Aku memilih diam menanggapi ucapan getas Arka barusan. Sementara laki-laki yang baru saja menyinggung perasaanku itu, tanpa rasa bersalahnya tetap melajukan mobil, bahkan tanpa menoleh kearahku.
Hampir sepersekian menit perjalanan kami habis dalam diam masing-masing. Entah apa yang sedang dipikirkan Arka sekarang, sampai bisa-bisanya ia mengantarku pulang hanya untuk meluapkan emosinya seperti itu.
"Aku bisa pesen Grab kalo kamu capek."
Arka masih diam.
Dan tentu saja seorang Kanaya ini tidak bisa diperlakukan seperti itu, kan?
Aku segera meraih ponsel yang sedari tadi memang kusimpan didalam tasku.
Baru saja aku membuka lockscreen-nya, tangan Arka seketika terjulur untuk meraih ponsel hitamku.
"Nggak usah bikin masalah baru, Na."
Aku mendongak kearah Arka yang kali ini masih terlihat angkuh sambil menggenggam ponselku di tangan kirinya.
"Ka, kamu juga nggak bisa seenaknya begini sama aku. Kamu jemput aku, bilang mau ketemu aku, tapi kenyataannya cuma buat jadi pelampiasan emosi kamu aja. Kamu kalo capek itu istirahat, Ka.."
Kali ini Arka memilih untuk menepikan mobilnya.
Dan aku seolah sudah tahu, pertengkaran ini tidak akan pernah selesai dengan baik-baik saja.
"Aku memang capek banget, Na. Itu makanya kenapa aku pulang. Aku mau ketemu kamu, karena biasanya cuma dengan itu bisa ilang capekku. Tapi kamu sendiri, kan, yang justru malah nginep di tempat lain, dan emosi kaya' gini?"
"Sekarang kasih tahu aku, Ka, gimana caranya aku bisa santai ngurusin kerjaanku di rumah, sementara kamu nggak pernah sekalipun berusaha hubungin aku dari tempatmu?"
"Kalo aku nggak bisa hubungin kamu, berarti aku sibuk, Kanaya. Berapa kali aku harus jelasin sama kamu soal itu? Lagian kalo aku yang nggak bisa hubungin, kenapa nggak kamu yang coba buat hubungin aku?"
Aku mendengus kearah jendela di sebelah kiriku, berusaha untuk meredamkan emosiku sendiri agar apapun yang nantinya kuucapkan tidak membuat aku menyesal di kemudian hari.
"Aku bisa aja, Ka, hubungin kamu. Bisa kok, tapi aku juga nggak bisa tahan sama diriku sendiri yang harus sebegitu mengemisnya ke kamu yang bahkan mungkin cuma buka WhatsApp sehari sekali."
Kali ini gantian Arka yang diam. Aku tahu, ia pasti sedang membenarkan ucapanku karena faktanya, memang itu yang terjadi.
"Aku rasa kita emang nggak bisa berhubungan dengan cara seperti ini, Ka. Aku nggak bisa."
"Maksud kamu?"
"Aku nggak bisa jalanin hubungan jarak jauh begini, Ka.."
Bodoh.
Aku tahu kalimat yang barusan kuucapkan tadi pada akhirnya pasti membuatku menyesal. Tetapi rasanya akan jauh lebih buruk lagi kalau aku membiarkan diriku sendiri dan Arka, bertahan dalam hubungan yang sudah tidak sehat ini terus-menerus.
Arka memukul setirnya keras. Membuatku baru menyadari, baru sekali ini aku melihatnya sama sekali tidak mampu mengendalikan emosinya sendiri.
But there is no turning back, right?
"Segini aja, Na?"
Kalimat Arka diucapkannya dengan nada yang seolah menyimpan emosi yang cukup besar. Tapi aku masih melihatnya mencengkeram setir kuat-kuat.
Aku tahu, tidak seharusnya aku bersikap seperti ini, dan dalam keadaan begini, tapi siapa yang tahan kalau terus menerus diperlakukan Arka seperti itu?
"Apa kamu cuma bisa bertahan sampai segini aja, Na? Jawab aku."
Kalimat yang diucapkan Arka dengan datar itu membuatku mengangguk.
"Bahkan disaat seperti ini pun kamu masih egois, Ka. Yang kamu pikirin itu cuma gimana aku ke kamu, nggak ada sekalipun kamu mikir gimana sebenernya kamu ke aku. Itu yang makin bikin aku yakin untuk nggak lanjut sama kamu."
"Masih harus banget, Na, aku jelasin gimana perasaanku ke kamu?"
"Masih. Dan harus. Karena selama ini aku nggak ngerti, Ka, sebenernya hubungan ini punya kita berdua, atau cuma aku yang terlalu berharap lebih sama kamu."
Ucapan yang selama ini kutahan itu akhirnya terlontarkan juga.
Dan hal terakhir yang kudapati bukanlah jawaban dari Arka, melainkan bagaimana ia justru kembali melajukan mobilnya, dan tetap menahan ponselku.
------------
Ternyata begini rasanya putus cinta lagi setelah lama kupikir aku bisa sembuh dan kembali baik-baik saja bersama Arka.
Tidak ada tangisan lagi.
Bahkan Arka pun masih mengantarku pulang, masih membantuku menurunkan bawaan dari dalam mobilnya, dan membawakannya masuk ke dalam unit apartemenku.
"Jangan lupa makan, Na. Aku nggak bisa ngajak makan karena aku lagi nggak nafsu makan."
Aku cuma mengangguk, tanpa benar-benar balas menatap Arka yang berdiri di hadapanku.
Lagian bagaimana mungkin kami bisa makan bersama lagi kalau sekarang posisinya aku sudah meminta putus begini, tinggal satu kalimat "ya" dari Arka, maka statusku akan kembali jadi jomblo.
"Aku nggak nyangka kita harus putus begini."
Jantungku mencelos.
Arka ternyata juga mengiyakan permintaanku untuk putus, tanpa sedikitpun usaha untuk menahanku lagi.
Bodoh memang kamu, Kanaya.
Bukannya memang ini yang kamu mau, Na? Lalu sekarang apa lagi yang kamu harapkan? Arka menahan kamu? Atau Arka memohon mohon agar kamu kembali menarik ucapanmu?
Dan tentu saja Kanaya Aditama Soerja yang menuliskan satu novel berisi kalimat-kalimat cinta namun justru gagal sendiri dalam hubungannya ini, cuma bisa mengangguk, mengiyakan ucapan Arka barusan.
Dan hal terakhir yang diucapkan Arka setelah itu cuma perihal bahwa besok ia akan kembali ke Surabaya lagi.
"Jangan terlalu stress, Na. Besok aku balik ke Surabaya. Baik-baik ya biarpun nggak sama aku.."
Jadi begini rasanya putus cinta dengan dewasa itu, ya..
KAMU SEDANG MEMBACA
Burnt Bridge (Completed)
Romance"Aku pernah membaca di sebuah novel favoritku semasa SMA dulu, bahwa menjalin hubungan, apapun itu, dengan siapapun itu, layaknya membakar sebuah jembatan." Buuum! And there is no turning back. Begitu pula aku kepadanya. Sayangnya hanya aku yang me...
