Hampir seminggu ini, apapun tindakan "istimewa" yang biasanya dilakukan Arka, mendadak berhenti.
Ia berhenti mengirimkan berbagai makanan ke kantorku, yang mengakibatkan Reyhan uring-uringan karena tidak lagi mendapat jatah makanan.
Belum lagi bagaimana Arka juga mendadak berhenti menghubungiku.
Benar-benar tidak merecoki-ku dengan pesan-pesan singkat, maupun teleponnya.
Dan bodohnya, aku harus mengakui, aku kehilangan.
Bukan karena apa-apa memang, melainkan karena mendadak Arka harus kembali terbang ke Surabaya, karena ada klien penting yang memang hanya bisa ditangani oleh laki-laki itu.
Dan tentu saja, tanpa kuminta, Reyhan Sang Asisten Pengacara Sejati itu sudah memberitahuku sejak jauh-jauh hari.
"Sebelum Arka yang bilang, aku bilang duluan aja, biar kamu nggak kaget, Na."
Itu jawabannya saat kutanyai kenapa harus ia yang memberitahuku terlebih dulu, dan bukannya Arka langsung.
"Ngapain kaget, toh Arka juga pasti bakalan bilang sendiri, Reyhan.."
Aku menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya cukup terkejut saat itu, mengingat Arka sama sekali tidak menyinggung perihal kepergiannya ke Surabaya yang rencananya selama dua minggu itu.
"Ya kali aja dia lupa, Na. Kaya' nggak paham mantanmu aja. Dia kalau urusan kerjaan, lebih sering mendadak lupa daripada ingetnya."
Aku mengamini dalam hati. Paham jika sampai kapanpun, dan dalam keadaan apapun, bagi Arka, pekerjaannya tetap menjadi yang pertama.
"Tuh kan, langsung mendung. Udah nggak usah dipikirin banget. Cuma dua minggu, Na."
Seperti memahami maksud ekspresiku, Reyhan cuma berlalu setelah mengatakan hal barusan sambil menepuk pelan bahuku.
------------
Tepat dua minggu.
Dan sampai se-lama itu pula, aku sama sekali tidak mendapatkan penjelasan atau bahkan satu kata pamit pun dari Arka.
Dengan tindakannya yang seperti itu, nggak usah lah aku, perempuan paling bijak seluruh dunia juga pasti langsung berpikir yang macam-macam, kan?
Sekarang, bagaimana caraku bisa mempercayai semua ucapannya, kalau untuk urusan sesederhana menceritakan perihal pekerjaan saja, Arka tidak pernah bisa melakukannya?
Ponselku mendadak berdering. Dan seperti memahami dugaanku, ada nama Arka muncul disana.
"Na, ketemu bisa, kan?"
Seperti biasanya, setelah salam, tanpa basa-basi, Arka langsung mengatakan maksudnya. Sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk menyelanya dengan sedikit ambekan atau apapun sepertinya.
"Kapan, Ka? Hari ini aku kaya'nya bakalan agak lembur. Lagian, kamu nggak capek apa baru balik dari Surabaya gini?"
Shit.
Kenapa aku harus keceplosan begini?
Terdengar suara Arka tertawa dari seberang telepon.
"Reyhan yang cerita, ya? Padahal aku rencana mau cerita ke kamunya nanti, pas kita ketemu, biar ada obrolan."
Basi.
Mendadak ada sedikit emosiku yang terpancing karena ucapan Arka barusan.
"Se-susah itu emangnya buat punya bahan obrolan sama aku, Ka? Sampe pamitan pun kamu nggak bisa."
Arka berdeham.
"Bukan gitu, Kanaya. Aku memang sengaja nggak pamit ke kamu, bukan cuma biar ada obrolan nanti, kok."
Keningku berkerut tidak paham. Dan aku memilih untuk tetap diam, membiarkan Arka melanjutkan penjelasannya kali itu.
"Juga biar kamu kangen, dan nanyain kaya' tadi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Burnt Bridge (Completed)
Romance"Aku pernah membaca di sebuah novel favoritku semasa SMA dulu, bahwa menjalin hubungan, apapun itu, dengan siapapun itu, layaknya membakar sebuah jembatan." Buuum! And there is no turning back. Begitu pula aku kepadanya. Sayangnya hanya aku yang me...
