PART 20

15 1 0
                                        

Masa lalu. Kumohon tetaplah pada masamu. Berhenti menghantui diriku.

Aurelia Swat

___T&D___

"Ibu yakin ngga papa?" tanya seorang gadis berkacamata di tengah kehampaan koridor.

Sari tersenyum kala tatapan ragu gadis itu terarah padanya. "Iya, kamu ngga perlu khawatir. Ibu sudah bicarakan hal ini dengan kepala sekolah. Ayo masuk." Wanita itu menarik gagang pintu di sampingnya yang menimbulkan decitan, sehingga semua mata dalam ruang itu terarah pada mereka.

Wanita itu melangkah anggun bersamaan dengan siswinya. Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum kepada semua orang. "Selamat sore semua," sapanya.

"Sore bu," balas semuanya bersamaan.

Angel yang berdiri- dengan celana ketat selutut beserta tanktop berlapis kaos pendek sampai ke lingkar perut- terkejut melihat sahabatnya berada di samping Bu Sari. Bukan hanya dirinya, semua orang termasuk Celia turut kaget sekaligus bingung dengan kehadiran gadis berkacamata itu.

"Kalian pasti sudah kenal dengan Aurelia Swat. Sekarang dia masuk dalam tim kita." Celia menyela perkataan Bu Sari. "Sorry bu, tapi apa yang bisa dia lakukan dalam pentas nanti?" perkataan sinis Celia membuat kepercayaan diri Aurel menciut. Benar, tak seharusnya dia menyetujui ucapan Bu Sari.

"Lagi pula, semua bagian sudah lengkap. Jumlah pemain musik sudah lengkap dan semua posisi penari sudah pas. Para dancer juga sudah latihan, jadi tidak mungkin dia bisa menyesuaikan dengan gerakannya," jelas Bella. Celia tersenyum sinis dengan perkataan temannya.

"Baiklah dia bisa menjadi pemeran utama," ujar Sari dengan santai.

"APA?!" Celia terkejut sekaligus geram dengan perkataan Sari, "Apa ibu lupa, kalau saya sudah dipilih menjadi pemeran utama," angkuhnya.

Sari tersenyum, "Itu menurut juri kan? Sedangkan saya adalah kordinator pentas. Kita lihat siapa yang lebih cocok menjadi pemeran utama nanti. Tidak ada salahnya bukan mencari pemeran cadangan?" Sari tersenyum puas melihat wajah geram Celia.

"Oh ia semua, tema kali ini musik dan cinta. Baiklah Aurel, kamu bisa gabung dengan yang lain," Aurel mengangguk dan berjalan ke arah Angel. Dia menepuk-nepuk tangannya, "Ayo semua kita mulai latihan."

"Kok Aurel ngga bilang kalau mau ikut pentas?" tanya Angel.

"Bu Sari yang suruh. Untuk ngga beri tahu siapapun kalau aku mau ikut pentas."

__T&D__

Suara sepatu menggema dalam ruangan dengan cahaya yang temaram. Aurel melirik angka dalam arlojinya. Jam 16:30. Pantas sepi, jam seperti ini sang bunda masih berada di kafe.

Badannya terasa sedikit sakit saat latihan pelenturan tubuh. Entah dia harus menyesal atau tidak dengan keputusannya ikut Pensi nanti. Dia pikir hanya menyanyi, tetapi ada gerakan yang mengharuskannya menari. Karena tubuhnya sudah lama tidak senam, makanya kakinya terasa sedikit sakit.

Aurel melangkah menuju dapur, niatnya mengambil minum. Namun langkahnya terhenti saat melihat pintu dengan warna putih terbuka. Dia menghela napas panjang, kemudian memberanikan diri masuk dalam ruangan itu. Napasnya terasa sesak. Bukan karena debu yang bertebaran, melainkan foto pria yang sedang memainkan gitar terpajang dengan besar di atas tempat tidur.

Kakinya ingin pergi karena takut masa kelamnya kembali datang, tapi hati berkata lain. Batinnya kali ini lebih kuat, diputuskan untuk mendekati gitar yang berdiri di samping meja belajar. Jemarinya mengelus ukiran nama pada gitar putih itu. Seketika ingatan saat Alan pertama kali ajarkan dia memainkan gitar hadir.

Waktu dan MimpiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang