Part 32

5.2K 426 6
                                        




Aku memilih untuk segera masuk kedalam unit apartemenku. Sedikit memikirkan bagaimana hari ini bisa berjalan jauh daripada apa yang pernah, dan bisa kuperkirakan. Jejak bibir Arka bahkan masih benar-benar terasa di permukaan bibirku sendiri. Bagaimana pada akhirnya ia buru-buru melepaskan ciumannya, tepat sebelum aku bisa memahami, sejauh apa perasaan yang kami miliki antara satu sama lain.

Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha mengenyahkan perasaan sakit dan nyeri yang masih bercokol didalam hatiku sendiri.

Menanggung perasaan sendirian ternyata benar-benar sesakit ini.

---------

Senin pagi, bahkan sebelum meletakkan tasku sendiri di meja kerjaku, aku segera menghampiri tempat Reyhan. Memilih menunggu untuk menyambut si kepo yang kadar keisengannya diatas batas rata-rata itu, dan memintanya untuk menjelaskan alasan dari apa yang ia lakukan Sabtu kemarin.

Terlihat Reyhan berjalan kearah mejanya, lalu berbalik cepat begitu mendapatiku sudah menduduki kursinya lebih dulu.

Segera aku berlari dan meraih tas selempangnya, membuat sang pemiliknya langsung tertawa-tawa sambil memohon ampun kepadaku.

"Na, sumpah jangan gini mainnya, ini tas kadonya Dena mahal lho, kalo kenapa-kenapa bisa ada episode tidur ruang tamu ini nanti di rumah tanggaku."

Aku masih tak bergeming. Membiarkan Reyhan memohon-mohon kepadaku untuk melepas selempang tasnya yang kutarik kuat-kuat.

"Nggak kulepas, sampe kamu jelasin maksud dari tindakan heroikmu kemarin Sabtu itu apa."

Reyhan masih berusaha melepaskan cengkeramanku dari selempang tasnya, sambil masih dengan tertawa-tawa. Asli, kalau saja posisi Reyhan ini bukan sahabatku sendiri sejak dulu, sudah habis laki-laki ini dengan segala kelancangannya.

"Iya, sumpah aku bakalan jelasin, tapi tolong lepas dulu, Na. Ini terkait sama hidup matiku."

Aku menggeleng kuat-kuat. Sudah habis rasanya kadar toleransiku pada cara iseng Reyhan yang kemarin cukup membuat hati dan perasaanku kacau sampai saat ini.

"Iya, iya, aku beneran minta maaf, Na. Masalahnya kemarin juga si Arka manja banget. Kode banget dia itu biar berita sakitnya nyampe ke kamu."

Aku mengendurkan cengkeramanku meski masih belum melepaskannya. Reyhan masih berhutang penjelasan lengkap.

"Kode gimana maksudnya, Re?"

"Ya kode, biar aku ngasih tahu kamu kalau dia lagi sakit perut."

Aku mengernyit, menatap tidak paham pada maksud ucapan Reyhan barusan.

"Seriusan selama bertahun-tahun aku kenal dan temenan sama Arka, aku baru tahu kalau dia senorak itu kalau lagi sakit. Nggak ada pengacara-pengacaranya sama sekali."

Kali ini aku benar-benar melepaskan cekalanku pada tas Reyhan, yang langsung disambut nafas lega dari laki-laki super iseng itu.

"Iya, maksudnya dia ngode gimana, sih, Re?"

Pada akhirnya aku menyerah dalam rasa penasaranku sendiri rupanya.

"Ya gimana aku nggak langsung mikir kalau dia butuhnya disamperin kamu, orang nanyain obat mules tapi bilangnya suruh nanyain kamu obat mules yang biasa kamu stok di kantor itu apa. Bilangin ke dia, Na, sebagai pengacara dengan jam kerja tinggi, mbok ya file alasan tersangka itu sering-sering dibuka biar banyak referensinya."

Tak urung aku tertawa juga.

"Mantanmu itu boleh menang di kasus-kasus keren, tapi urusan mules aja ngerepotin orang sampe Semarang!"

Burnt Bridge (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang