Part 33

5K 428 6
                                        

Makin kesini, makin banyak lagi variasi tindakan yang dilakukan Arka. Ya memang, sih, masih monoton dengan kiriman makanan menjelang makan siang. Kemarin salad buah, kapannya lagi nugget pisang tiramisu, belum lagi bakmi Jawa Pak Gito, lalu hari ini cumi hitam.

Ini sebenarnya Arka mau minta maaf atau justru mau menjerumuskanku kedalam tingkat kolestrol tinggi apa gimana, sih?

"Aku masak cumi-nya sendiri, Na. Nggak pedas sama sekali, kok. Cobain ya."

Lagi-lagi bunyi pesan singkat yang datang hampir selalu berbarengan dengan datangnya makanan itu hanya bisa kubalas dengan 'oke' atau 'makasih'.

Jujur aku masih belum bisa memahami sepenuhnya dengan maksud Arka melakukan hal ini. Belum selesai soal makanan demi makanan yang ia kirimkan, Arka bahkan sudah membantuku untuk mengatasi salah satu klienku yang beberapa hari lalu sempat melayangkan protes atas project-nya yang kutangani, yang katanya ada ketidaksesuaian dengan proposal yang diajukan pada awalnya.

Sebenarnya Reyhan yang meminta bantuan pada firma hukum Arka, karena kebetulan tim hukum yang melindungi kantorku saat itu mengatakan ia sedang menangani satu kasus yang cukup alot.

Saat itu bahkan Arka sampai harus bolak-balik dari kantornya, menuju kantor klienku yang kebetulan ada di daerah Ring Road Utara, Sleman. Cukup jauh dan pasti cukup melelahkan jika ditempuh dari kantorku maupun kantor Arka.

"Alhamdulillah tuntas, Na. Ternyata masalahnya di pihak venue yang bikin acara sendiri setelah kita selesai ngatur. Aku nggak paham gimana koordinator lapangan waktu itu bisa bocor formasi gitu. Tapi tadi Mas Ferdi juga udah mediasi sama klien plus koor yang tugas."

Penjelasan singkat Reyhan saat itu tak urung juga menenangkanku.

"Sampaikan makasih-ku ke Arka, Re." Saat itu aku memang tidak langsung mengucapkan terima kasih pada Arka, karena toh saat itu kebetulan Event Manager-nya adalah Reyhan sendiri. Namun rasanya kurang pantas kalau aku sebagai salah satu officer yang bertugas saat itu, bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Bagaimana juga, kasus ini tidak mungkin berjalan baik-baik saja kalau tidak ada Arka saat itu.

"Masih konsisten pakai trik kirim makanan, Na?"

Aku tertawa. Kali ini aku bahkan langsung mencicipi cumi hitam masakan Arka sendiri itu.

Aku mungkin belum sempat bercerita bahwa dibalik sikap kakunya, Arka sebenarnya adalah laki-laki yang cukup tertarik pada urusan dapur, bahkan ia terbilang cukup menguasai cara memasak bagi beberapa menu masakan, terutama makanan kesukaannya sendiri.

"Belum ada hilal balikan  juga, Na?"

"Apaan, sih."

Reyhan mencebikkan bibirnya. Sementara aku memilih tidak mempedulikan celetukannya, dan kembali sibuk menyendoki masakan Arka yang entah bagaimana ceritanya bisa seenak ini.

Aku ingat bahkan dulu aku sempat punya doa untuk bisa memiliki suami yang bisa memasak, yang ketika aku tahu bahwa Arka cukup pintar dalam hal itu, membuatku merasa bahwa mungkin memang dia laki-laki yang dikirim Tuhan sebagai calon suamiku.

Tetapi tetap saja, dengan segala tindakan super tidak biasanya dari Arka, bayangan tentang Bianca Halim masih mengganggu pikiranku. Dan entah kenapa juga, aku tetap bersikukuh untuk tidak bertanya, kecuali Arka menceritakannya terlebih dulu.

Sekali lagi, ditolak oleh seseorang yang bahkan masih kita sayangi itu jauh lebih sakit rasanya. Dan aku masih belum cukup siap untuk menghadapi hal itu.

"Mbak Kanaya, ada yang nyari didepan."

Mas Bowo mendadak muncul dan memberitahukanku bahwa ada tamu untukku di lobi.

Burnt Bridge (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang