Tidak ada yang paham jalan takdir. Kesedihan dan sandiwara adalah permainannya. Sebab itu, harus berani hadapi, jika tak mau terus berjalan di atas duri.
___T&D___
Langkah kaki Aurel bergema dalam ruangan yang begitu gelap. Hanya sinar mentari yang menyelinap dari sela-sela ventilasi. Debu dan sarang laba-laba terdapat di mana-mana.
Aurel tak tahan untuk mengeluarkan udara dari hidung dan mulutnya, yang tentu saja menambah suara dari ruang yang begitu senyap.
Setelah berhasil membatalkan laporan polisi, pria itu kembali menghubungi dan menyuruh datang ke tempat ini. Gudang tua yang berada di belakang taman, tempatnya kehilangan kesadaran.
"Hai Aurelia." Suara pria yang menelpon bergema dalam ruangan.
Sepertinya ada pengeras suara yang berada dalam ruangan ini. Namun bukan itu fokus utama saat ini, melainkan keberadaan sahabatnya.
"Katakan siapa kamu? Dan apa yang kamu inginkan dari ku?" tukasnya.
Tawa berat menggelegar dalam ruangan itu, membuat Aurel bergidik ngeri. Namun berusaha dia tahan demi Angel.
"Pelan-pelan Aurel. Tenang saja sahabatmu aman, hanya sedang tertidur. Jangan coba bermain-main dengan membawa orang lain, kalau tidak ingin sahabatmu tertidur selamanya," ancam pria itu.
"JANGAN!" seru Aurel, "aku benar-benar sendiri."
Pria itu memeriksa dari monitor dalam ruangan lain. Dia telah memasang kamera di berbagai sudut gudang itu, hingga dapat mengetahui wajah ketakutan mangsanya.
"Baiklah saya percaya. Sekarang lihat meja di depan kamu," dapat terlihat arah pandang Aurel mengarah ke meja, "sekarang letakkan ponsel kamu di sana."
Perlahan Aurel mendekati meja dan meletakkan ponselnya. Irisnya menatap tiga kamera yang terpasang di sekeliling ruangan. satu di depan meja, satu di samping tempat sebelumnya berdiri, dan terakhir di atas pintu berwarna putih.
Dia harus memikirkan cara terbaik untuk membawa sahabatnya keluar, jika tidak mau dirinya ikut berada di sana.
"Sekarang masuk ke pintu di sebelahmu," pintanya.
Aurel menurut dan membuka pintu itu. Decitan yang memekikkan telinga terpaksa dia dengar dari pintu yang begitu reot.
Hanya cahaya lampu pijar yang redup menjadi penerang ruangan. Tepat di bawah cahaya lampu, terduduk Angel yang terikat dan tak sadarkan diri.
Napasnya memburu melihat keadaan Angel, segera dia berlari mendekati sahabatnya. Dipandangi tangan kemerahan Angel akibat ikatan yang begitu kencang.
"Angel bangun." Aurel menepuk-nepuk pipi sahabatnya berharap dapat membuka irisnya.
"Apa yang kamu lakukan?" pertanyaan dari suara yang dikenalinya, membuat Aurel berbalik.
Pria di depannya menutupi sebagian wajah dengan masker, sehingga Aurel tak dapat menebak siapa yang bersembunyi di balik masker.
"Kamu sudah mendapatkan yang kamu inginkan. Sekarang biarkan kami pergi dari sini," desisnya.
Tawa berat kembali menggelegar, membuat wajah Aurel terus mengeluarkan butiran air.
"Kak Ailan, tolongin Aurel," batinnya.
"Tenang saja, bukan sahabatmu yang saya inginkan. Kamu bisa membawa dia sekarang. Hanya 10 menit, jika dalam 10 menit kalian belum keluar dari sini, maka nyawa kalian taruhannya."
Dengan keringat bercampur ketakutan, Aurel buru-buru melepas ikatan Angel. Meski sedikit susah, dia bisa membuka ikatan itu. Karena kondisi Angel masih tak sadarkan diri, dia menaruh sebelah tangan Angel di pundaknya dan berjalan secepat mungkin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Waktu dan Mimpi
Teen FictionMeski telah berusaha melupakan kecelakaan yang merenggut orang tersayangnya, Aurel tetap mengingat hari itu. Lalu seseorang dari masa lalu mengusik hidupnya dan orang-orang terdekatnya. Kemudian waktu memaksanya mengungkap siapa sosok penuh rahasia...
