"Ya makanya otak itu dipakai, jangan hanya jadi pajangan!" Cerca Mingyu. "Sekarang apa? Kalian mau tunduk begitu saja pada Seokmin? Cih! Dasar pengecut!"
Soonyoung memutar pandangannya jengah. Sudah hampir satu jam lamanya Mingyu terus mengomel di hadapan Seungcheol, Jun, Soonyoung dan Hansol. Membiarkan Hao, Jeonghan dan Wonwoo asik mengobrol di kafetaria, menyusun rencana tanpa sepengetahuan para gadis.
"Kita harus melakukan sesuatu, sebelum posisi kita digeser oleh Seokmin!"
Soonyoung sudah tidak tahan. Mingyu terlalu banyak memerintah. "Kau saja sendiri lawan dia, aku keluar!"
Tidak, Soonyoung tidak merasa takut sedikit pun pada Seokmin. Ia hanya lelah dengan Mingyu. Terlalu sok berkuasa dan penuh perintah. Sebenarnya ia pun sering mendapat perlakuan tak mengenakkan dari Mingyu. Namun, apa boleh buat. Posisi Mingyu juga masih berada di atas. Bahkan masih di atas Seungcheol.
Hansol membulatkan matanya. Soonyoung terlalu berani untuk mengucapkan kalimat itu. Pemuda ini tahu persis bagaimana Mingyu jika sudah marah. Karena memang, ialah yang paling dekat dengan Mingyu.
"Heh? Kau bilang apa tadi?" Mingyu tidak terima.
Laki-laki bermarga Kim itu menarik kuat kerah kemeja yang Soonyoung kenakan, membuat kaki pemuda bermata sipit itu terjingkit.
"Kau sudah berani melawanku?" Sarkas Mingyu. "Ingat, posisimu di mana dan aku di mana. Masih berani melawanku? Mau aku galikan lubang kubur untukmu hari ini juga?"
Ini masih di area kampus. Atau yang lebih tepat di halaman belakang kampus. Tapi, akan percuma kalau pun Soonyoung berteriak dan meminta tolong. Tidak akan ada satu mahasiswa pun yang berani melawan si penguasa Mingyu.
Minta tolong pada Seokmin? Jangan bercanda! Begitu tahu kalau Jisoo adalah istri Seokmin saja sudah cukup membuat harga diri Soonyoung diinjak-injak!
Mingyu kembali bersuara. "Sekarang kau pilih, tetap berada aman di bawah kuasaku, atau kau akan kusiksa setiap hari sampai mampus?" Terkekeh kecil, "sepertinya kau cocok menjadi pengganti Seokmin."
"P-pengganti Seokmin?"
Mingyu menyeringai, mengangguk pelan. "Kau yang akan menggantikan Seokmin. Sudah tahu sendiri, kan, bagaimana kami memperlakukan si kuda kepang itu setiap hari?"
Soonyoung menelan saliva dengan susah payah. Keringat dingin mulai mengucur deras, tak sanggup membayangkan bagaimana jika ia benar-benar berada di posisi Seokmin dulu.
"Ya! Ada apa ini?"
Sontak suara nyaring itu berhasil menarik perhatian kelimanya. Dari kejauhan Jihoon memperhatikan mereka. Merasa geram dengan sikap Mingyu. Dengan langkah pasti, Jihoon masuk ke dalam arena pertarungan.
"Kim Mingyu-ssi, apa pukulan Seokmin kemarin masih kurang untuk membuatmu jera?"
Mingyu meludah begitu melepaskan Soonyoung. "Apa urusanmu? Pergilah, ini bukan tempat bermain boneka Barbie!"
Plak!
Sebuah tamparan berhasil mendarat mulus ke pipi kiri Mingyu. Meski melakukannya dengan cara menjingkitkan kaki, Jihoon berhasil melakukannya dengan sekuat tenaga. Membuat pipi itu merah seketika.
"Kau cari mati, hah?" Teriak Mingyu.
Laki-laki Kim itu turut mengambil ancang-ancang hendak membalas pukulan Jihoon. Namun, berhasil ditahan oleh Soonyoung.
"Kau berani memukul wanita?" Tanya Soonyoung. "Rendahan sekali. Aku jadi kasihan pada Wonwoo, apa dia juga sering mendapat pukulan darimu? Padahal sejak awal kau-lah yang memiliki banyak masalah. Kuharap Wonwoo segera putus darimu dan mendapat pria yang jauh lebih baik. Kau tidak pantas bersama Wonwoo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Ssstt! (✓)
Fanfiction[Seoksoo GS Fanfiction] Seokmin adalah laki-laki culun yang sering menjadi korban bully oleh teman-temannya di kampus. Sebaliknya, baru hari pertama kuliah, Jisoo langsung berhasil menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Sebagai perantau dari...
