Kau bersedia menjadi tameng, bagi kejamnya duniaku. Dan tatapanmu, membuatku terlena dalam ruang elusif.
Aurelia Swat
___T&D___
Kakinya melangkah begitu cepat, bahkan tak dihiraukan mereka yang menatapnya heran. Aurel tak mampu membendung air mata, sehingga lensa kacamata mengabur dan pandangannya menjadi buram.
Gerbang sekolah sudah di depan mata, tidak peduli jika kali ini dia harus membolos dan melanggar prinsipnya sebagai murid teladan. Namun mendadak lengannya dicegat seseorang, sehingga dia berhenti dan melihat siapa yang menghentikan langkahnya.
Pria bertubuh tinggi dengan iris yang begitu biru menatap tajam sekaligus sendu padanya. Bukan pandangan itu yang dihiraukan, melainkan alasannya mencegah dia berlari.
“Ngapain kamu hentiin aku?” Sarkas Aurel dengan napas yang masih memburu.
“Lo mau keluar ikut gerbang? Ngga liat ada satpam di sana?” arah pandang Aurel langsung berganti pada dua orang pria berseragam putih dan biru kehitaman, “Lo pikir mereka bakal ngijinin lo keluar gitu aja tanpa keterangan ijin dari guru?”
Aurel menghembus dan mengusap kasar wajahnya. “Terus aku harus apa?”
“Aurel ada apa? gue liat kayanya lo buru-buru mau pergi. Ada masalah?” Cerca Dimas dengan berbagai pertanyaan.
“Ia. Kamu bisa bantu aku keluar tanpa ijin guru?” tatapan Aurel begitu sendu, napasnya bahkan masih saja memburu.
Dimas tidak tega melihat kecemasan diwajah gadis yang ia sukai, rasanya dia ingin mengusap air mata yang ingin keluar itu. Namun dia tahan, sebab tak ingin Aurel justru menjauh karena tindakannya.
“Oke gue bantuin. Kebetulan Pak Kevin nyuruh gue beliin beberapa peralatan ohlaraga. Jadi gue punya surat ijinnya.” Dia menunjukan selembar kertas dengan berbagai aksara pada mereka, membuat Aurel bisa sedikit bernapas lega.
“Ya udah kita naik motor gue aja,” ajak Dimas.
Brian menunjukan tatapan yang begitu menusuk pada Dimas, tapi sama sekali tak lelaki itu hiraukan. Saat Aurel akan mengiyakan perkataan Dimas, Brian lebih dulu membuka suara.
“Ngga perlu, kita naik mobil gue,” ketus Brian.
“Ayo cepetan.” Melihat wajah cemas Aurel membuat Dimas tak ingin menentang ucapan Brian.
__T&D__
Di depan mereka berdiri kontruksi bangunan yang sementara dibangun. Sepertinya, bangunan itu akan dijadikan gedung bertingkat, untuk menambah ikon dari kota Jakarta. Dengan cepat, Aurel berlari memasuki bangunan tersebut, sehingga kedua pria itu terpaksa menyusul.
Kakinya menyentuh tumpuan dari besi yang terus menanjak dengan begitu cepat, sehingga detak jantungnya bertambah dua kali lipat.
“AUREL PELAN-PELAN!” teriak Dimas yang berusaha menyusul langkah Aurel.
Mata Aurel membulat sempurna saat melihat seorang anak kecil terduduk dengan kaki dan tangan yang terikat. Mulutnya telah disumpal dengan kain, bahkan matanya juga ditutup dengan kain. Segera dia berlari berniat melepas ikatan, tapi seorang pria datang dari belakang anak kecil itu.
Langkahnya terhenti kala pria dengan pakaian serba hitam menodongkan pistol tepat dipelipis kanan korban. Bersamaan dengan kedatangan Brian dan Dimas, yang ikut terkejut melihat pemandangan tak menyenangkan di depan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Waktu dan Mimpi
Ficțiune adolescențiMeski telah berusaha melupakan kecelakaan yang merenggut orang tersayangnya, Aurel tetap mengingat hari itu. Lalu seseorang dari masa lalu mengusik hidupnya dan orang-orang terdekatnya. Kemudian waktu memaksanya mengungkap siapa sosok penuh rahasia...
