini bawa aku minum kopi?"

Setelah mengobrol receh selama kurang lebih setengah jam di perjalanan menuju kedai Filosofi Kopi bersama Angga, aku kembali membuka pembicaraan sesaat setelah kami berdua mengambil salah satu tempat di kedai yang cukup ramai malam ini.

"Na, tolong ya, aku nggak harus punya bahan obrolan dulu kan, buat bisa minum kopi bareng kamu gini?"

"Iya sih, memang. Tapi kaya'nya terlalu lucu sih buat ukuran dua orang mantan yang masih berhubungan baik, sampai harus repot-repot nyetir jauh kalau nggak ada bahan obrolan.."

Ucapan panjang sekaligus niatku untuk menyindir Angga langsung mendapat tanggapan berupa wajah kaget dari laki-laki itu.
Aku sedikit banyak masih paham, bagaimana sifat dan sikap Angga.
Anak itu, hampir tidak pernah mau melakukan sesuatu kalau tidak ada tujuan dan maksudnya.
Agak berbeda dari Arka, yang terkadang lebih suka spontan dalam melakukan apapun.
Bahkan, terkadang terkesan tanpa tujuan.

Come on, Kanaya.
Didepanmu itu sedang ada Angga, lalu bisa-bisanya kamu justru membayangkan Arka yang mungkin sekarang lebih berbahagia dengan tumpukan berkas kasus-kasus kriminalnya.

"Udah lama aja nggak ngobrol dekat sama kamu, Na. Gimana rasanya balik ngantor lagi?"

Aku terkekeh pelan.
Sebuah usaha yang cukup manis dari Angga untuk memulai sebuah obrolan.

"Baik. Alhamdulillah, aku ngerasa ada hal yang baru yang bisa bikin aku nggak jenuh lagi."

Angga cuma mengangguk-angguk pelan.

"Jujur aku seneng bisa ketemu kamu lagi, Na.."

Aku hampir tersedak coffee latte-ku.

"Bentar. Maksudnya seneng itu?"

Angga berdeham pelan, kemudian menegakkan posisi duduknya, mengesankan ia akan mengatakan sesuatu yang lebih serius.
Hal yang justru membuatku agak waspada.

"Ya seneng. Lama banget kan kita nggak ketemu, ya biarpun memang sejak putus juga hubungan kita masih baik, tapi aku seneng aja bisa mendadak ketemu kamu lagi. Kaya' takdir."

Takdir.
Sebuah hal yang aku tahu hukumnya ialah mutlak. Alias pasti. Alias tidak bisa dihindari oleh manusia sehebat apapun.
Dan memang benar apa yang Angga katakan, pertemuan mendadak kami di depan Beringharjo beberapa waktu lalu, bahkan sampai peristiwa minum kopi bersama ini pasti termasuk salah satu jatah takdir yang sudah tertulis untukku.

"Berat deh bahasanya pake takdir segala. Trus gimana kabarnya calonmu itu? Yang kamu ceritain pas kita ketemu pertama kali?"

Angga terlihat terkejut dengan arah pembicaraanku yang berbelok. Aku tahu, ia laki-laki yang cukup pintar untuk menguasai diri, dan termasuk menguasai keterkejutannya atas usahaku menghindari obrolan berbau takdir tadi.

"Oh dia.. Nggak jodoh, Na. Ibunya nggak setuju anaknya nikah sama pegawai bank macam aku. Maunya dapat pengusaha batu bara."

Aku terbahak. Ekspresi Angga yang dibuat pura-pura menyedihkan justru membuatku lebih ingin meledeknya daripada menghiburnya.

"Nggak sopan kamu. Ada orang cerita sedih malah diketawain."

"Ya.. ya.. maaf, Ga. Habisnya aku nggak bisa nahan ketawa pas kamu bilang maunya dapat pengusaha batu bara. Kok jadi kaya' cerita jaman kolonial Belanda gitu sih.."

Angga kembali menatapku antusias.

"Seriusan, Na. Kamu ingat kan aku bilang kalau aku udah anggap dia jadi calonku?"

Burnt Bridge (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang