Part 16: Planning New Life

340 41 16
                                        

Yuhuu aku update cepet 😂

Happy reading

*****

Anye sedang mengecek saldo di rekeningnya. Ia memang selalu menyisihkan uang sakunya sejak kecil, ia lebih suka membawa bekal dan uang sakunya ia tabung. Hal itu ia lakukan untuk berjaga-jaga jika ada keperluan yang membutuhkan uang banyak. Ia tidak berani jika harus meminta uang pada papa apalagi ke mama tirinya. Maka dari itu Anye rajin menabung.

Anye mendesah lega setidaknya uangnya itu cukup untuk menyewa kamar kost. Anye memang berencana akan pergi dari rumah. setelah kemarin mama tirinya bilang ingin Anye cepat pergi dari rumah, Anye merasa seperti di usir.

Anye sudah tidak memiliki alasan lagi tinggal di rumah ini. Anye merasa dirinya sudah dewasa, ia bisa mengurus dirinya sendiri.

Setelah kejadian beberapa bulan ke belakang yang dia alami, Anye pikir ia harus menenangkan diri dari semua masalah yang menimpanya.


Dari mulai pertemuannya dengan Rayan sampai gagalnya rencana pernikahan mereka, ia ingin melupakannya. Tentu saja ia tidak akan pernah bisa lupa kecuali jika dirinya mengalami hilang ingatan. Namun setidaknya ia bisa berdamai dengan semua kenangan yang menyakitkan itu.

Anye tidak mau lagi mengingat yang sudah-sudah, sekarang fokusnya adalah menata kembali hidupnya. Ia harus fokus dulu pada kuliahnya setelah itu ia ingin mendapatkan pekerjaan sehingga ia bisa benar-benar lepas dari orang tuanya. Anye tidak mau lagi menjadi beban bagi mereka. Mungkin setelah itu mama tirinya tidak lagi membencinya, itu yang Anye harapkan.

Anye memasukan buku tabungannya ke dalam tas, karena terlalu lama melamun Anye sampai lupa waktu. Ia melirik jam yang berada di atas meja belajarnya ternyata sudah siang. Anye harus segera berangkat ke kampus kalau tidak ia bisa terlambat.

*****

Nyonya Sarah berjalan dengan anggun ke arah ruang kerja Rayan, wanita itu sudah ingin sekali bertemu dengan putranya itu.

Regita yang melihat ibu dari bosnya itu lantas berdiri dan menunduk sopan.

"Selamat siang Rayan ada di dalam?" Tanya Nyonya Sarah tanpa basa-basi.

"Ada bu, silahkan masuk."

"Terima kasih" Nyonya sarah langsung bergegas, di bukanya pintu ruangan putranya itu.

Rayan yang sedang menerima panggilan dari rekan kerjanya begitu terkejut melihat kedatangan ibunya yang begitu mendadak.

"Baik kalau begitu, nanti saya telpon lagi." Rayan langsung mematikan sambungan telponnya.

"Ibu, kenapa tiba-tiba datang, harusnya kasih tahu Rayan dulu kalau mau datang."

"Ibu sudah mencoba nelpon kamu selama tiga hari ini, tapi kamu selalu mengabaikan telpon ibu." Sungut Nyonya sarah jengkel pada putranya itu.

Rayan memang selalu menolak panggilannya dengan alasan sibuk. Padahal nyonya Sarah tahu itu hanya alibi saja.

Rayan tidak bisa mengelak, memang benar apa yang ibunya katakan. Dari hari dimana Anyelir membatalkan pernikahannya ia memang sengaja tidak pernah mengangkat panggilan dari ibu maupun ayahnya. Rayan malas jika harus diintrogasi oleh mereka.

Nyonya Sarah mendudukan dirinya di sofa yang berada di ruangan itu, Rayan juga mengikuti.

"Ibu mau penjelasan dari kamu. Apa sebenarnya masalah kamu sama Anye sampai-sampai Anye membatalkan pernikahan kalian?"

"Kami tidak pernah ada masalah. Itu memang murni keinginan Anyelir bu."

"Nggak mungkin. Pasti kamu sudah melakukan sesuatu yang melukai Anye. Selama ini kamu tidak pernah sungguh-sungguh terhadap Anye." Potong ibunya cepat. Rayan sampai kesal sendiri dibuatnya.

"Bu, sudah sejak awal aku nggak setuju dengan rencana ibu menjodohkan kami. Tapi ibu dan ayah terus mendesak. Sekarang Anye sendiri yang menolak dan ibu menyalahkan Rayan?" Rayan terlanjur emosi dituduh seperti itu oleh ibunya.

Selama ini Rayan selalu menuruti apa keinginan orang tuanya, ia tidak mau menjadi anak pembangkang, Rayan selalu berusaha membuat ibu dan ayahnya bahagia. Tapi untuk kali ini entah kenapa Rayan tidak bisa lagi bersabar. Rayan sadar perkataannya itu sudah keterlaluan.

"Ibu hanya ingin yang terbaik untuk putra ibu. setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dan Anye menurut ibu adalah pilihan terbaik. Ibu yakin kamu juga pasti akan bisa menyukai Anye. Tapi rupanya perkiraan ibu salah."

Rayan kembali merasa bersalah. Ia tidak bermaksud membuat ibunya kecewa hanya saja Rayan tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya.

"Hhhhh" Rayan menghela nafasnya berat. Kalau saja malam itu ia bisa mengontrol diri untuk tidak menyentuh Anyelir, semua pasti tidak akan seperti ini.

"Bu, rayan nggak ada maksud kurang ajar. Tapi Rayan mohon tolong ibu mengerti perasaan Rayan dan Anye." Rayan tidak tahu perasaan apa yang dia bicarakan.

Nyonya Sarah bungkam, ia sudah lelah. Mungkin memang begini harusnya, ia tidak boleh egois mengorbankan perasaan Rayan.

Beruntunglah Regita datang menyelamatkan situasi yang canggung ini.

"Permisi pak, sudah ditunggu di ruang meeting."

Rayan mengangguk dan menyuruh Regita untuk pergi terlebih dahulu, Rayan akan menyusul setelahnya.

"Kita bicara lagi nanti bu, ada rapat yang harus Rayan hadiri." Pamit Rayan.

*****

Anye sedang duduk di taman belakang fakultasnya, ditangannya ia sedang memegang buku Perekonomian Indonesia. Anye memang menyukai membaca di tempat terbuka seperti ini.

Saat ini ia sedang menunggu mata kuliah selanjutnya yang berlangsung pada pukul 11 saat ini masih pukul 9.30 masih ada 1 setengah jam lagi.

"Nih minum dulu" Yerina tahu-tahu menyodorkan sebotol minuman dingin kepada Anye.

"Makasih yah" Anye membuka tutupnya dan menenggak minuman dingin itu.

"Yer besok bisa temenin aku nggak?"

"Kemana emangnya?"

"Cari kost-kostan deket kampus." Jawab Anye.

Anye memang berencana secepat mungkin untuk pindah. Ia ingin mencari kostan dekat kampus agar lebih mudah tidak perlu menggunakan kendaraan umum lagi.

"Serius nih mau ngekost? Emang papa kamu udah ngizinin?"

"Aku belum bilang sama orang rumah. Tapi pasti di bolehin kok, mungkin malah papa dan tante Rianti seneng aku ninggalin rumah." Ringis Anye, ia sebenarnya sedikit malu mengatakannya. Tapi memang benar mama tirinya itu pasti senang Anye pergi dari rumah.

Sementara Yerina hanya bisa maklum, ia sangat tahu hubungan Anyelir dan kedua orang tuanya memang tidak baik-baik saja.

"Kak Haikal pasti nggak setuju kamu ninggalin rumah."

"Nggak papa lagian dia juga gak ada di Jakarta, jadi nggak bakalan bisa ngelarang aku." Anye paham seperti apa kakaknya itu, sudah pasti dia akan marah-marah dan melarang Anye pergi dari rumah. Tapi untung saja saat ini Haikal masih berada di Singapura.

"Oke. Tapi agak siangan yah, besok aku mau nganterin abang dulu ke bandara."

"Oke." Anyelir mengiyakan.


ANYELIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang