19. K-Drama effect

3K 528 170
                                        

Jisoo menyantap kue kering di depan televisi. Menikmati akhir pekannya. Membiarkan Seokmin kali ini hanya berolahraga seorang diri.

Ia sungguh bingung hendak berbuat apa. Kamar sudah dibereskan, sarapan pagi sudah siap disantap, anjing dan kucing kesayangan Seokmin sudah diberi makan. Biasanya jika akhir pekan seperti ini ia akan bermanja-manja dengan sang suami. Tapi sepertinya kegiatan itu akan absen untuk minggu ini. Seokmin dan Jisoo masih saling mendiamkan satu sama lain.

Usai berolahraga dan membersihkan diri, Seokmin keluar dari kamar. Mengambil jatah makan paginya. Dari sana ia dapat mendengar dengan cukup jelas suara cekikikan geli Jisoo. Tertawa karena tengah menonton tayangan kartun.

Entah apa yang ada di pikiran itu sekarang. Tapi tiba-tiba saja Seokmin teringat dengan apa yang ia dengar dan rasakan saat berada di kampus kemarin. Jisoo semakin dekat dengan Soonyoung. Memang membuat sakit hati dan cemburu. Tapi, ia senang mengetahui bahwa ada orang yang berhasil menghibur Jisoo. Meski itu bukan dirinya.

Tidak apa. Jika Jisoo senang, Seokmin turut senang.

Keputusan Seokmin pun sudah bulat. Usai sarapan dan minum air putih beberapa gelas untuk menyiapkan mental, dengan langkah pasti Seokmin mendatangi ruang tengah. Turut mendudukkan diri di depan televisi, tepat di samping Jisoo.

"Soo-ie," tegurnya.

Jisoo menghentikan pergerakan tangannya yang hendak kembali menyuap kue kering. Toples kue pun ia peluk erat, terkejut karena ini sudah hari ke-5 sejak pertama kali Seokmin melayangkan ancaman cerai. Jisoo tidak tahu harus bagaimana. Entah harus senang atau ketakutan. Setiap ucapan yang akan keluar dari mulut Seokmin sungguh mengerikan baginya.

"Bagaimana hubunganmu dengan Soonyoung?"

Lagi. Jisoo kecewa setengah mati karenanya. Kenapa Seokmin begitu senang membahas kehadiran Soonyoung, sih?!

Jisoo tidak ingin menjawab. Ia sedang tidak memiliki mood sedikit pun untuk beradu argumen pagi ini.

"Kalau dia lagi-lagi menyatakan perasaannya padamu, terima saja. Aku yakin dia-"

Ucapan Seokmin berhasil membuat Jisoo membeku di tempat. Matanya membulat sempurna. Mulai melihat ke arah Seokmin, tak dapat berucap sedikit pun. Tak percaya bahwa Seokmin, suaminya sendiri, benar-benar sudah melakukan ini.

"Kau akan bahagia dengannya, Soo. Aku menjamin itu." Tambah Seokmin, karena ucapannya sempat tersendat.

Jisoo melepaskan pagutannya terhadap toples kue kering, lalu kembali memfokuskan mata pada sang suami. Entah hendak menangis atau malah marah. Namun yang pasti rasa kekecewaannya telah memuncak tinggi, hingga membentuk bendungan kokoh.

Ia tak menyangka kalau Seokmin akan bertindak sejauh ini.

"Kemarin kau bilang apa? Cerai?" Tanya Jisoo, berusaha terus menahan amarahnya. "Lebih baik kita bercerai. Aku lebih memilih menjadi janda dibandingkan harus berselingkuh dari suamiku sendiri."

Berdiri, Jisoo mencoba memberi sedikit waktu agar Seokmin membalas ucapannya. Namun ternyata mengecewakan. Bahkan laki-laki Lee itu tidak berucap sedikit pun saat Jisoo mulai melangkah pergi meninggalkannya.

"Aku mencintaimu, Seokmin. Kekurangan hingga kelebihanmu," ujar Jisoo sambil menangis. "Aku kecewa padamu. Karena pernikahan kita memang belum kau daftarkan, selamat! Kau tidak perlu bersusah payah untuk mengurus surat perceraian. Memang ini, kan, kau mau?"

Ssstt!

"Astaga, Jisoo... Kau kenapa?"

"Hao-ya..."

Ssstt! (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang