Kido membuka matanya. Ia tersenyum melihat Yura yang duduk di samping ranjangnya sambil tertidur. Di saat orangtuanya tak peduli dengan kondisinya, Yura menjaganya setiap malam. Kido menyingkap sedikit rambut Yura lalu menyelipkannya di belakang telinga. Ia memandangi wajah Yura lekat-lekat.
"Ra, gue akan buat lo jatuh cinta sama gue," bisik Kido ke telinga Yura yang masih tertidur.
Kido turun dari ranjangnya lalu menggendong Yura dan menidurkannya di sofa. Sebenarnya, Kido ingin menidurkannya di ranjang pasien dan tidur di sebelahnya. Tapi ia takut Yura marah dan tidak mau bicara dengannya lagi seperti insiden ciuman dua minggu lalu.
"Ciuman lo selanjutnya harus buat gue semuanya karena lo itu istri gue. Nggak peduli kalau lo suka sama Reon. Yang terpenting, gue suka sama lo," kata Kido yang terus memandangi wajah cantik Yura.
***
Setelah Kido selesai operasi usus buntu, Kido dan Yura menempati sebuah rumah yang cukup besar tanpa pembantu. Mereka kini sudah resmi menjadi suami istri secara hukum dan agama saat Yura merayakan ulang tahun ke-17 dua hari lalu. Tadinya mereka sempat mengelak tinggal di rumah itu. Apalagi di rumah itu hanya ada satu ranjang. Tapi Pak Gunawan dan Pak Budi memaksa mereka tidur dalam satu kamar. Dan tentunya mereka tidak bisa melawan kehendak kakek mereka berdua.
"Oi Kido, karena elo sakit habis operasi, gue akan mengalah. Gue bakal tidur di sofa dan elo di kasur. Ngerti?" Yura mengambil bantal lalu menatanya di atas sofa.
"Elo tidur di kasur aja. Biar gue yang tidur di sofa." Kido membaringkan tubuhnya di atas sofa tanpa seizin Yura.
"Kido, bangun Kido! Elo itu sakit. Elo nggak boleh tidur di sofa. Takutnya mempengaruhi kondisi elo." Yura menarik-narik tangan Kido.
"Kalau elo tarik-tarik tangan gue, perut gue malah tambah sakit tau nggak?"
"Ya udah deh kalau lo maksa tidur di sofa."
"Eh, Ra."
"Hm?"
"Besok sarapan, aku mau makan nasi goreng pedas."
"Enggak!" tolak Yura tegas. "Kido, lo itu nggak boleh makan yang pedas-pedas atau yang asem-asem."
"Yaaaaah kok gitu?" kata Kido kecewa.
"Besok gue akan masakin bubur. Soalnya usus lo itu masih nggak boleh makan yang aneh-aneh."
"Makasih ya, Ra. Elo udah jagain gue."
"Nggak usah lebay." Yura menjitak gemas kepala Kido.
"Aduh sakit tau!" Kido memegang kepalanya. "Gue ini pasien, Yura. Jahat banget sih jadi orang."
"Biarin!" Yura menjulurkan lidahnya lalu berlari menuju kamar.
Yura merebahkan tubuhnya di atas kamar tidur. Selama berhari-hari menunggui Kido di rumah sakit, tubuh Yura sedikit kelelahan. Perlahan ia memejamkan matanya dan terlelap sejenak.
"Aaaaaargh!" teriak Kido.
Yura gelagapan bangun. Semua ruangan terlihat sangat gelap. Yura meraba-raba nakas meja dan menyalakan senter di ponselnya kemudian berlari menuruni tangga menuju ruang tamu di mana Kido berada.
"Aaaaaaargh aaarrrgh." Kido terus berteriak histeris.
"Kido, lo kenapa?" Yura duduk di sebelah Kido dengan muka cemas.
Kido menggeleng lalu tiba-tiba memeluk Yura dengan begitu erat. "Jangan tinggalin gue, Ra. Jangan pernah tinggalin gue."
"Gue ada di sini, Do. Lo sekarang bisa tenang."
"Gue phobia ruang gelap tanpa cahaya. Tadi hampir saja gue pingsan."
"Kenapa lo nggak nyalain senter di ponsel elo?"
"Ponsel gue baterainya habis." Kido masih memeluk erat Yura. Tubuhnya masih gemetar ketakutan.
"Sekarang ayo kita cari lilin!" Yura melepaskan pelukan Kido lalu berjalan menuju dapur bersama Kido yang merangkul tangannya erat-erat.
Yura membuka laci, lemari, dan seluruh sudut bagian rumah. Tapi ia tak menemukan lilin untuk penerangan. Sementara ponselnya sebentar lagi mati karena kehabisan baterai.
"Gimana ini, Ra?" tanya Kido.
"Kita ke kamar aja. Terus kita buka jendela biar cahaya bulan bisa masuk." Yura berjalan menaiki tangga dengan Kido yang masih merangkul lengannya erat-erat.
Yura membuka jendela kamarnya lalu meminta Kido tidur di atas kasur. Sementara ia sendiri tidur di lantai dengan selembar selimut. Namun Kido malah ikut tidur di samping Yura karena masih ketakutan.
"Kido, kenapa elo tidur di samping gue?" omel Yura.
"Gue masih takut, Ra. Gue takut elo ninggalin gue di ruang gelap kayak gini." Wajah Kido tampak memelas.
"Elo nggak boleh tidur di samping gue."
"Kenapa nggak boleh? Gue kan suami elo."
"Soalnya gue-" Yura tercekat saat melihat wajah Kido yang memelas ketakutan.
"Please! Kali iniiiiii aja, Ra. Besok, gue bakal beli lilin yang banyak. Kalau perlu 10 dus. Biar gue nggak ketakutan lagi."
"Ya udah deh. Kita tidur di kasur aja. Soalnya dingin banget kalau di lantai." Yura mengambil selimut dan bantalnya lalu berpindah di kasur.
Kido tersenyum singkat lalu tidur di sebelah Yura dalam satu ranjang dan satu selimut. Ia memeluk punggung Yura dari belakang. Samar-samar ia mencium wangi shampo dari rambut Yura.
"Kido, nggak usah pakek peluk-peluk!" tegur Yura ketus.
"Takuuut," rengek Kido.
Yura menghela napas jengah. Dan membiarkan Kido memeluknya dari belakang. Sepanjang malam, Kido tak mau melepaskan pelukannya. Ia tak ingin menyia-nyiakan momen berharga bersama Yura malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
KIDO VS YURA [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
Fiksi RemajaJUDUL LAMA = ILFEEL TAPI CINTA TERSEDIA DI GRAMEDIA DAN TOGAMAS SELURUH INDONESIA "Kidoooo balikin ciuman pertama gue!" tagih Yura kesal. "Mana bisa dibalikin? Lo mau gue cium lagi?" tantang Kido. "Gue jijik! Gue bakal cuci bibir gue tujuh kali ba...
![KIDO VS YURA [TERSEDIA DI GRAMEDIA]](https://img.wattpad.com/cover/155519428-64-k991801.jpg)